
Berapa hari ini Ara mengurung diri di kamar dan tak mau bertemu dengan siapa-siapa. Ara benar-benar marah kepada seluruh keluarganya.
Hari ini pengacaranya Ara datang memberikan berkas ke Ara. Hari ini Ara akan memutuskan untuk bercerai dari suaminya dan meninggalkan rumah.
Dirinya sungguh kecewa karena keluarga besarnya masih meneruskan rencana pernikahan Devin dan wanita itu. Ara yang merasa sudah tidak di hargai merasa mantap untuk bercerai.
Karena tak ada tanda-tanda mereka untuk mempertimbangkan. Malam ini mereka semua sudah berkumpul untuk menyiapkan acara pernikahan Devin besok. Tanpa memperdulikan Ara yang melahirkan mereka.
Sedangkan mereka memilih untuk membiarkan Ara dan meneruskan pernikahan Devin. Demi menyelamatkan seorang gadis bernama mayang yang tidak tahu datangnya dari mana. Mereka berpikir Ara pasti akan menerima semua itu kalau pernikahan ini sudah terjadi.
Tapi mereka lupa Ara yang melahirkan Devin, Ara mempunyai ikatan batin terhadap anak-anaknya. Ara yang mempunyai firasat yang tidak baik dari wanita yang akan di nikahi oleh anaknya. Dia pun bekerja kerja agar anaknya tidak menikahi wanita itu. Tapi sepertinya itu sia-sia saja.
Ara meminta bibi untuk membawa kopernya ke dalam mobil milik Ara. Bibi pun yang mendapat perintah langsung membawa koper milik Ara.
Saat bibi menuruni tangga semua mata memandang Ara bibi.
" Bi itu koper siapa?." Tanya Mami Sherly.
" Ini kopernya ibu di suruh masukin ke dalam mobil katanya." jawab bibi.
" Ara mau kemana bi?." Tanya mami Sherly lagi.
" Saya nggak tahu nyonya saya cuma di suruh bawa ke mobil aja. Saya permisi dulu." pamit bibi.
Semua mata langsung menatap ke Tama seolah meminta penjelasan. Bagaimana bisa putranya besok akan menikah tapi mamanya malah pergi.
Tak lama Ara turun ke bawa sudah berpakaian rapi.
__ADS_1
" Nak kamu mau kemana bawa koper segala. Besok Devin nikah loh kok kamu malah pergi." ucap mami.
" Apa ada pengaruhnya ada aku atau nggak ada?. anggap aja aku sudah nggak ada bereskan." Ucap Ara santai.
Semua orang kaget dengan jawaban Ara.
" Oh iya aku Harap mas segera menanda tangani surat perceraian kita. Tenang aja aku nggak minta apa-apa Aku akan pergi meninggalkan semuanya." Ucap Ara sambil memberikan amplop coklat ke mas Tama.
Semua kaget mendengar nya.
" Mami dan papi sehat-sehat ya. Untuk Fasya dan Caca jangan manja dan jangan cari mama."
" Yang kamu apa-apaan sih seenaknya ngambil keputusan begini. Sampai kapan pun aku nggak akan menceraikan kamu." Ucap Mas Tama marah sambil menarik tangan Ara.
" Kenapa aku nggak boleh ngambil keputusan? . Sedangkan kalian seenaknya saja mengambil keputusan mengenai pernikahan Devin. Padahal aku ibu kandungnya jelas-jelas tidak merestui mereka."
" Ini juga demi aku yang nggak sanggup melihat kehancuran keluarga aku. Makanya aku memilih pergi, Jadi mulai hari ini anggap aja aku sudah nggak ada. Dan kamu selamat menjadi nyonya besar keluarga Mahesa dan Wijaya sesuai rencana kamu.' Ucap Ara menatap tajam Mayang.
" Yang kamu jangan kaya anak kecil begini."
" Iya aku memang anak kecil. Selamat malam." Ara pun langsung bergegas pergi.
Saat mas Tama , Devan dan Devin akan mengejar Ara tiba-tiba mami jatuh pingsan. Jadi mereka pun menolong mami terlebih dahulu.
Sedangkan Ara langsung melaju mobilnya pergi meninggalkan semuanya. Sedih harus meninggalkan semuanya tapi dirinya sangat sakit hati dengan semuanya yang tak menganggap dirinya.
Ara berniat akan tinggal terlebih dahulu di apartemen yang dia sewa di pinggiran kota setelah proses perceraian selesai baru dia akan memulai hidup di kota lain.
__ADS_1
Semua Langsung membawa mami ke rumah sakit, Beruntung mami di bawa tepat waktu karena mami terkena serangan jantung.
Mayang yang was-was akan gagalnya pernikahannya dengan Devin besok. Mayang pun mendekati Devin yang sedang duduk menyendiri.
" Vin rencana besok bagaimana?."Tanya Mayang takut-takut.
" Terpaksa kita tunda dulu.'
" kenapa harus di tunda."
" Kamu nggak lihat Oma aku kena serangan jantung, Belum lagi mama tiba-tiba menggugat cerai ayah padahal aku tahu banget bagaimana rumah tangga mereka Dan mama juga malah memilih pergi.' Ucap Devin sedih.
" Tapi kalau besok di tunda bagaimana nasib aku."
" Kamu mikirin nasib kamu sama aku juga sekarang mikirin nasib aku dan keluarga aku. Aku nggak tahu nasib Oma ketika sadar nanti ternyata anaknya pergi. Terus bagaimana nasib keluarga aku yang tiba-tiba jadi berantakan."
" Tapi kan itu sudah keputusan mama kamu dan nggak ada sangkut pautnya sama pernikahan kita. Kita bisa tetap menikah besok nggak apa-apa cuma ijab kabul aja yang penting aku sah menikah sama kamu secara agama dan negara." Desak Mayang.
Devin yang sedang bersedih sontak langsung emosi mendengar Mayang terus mendesak untuk di nikahi besok. Padahal saat ini Keluarganya sedang di ambang kehancuran. Dan itu semua karena dirinya yang kekeh menolong Mayang.
" Kamu punya otak nggak sih masih bisa-bisanya mendesak aku harus nikahi kamu besok. Kamu nggak lihat Oma aku lagi sakit dan kamu juga nggak lihat tiba-tiba mama aku menggugat cerai ayah aku dan pergi meninggalkan rumah. Kamu masih bisa-bisanya memikirkan pernikahan." teriak Devin emosi.
Semua mata langsung menuju ke Devin dan Mayang.
" Tapi kan Mama kamu yang ingin bercerai." Ucap Mayang
Plak...
__ADS_1
Satu tamparan mendarat di pipi Mayang.