Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Pertarungan Larkin melawan Pratisara


__ADS_3

Kelima penunggang kuda itu kini berhenti tepat di depan para prajurit yang kini sudah bersiap untuk melakukan pengejaran terhadap pasukan prajurit dari Paku Bumi menyebabkan mereka berhenti sejenak lalu saling pandang.


"Apa maksud mu menghalangi kami, Larkin?" Tanya salah satu dari perwira yang tadi saling berdebat dengan Pratisara.


"Apakah kalian masih menggunakan otak kalian berfikir secara jernih?" Seru Larkin balik bertanya.


"Hei, Larkin! Penghianat bangsat. Masih punya muka juga kau rupanya hah? Aku akan membunuh mu jika kau menghalangi kami untuk mengejar pasukan Paku Bumi yang telah melarikan diri,"


"Pratisara. Penghianat teriak penghianat,"


"Dengarkan wahai kalian semua. Para prajurit yang dipimpin oleh Raka Pati hanya berpura-pura kalah. Sebenarnya kalian sudah di tunggu di hutan menuju kadipaten Karang Kencana. Mereka telah memasang jebakan di sana. Apa kalian ingat tentang jebakan yang mereka buat untuk menjebak para prajurit Setra kencana? Orang buta pun tidak akan mau jatuh ke dalam lubang yang sama sebanyak dua kali. Kalian tidak buta, juga tidak bodoh!" Kata Larkin berusaha untuk menjelaskan kepada mereka.


Dalam hati dia berdoa semoga saja bisa mengulur waktu agar kelima bersaudara dari Banten itu berhasil bertemu dengan Pangeran Indra Mahesa lebih cepat di hutan bambu. Dengan begitu, dia akan berusaha mengulur waktu agar rombongan Pangeran Indra Mahesa sempat tiba di kadipaten Gedangan ini.


Mendengar penjelasan dari Larkin ini, para prajurit kerajaan Galuh mulai ragu. Namun tidak sedikit yang menginginkan agar mereka melakukan pengejaran.


"Larkin! Apa kau punya bukti bahwa mereka memang membuat jebakan? Jika kau tidak bisa membuktikan, maka sebaiknya tutup mulut mu. Aku tidak meminta pengecut seperti mu untuk ikut mengejar. Kembali lah dan tidur nyenyak bersama istri mu sebagai pengecut!" Bentak Panglima Pratisara yang saat ini mulai gelisah.


"Kau adalah seorang Panglima perang, wahai Pratisara. Tapi cara berfikir mu sama dengan pemikiran rakyat jelata yang sama sekali tidak mengetahui siasat di medan tempur. Kau ingin bukti? Apa mereka ini harus mati semua baru kau percaya? Yang benar saja, wahai Pratisara! Lihat prajurit yang gugur itu! Berapa jumlah prajurit kerajaan Galuh dan berapa jumlah prajurit dari Paku Bumi yang gugur? Kita mengalami kekalahan, tapi mereka yang melarikan diri. Apa itu masuk akal jika bukan suatu jebakan? Mereka saat ini memancing kalian untuk keluar dari gerbang, padahal Gusti Pangeran sendiri telah melarang kalian untuk melakukan perang terbuka. Apa itu tidak melanggar perintah?" Kata Larkin dengan perkataan yang sangat menohok bagi Pratisara.


"Jangan percaya kepada bangsat penghianat ini! Dulu ketika kami di serang oleh prajurit Paku Bumi, bangsat ini melarikan diri dengan cara yang sangat pengecut," kata Pratisara semakin gigih memojokkan Larkin.


"Kau menyalahkan aku, Pratisara? Kau adalah panglima tertinggi ketika itu. Kau kalah lalu menyalahkan aku? Sebenarnya untuk apa kau berada dalam pasukan dan menjadi pemimpin nya? Kalau hanya lempar batu sembunyi tangan, lebih baik kau berhenti jadi pemimpin prajurit!" Bantah Larkin dengan senyum yang sangat merendahkan.


"Wahai para prajurit kerajaan Galuh. Siapa yang meminta kalian untuk keluar dari benteng dan melakukan peperangan terbuka? Apakah itu Pratisara, Adipati Rakai langit atau atas kemahuan kalian sendiri?" Tanya Larkin.

__ADS_1


Hening. Tidak ada yang bisa menjawab.


