Pangeran Tanpa Mahkota

Pangeran Tanpa Mahkota
Pengepungan di perbatasan lembah jati


__ADS_3

Seiring dengan rencana Gusti Prabu Rakai Galuh untuk mengosongkan kadipaten Karang Kencana kemudian mendirikan benteng pertahanan di kadipaten Gedangan, maka ke-lima orang prajurit yang di utus oleh Gusti Prabu Rakai Galuh untuk mengirim pesan kepada permaisuri Galuh Cendana di lembah jati yang dipimpin oleh prajurit menengah bernama Larso kini telah berangkat meninggalkan lembah jati untuk segera kembali ke kerajaan Galuh.


Kembalinya Larso beserta rombongan ini sekaligus membawa kabar tentang putra mahkota kerajaan Sri Kemuning itu yang ternyata masih hidup yaitu cucu dari Sri Baginda Gusti Prabu Rakai Galuh sendiri.


Saat ini, sambil ditemani oleh Wiguna, ke-lima prajurit itu berhasil keluar dari kawasan hutan kemudian menuju ke desa Waringin yang telah kosong itu untuk terus melakukan perjalanan ke kerajaan Galuh mengikuti lorong jalan di lembah curam yang telah mereka pasang jebakan.


"Larso. Sampai di sini saja aku mengantar mu. Kau bisa pulang sendiri dengan mengikuti jalan pinggiran tebing itu. Jangan melalui kadipaten Pitulung. Ini karena, kadipaten itu telah hancur. Aku khawatir jika nantinya kalian malah bertemu dengan prajurit Paku Bumi," kata Wiguna memperingatkan.


"Terimakasih Kakang Wiguna. Kalau begitu, kami izin pamit dulu!" Kata Larso sambil menjura hormat.


"Hati-hati di jalan. Sampaikan salam ku kepada Panglima Pratisara jika kau bertemu dengan nya!" Pesan Wiguna sambil menepuk pundak Larso.


"Baiklah. Kami berangkat dulu!" Kata Larso sambil melompat menunggang kudanya.


Mereka lalu berpisah di pinggiran hutan lembah jati ini. Larso bersama dengan keempat bawahannya berangkat menuju kerajaan Galuh, sedangkan Wiguna kembali masuk ke dalam hutan.


"Hiaaah.., hiaaah.., hiaaah!"


Terdengar mereka menggebah kuda tunggangan mereka agar segera meninggalkan perbatasan lembah jati ini. Namun belum lagi mereka menuju jalan setapak untuk menuju jalan lembah yang dikatakan oleh Wiguna tadi, tiba-tiba...,


Wuzzzz!


Slap!


"Aaaaa...!"


Terdengar jeritan dari seorang prajurit yang menunggang kuda paling belakang.


Sejenak lelaki itu menyeringai kesakitan lalu ambruk dengan sebatang anak panah menancap di punggung nya.


"Heh. Sangobion! Kau kenapa?"


Mereka kini saling berpandangan ketika menyaksikan sebatang anak panah telah merenggut nyawa sahabat mereka itu.


Lalu, dari jarak sepelontaran batu, tampak para prajurit dari Paku Bumi telah mengelilingi mereka.


Ada yang keluar dari semak-semak, ada pula yang keluar dari balik rerimbunan pohon.


"Celaka kakang Larso. Kita telah di kepung!" Kata salah seorang dari prajurit yang seperjalanan dengannya itu.

__ADS_1


"Hahaha. Ternyata benar dugaan Gusti Raka Pati. Hutan di lembah jati ini memiliki hubungan dengan kerajaan Galuh,"


Tampak salah satu dari ratusan orang berpakaian Prajurit dari Paku Bumi itu tertawa terbahak-bahak.


"Maaf kisanak. Kami sedang melakukan perjalanan. Harap anda berkenan memberi jalan kepada kami!" Kata Larso sambil menjinakkan kudanya yang tadi sempat terkejut.


"Hanya ada satu jalan untuk kalian. Yaitu, mampus!" Kata lelaki yang tertawa tadi.


"Apa maksud mu Kisanak? Apakah kalian ingin merampok kami?"


"Puih! Merampok katamu? Tidak ada yang berharga pada dirimu selain nyawamu. Aku akan membunuh kalian di sini lalu mengirim mayat kalian ke kota raja kerajaan Galuh sebagai peringatan keras untuk Rakai Galuh agar tidak main-main dengan prajurit Paku Bumi!"


