
"dalam kecelakaan itu Kimi tidak terluka cukup parah di wajah akhirnya kami memutuskan untuk operasi seizin Kimi dengan begitu keluarga ayahnya tak mengenali. dan setelah sembuh Kimi ikut tinggal bersama kami."
" Kimi tahu."
" tahu dan dia benar-benar nggak mau tahu ataupun ketemu keluarga ayahnya. kenapa bang Abang suka sama Kimi." tanya Ara.
" kamu ada-ada aja dek, Kimi itu gadis cantik, baik, pintar dan juga manis mana mau sama Abang yang seorang duda. lagi pula usia Abang dan Kimi terpaut jauh dek."
" terus kenapa Abang pingin tahu tentang Kimi."
" ya Kimi kan sedang magang di kantor dan Abang kan mesti tahu tentang karyawan Abang."
" yakin cuma karena itu padahal kalau Abang ada hati sama Kimi Ara siap bantu loh." Ara menatap bang Faris yang sedang salah tingkah.
" ehmm... sebenarnya Abang sudah tertarik sama Kimi saat Kimi datang pas kamu mau nikah dengan Tama."
" apa yang Ara bisa bantu."
" Abang binggung." Ara yang tahu kebingungan abangnya dan dia bertekad mau membantu abangnya.
" ya udah nanti Ara bantu cari tahu kalau ada lampu hijau baru Abang yang berusaha sendiri."
" serius kamu Ra."
" iya Ara serius."
" kamu memang adik terbaik Abang." Ara hanya tersenyum melihat tingkah Abangnya.
saat ini Ara sedang berada di tempat tidur bersama dengan mas Tama. mas Tama terus saja mengusap perut Ara yang masih rata. tiba-tiba ponsel Ara berdering dan terlihat Riko video call. setelah mendapat persetujuan sang suami Ara pun mengangkat penggilan video dari Riko.
__ADS_1
" assalamualaikum Ra, apa kabar?"
" walaikum salam, Alhamdulillah baik ko. loe sendiri gimana kabarnya?"
" Alhamdulillah baik."
" ada tumben telpon."
Riko hanya nyengir kuda.
" cepetan ada apa?."
" Ra bantuin gue dong."
" bantuin apa?."
" bilangin ke Sheila kalau gue serius sama dia. bilangin juga ke dia kalau dia bukan pelarian gue karena putus dari Dita."
" demi Allah Ra, kalau gue mau jadiin Sheila pelarian gue kenapa nggak dari dulu aja kenapa baru sekarang."
" tapi loe sudah yakin sama hati loe."
" yakin Ra, gue yakin sama hati gue asal loe tahu dulu dia gak telpon atau chat gue biasa aja gue. tapi sekarang sehari gue nggak tahu kabarnya rasanya gue pengen langsung terbang ke Indonesia Ra."
" ko kalau loe yakin sama Sheila loe langsung datangi orang tuanya bilang niat baik loe. pasti Sheila akan melihat bahwa loe sungguh-sungguh sama dia." bukan Ara yang jawab tapi mas Tama yang memang sedang berada di samping Ara.
" tapi aku takut di tolak mas."
" ya itu resikonya? setidaknya kita sudah berjuang." jawab mas Tama lagi.
__ADS_1
" betul ko, loe tenang aja kita semua ngedukung loe. bahwa kak Audrey setuju loe sama Sheila. sebetulnya berapa hari yang lalu Sheila sempat cerita kalau loe ngajakin serius cuma dia masih ragu. ide loe minta langsung ke orang tuanya itu hal yang bagus pokoknya gue dukung."
" oke deh gue bakal ngikutin saran loe."
" kapan loe pulang ko?."
" dua Minggu lagi kayanya kenapa kangen ya sama gue."
" nggak gue pengen makan moci dari sana."
" kenapa loe ngidam loe?."
" iya."
Riko tertawa
" gue serius ko gue lagi hamil enam Minggu."
" selamat ya bumil, wah anak loe udah mau tiga gue kawin aja belum. siap bumil nanti di beliin mau apalagi nanti chat aja ya pasti gue bawain."
" oke."
panggilan video call dengan Riko pun terputus.
" mas kayanya aku mesti buka praktek sesi curhat." ucap Ara.
" maksud kamu."
" tadi kak Audrey curhat tentang Sheila dan Riko dia juga minta tolong biar Sheila mau Nerima Riko, trus bang Faris curhat kalau dia tertarik sama Kimi tapi dia nggak percaya diri karena perbedaan umur dan juga status bang Faris yang duda, nah barusan Riko."
__ADS_1
" kamu ada-ada aja, udah yuk tidur bumil nggak baik tidur malam."