"Kurang ajar kau Larkin!" Kata Panglima Pratisara sambil mencabut pedangnya kemudian melesat ke arah Larkin yang sejak dari tadi memang ingin memancing kemarahan panglima Pratisara untuk mengulur-ulur waktu.


*********


Sosok panglima Pratisara kini laksana seekor elang yang siap menerkam mangsanya meluruk deras ke arah Larkin dengan pedang terhunus.


Tak mau hanya pasrah menerima serangan yang dapat merenggut nyawa nya itu, Larkin pun segera menghunus pedangnya lalu melompat dengan ringan dari punggung kudanya kemudian menyongsong lesatan tubuh panglima Pratisara.


Ting!


Suara besi beradu bergema di memantul di dinding benteng tersebut sehingga memekakkan telinga.


Kini tampak Panglima Pratisara dan Larkin dengan posisi saling membelakangi dengan sedikit terbungkuk akibat beradu senjata yang dialiri dengan tenaga dalam tingkat tinggi itu.


Tidak sampai beberapa kedipan mata, kini kedua prajurit beda jabatan itu kembali membalikkan badan dan melesat kembali mengirim serangan.


Sekali lagi dentingan suara besi beradu kembali memekakkan gendang telinga dibarengi percikan bunga api.


Kali ini kedua lelaki ini saling bernafsu untuk menjatuhkan lawannya masing-masing untuk menyudahi pertarungan ini.


Debu di medan laga itu kini membumbung tinggi di udara sehingga menghalangi pandangan mata dari seluruh prajurit yang berada di luar benteng itu.


Kini yang terdengar hanya teriakan dan dentingan dari kedua pedang yang berada di tangan masing-masing.

__ADS_1


Lebih dari sepeminuman teh keadaan seperti ini berlaku dan sepertinya belum ada tanda-tanda kalau perkelahian ini akan berakhir dalam waktu singkat.


"Ayo Larkin! Tunjukkan kehebatan mu! Jangan hanya menghindar saja!" Teriak Panglima Pratisara sambil terus mengirim tebasan dan tusukan yang mengarah ke bagian tubuh Larkin di bagian yang mematikan.


"Mengapa? Kau ingin segera mengakhiri pertarungan ini supaya kedok mu tak terbongkar? Hahaha. Kau jangan bermimpi, Pratisara!" Ejek Larkin membuat darah Panglima Pratisara semakin kian mendidih.


"Hiaaaaah!"


Duar!


Terdengar teriakan dan dentuman suara. Tak lama setelah itu tampak dua sosok tubuh saling terpental ke arah yang berlawanan meninggalkan gelanggang pertarungan.


Tampak Panglima Pratisara berjumpalitan di udara dan jatuh terduduk di tanah berdebu. Sedangkan Larkin tampak melayang lalu jatuh terlentang dengan telapak tangan berubah warna kehitaman.


Darah segar kini menyembur keluar dari mulut Larkin yang menandakan bahwa prajurit yang difitnah sebagai pengkhianat ini sedang terluka dalam yang cukup parah.


Dengan bertumpu pada pedangnya yang tertancap di tanah, Larkin berusaha untuk bangkit. Namun sekuat apapun usahanya, dia tetap tidak mampu dan kembali tergeletak di tanah.


Sementara itu, Panglima Pratisara yang juga terjatuh tampak tidak terlalu mengalami cedera yang parah walaupun ada darah segar yang meleleh dari sudut bibirnya.


Dengan sangat ringan sekali, panglima Pratisara kini melompat bangkit lalu berkacak pinggang di depan Larkin yang tampak megap-megap sambil sesekali terbatuk darah.


"Kau tau siapa Lawan mu, Larkin? Sekarang, ucapkan selamat tinggal kepada dunia!" Bentak Panglima Pratisara kemudian mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk menebas leher Larkin.


Namun, belum lagi dia menebaskan pedangnya ke leher Larkin, keempat penunggang kuda yang tadi bersama dengan Larkin segera menyerang secara bersamaan membuat Panglima Pratisara batal mengakhiri hidup Larkin.

__ADS_1


"Kalian empat orang bawahan Sadewa yang tidak tau diri. Jangankan hanya kalian berempat. Berlima dengan pemimpin kalian pun tidak akan sanggup mengalahkan ku," bentak Panglima Pratisara lalu melesat ke arah si penyerang dan membabat kaki depan kuda dari prajurit bawahan Sadewa itu sehingga kuda itu terjerumus di tanah berdebu menyebabkan penunggangnya pun ikut menyungsap.


__ADS_2