"Kurang ajar. Kau berani menghina Gusti Prabu junjungan kami? Aku mengadu nyawa dengan mu!" Kata Larso lalu melompat dari kudanya kemudian langsung melesat memberikan serangan kepada laki-laki tadi.


Pertarungan yang tidak seimbang pun terjadi antara empat orang prajurit dari kerajaan Galuh melawan puluhan bahkan ratusan orang prajurit dari Paku Bumi.


Sambil melayani empat orang prajurit dari Kerajaan Galuh itu, sebagian dari mereka lalu membuat lingkaran lalu mempersempit ruang gerak bagi Larso dan kawan-kawan nya yang tidak memiliki pilihan lagi selain berjuang sampai mati.


"Hiaaat..!"


Ting.., ting.., ting.., ting..!


Sudah terhitung lima orang prajurit yang tewas di tangan Larso yang ketika ini menyerang seperti banteng terluka.


Melihat telah hampir selusin prajurit yang dia pimpin mulai bertumbangan, kini lelaki yang mengetuai mereka ini mulai berteriak. "Mundur kalian semua! Bangsat ini bagian ku!" Kata ketua pasukan itu lalu melompat ke tengah-tengah gelanggang tarung.


Streeeet!


Terdengar suara besi terseret ketika lelaki itu mencabut pedangnya.


"Lihat serangan!" Bentak lelaki itu kemudian menebaskan pedangnya ke arah Larso.


"Hiaaat!"


Ting.., ting.., ting!


Pertarungan yang seru dan seimbang akhirnya pecah juga antara kedua ketua dari prajurit beda kerajaan ini.


Sesekali tampak Larso menyerang, namun ketika lawannya membalas, tampak pula Larso bertahan sekuat tenaga.

__ADS_1


"Haaaiiit!"


Wuzzz..!


"Hiaaat!"


Kini tampak Larso pontang-panting menahan gempuran dari lelaki tadi hingga membuatnya terpojok diantara akar pohon kayu yang besar.


"Puih! Pengecut! Apa memang seperti ini mental para prajurit Paku Bumi. Beraninya cuma main keroyokan?"


"Hahaha. Yang terpenting adalah kemenangan. Persetan dengan istilah ksatria atau apapun itu. Karena, kau hanya dikenang ketika menang. Bukan di saat kau kalah. Sekarang, bersiaplah menerima kematian mu!" Kata lelaki itu sambil tertawa mengejek penuh rasa kemenangan.


"Larkin! Selamatkan diri mu! Setidaknya salah satu dari kita harus selamat untuk memberi kabar kepada Baginda Prabu. Kemudian salah satu dari kalian harus memberi kabar ke lembah jati untuk memberitahu bahwa perbatasan desa Waringin ini telah di kepung oleh prajurit bangsat Paku Bumi!" Teriak Larso.


"Lalu kakang?" Tanya Larkin di sela-sela pertarungannya dengan para prajurit Paku Bumi.


"Jangan hiraukan aku. Cepatlah!" Bentak Larso sambil terus memberi perlawanan kepada kepala pasukan pengepung itu.


Tampak kini darah menetes dari ujung-ujung jemari tangan Larso hingga membasahi gagang pedang yang berada di dalam genggamannya.


Sementara itu, setelah memberikan perlawanan mati-matian, Larkin kini berhasil memecah kepungan musuh kemudian dengan mengempos ilmu meringankan tubuhnya, dia berhasil melompat kemudian bersalto menghampiri kudanya lalu segera memukul kantong kemenyan kuda tersebut hingga membuat kuda itu meringkik kesakitan dengan kaki depan terangkat ke atas. Setelah itu, kuda itu menghambur berlari seperti kesetanan.


"Kurang ajar! Jangan biarkan mereka lolos!" Bentak lelaki tadi disela-sela pertarungannya.


Melihat ini, kini para prajurit pemanah mulai melepaskan anak panahnya lalu melesat lah ratusan panah ke arah satu tujuan, yaitu kearah larinya Larkin tadi.


Wuzzz


Wuzzz


Wuzzz!


"Aaaaa...!"


Terdengar jeritan salah seorang dari prajurit yang mencoba melarikan diri.


Kini di tubuhnya tampak puluhan anak panah menancap sehingga tubuh sang prajurit berubah bentuk seperti landak yang ditumbuhi duri-duri akibat puluhan anak panah yang menancap di tubuhnya itu.


Beruntung bagi Larkin, karena hanya satu anak panah saja yang menancap di pinggangnya. Namun, itu belum bisa dikatakan tidak berbahaya andai anak panah itu mengandung racun yang ganas.

__ADS_1


__ADS_2