
"Arya Prana.., apakah perjalanan kita ini masih jauh?" Tanya Permaisuri Galuh Cendana sambil menyingkapkan kain sutra menutup tingkap di kereta kuda yang dia naiki itu.
"Gusti Permaisuri, perjalanan kita ini cukup jauh. Diperkirakan, kita akan tiba di pintu masuk kita raja dalam dua hari perjalanan lagi," jawab Arya Prana yang tidak jauh dari kereta kuda yang dinaiki oleh junjungan nya itu.
"Apakah Gusti Permaisuri kelelahan? Di depan sana ada sebuah lurah yang memiliki air jernih dengan hutan yang tidak begitu lebat. Kita bisa beristirahat di depan hutan sana untuk sekedar memberikan kuda-kuda tunggangan kita untuk minum dan merumput. Hamba sengaja membawa jalan berputar agar kita tidak bertemu dengan prajurit Paku Bumi. Kemungkinan mereka juga saat ini sedang menuju ke kerajaan Galuh," kata Senopati Arya Prana mengemukakan alasannya untuk sengaja mengikuti jalan berputar agar tidak sempat bertembung dengan pasukan Jaya Pradana yang saat ini sebenarnya memang sedang bergerak menuju kadipaten Karang Kencana.
Begitu tiba di pinggiran hutan itu, Senopati Arya Prana langsung meminta izin kepada Pangeran Indra Mahesa untuk menghentikan perjalanan mereka bagi memberi kuda tunggangan mereka untuk beristirahat.
Para rombongan yang terdiri dari para istri punggawa, Permaisuri, dan seratus orang prajurit itu kini langsung bergegas memasuki pinggiran hutan lalu membuat tenda darurat untuk para wanita termasuk sang Permaisuri.
Terasa sejuk seketika mereka memasuki hutan itu. Maklum, siang ini matahari bersinar sungguh sangat terik sekali.
__ADS_1
Selesai dengan tenda, mereka lalu mempersilahkan Permaisuri Galuh Cendana untuk menempati tenda khusus itu sambil didampingi oleh Arimbi dan dua orang dayang lainnya.
"Ibunda, ananda mohon diri dulu untuk berburu sebentar di hutan ini. Syukur-syukur bisa mendapatkan kijang atau kelinci untuk santapan kita di hutan ini," kata Pangeran Indra Mahesa meminta izin
"Pergilah putra ku. Semoga kau mendapatkan binatang buruan," kata sang Permaisuri sambil tersenyum.
Mendapat izin, pangeran Indra pun langsung keluar dari tenda itu sembari meminta busur dan sekantong anak panah kepada prajurit.
"Paman Senopati. Hutan apa ini namanya? Apakah ini termasuk dalam kawasan kerajaan Galuh?" Tanya Pangeran Indra Mahesa.
"Hutan ini bernama hutan watu Sewu. Ini memang masih termasuk dalam kawasan kerajaan Galuh. Di bagian selatan hutan ini, adalah kerajaan Garingging. Kita bisa memasuki kawasan kerajaan Garingging apabila kita melewati bukit di depan sana itu!" Tunjuk Senopati Arya Prana ke sebuah bukit yang menjulang tinggi di depan mereka.
__ADS_1
Memang bukit itu terlihat dekat. Namun, jika benar-benar ingin ke sana, butuh setengah hari perjalanan berkuda.
"Ssssst..! Pangeran. Apakah pangeran melihat itu?" Tanya Panglima Rangga sambil menunjuk ke arah sepasang rusa yang sedang memakan rumput.
"Benar, Panglima," jawab Pangeran Indra Mahesa sembari mengeluarkan sebatang anak panah dari kantong yang tersandang di bahu nya.
Baru saja dia akan menarik tali busurnya, ternyata rusa itu menyadari akan bahaya, sehingga lari menjauh dari tempatnya semula.
"Lari, Paman!" Kata Pangeran Indra Mahesa sembari bangkit berdiri lalu bersiap mengejar.
Mereka lalu bergerak mengejar ke arah larinya rusa tadi sehingga hampir sampai ke pinggiran hutan di bagian selatan.
__ADS_1