Perjalanan Cinta Naura

Perjalanan Cinta Naura
132


__ADS_3

Devin nyelonong masuk kamar Devan, Devan yang sedang membaca buku melihat Devin masuk tanpa ketok pintu dulu langsung menatap tajam sang adik. sedangkan Devin langsung mendapat tatapan tajam sang Abang sedikit takut tapi karena dia ingin ngasih tahu sang Abang sesuatu Devin yakin abangnya nggak akan marah.


" sorry...., jangan lihat gue kaya gitu gue mau ngasih berita bahagia buat Lo bang." ucap Devin sambil cengengesan.


" apa." jawabnya datar


" gue tadi turun ke bawah mau ambil minum terus gue lihat mama sama ayah lagi Videocall om langit sama Tante dara. om langit minta tolong cariin rumah kontrakan yang nggak jauh dari sini katanya terus ayah nyuruh nempatin rumah yang di dekat rumah Tante Sheila."


" buat apa om langit nyari rumah kontrakan?." potong Devan.


" om langit di pindah tugas ke sini di polres dekat sini kalau nggak salah."


" cuma om langit doang yang pindah." Devan sedikit kepo.


" gak semuanya, om langit minta tolong sama mama buat daftarin sekolah bintang di tempat kita soalnya kan bintang udah kelas tiga jadi kalau dia satu sekolah dengan kita, kita bisa bantu bintang "


" kok bintang gak bilang sama Abang."


" ya mana gue tahu kan Lo pacarnya bintang kenapa nanya gue ?."


" kapan mereka pindah?."


" hari Minggu katanya sih, udah ah gue mau ke kamar gue mau tidur ngantuk."


iya Devan pacaran dengan bintang anaknya langit adiknya tama. baik keluarga besar Ara, keluarga besar Dafa dan keluarga besar mas Tama tak masalah karena bintang dan Devan tak punya hubungan darah jadi sah saja kalau mereka pacaran.


Setelah mendapat berita dari Devin, Devan langsung menelpon bintang.


" halo, assalamualaikum."


" walaikum salam, ada apa Van kok tumben telpon lagi."


" jadi aku nggak boleh telpon kamu lagi gitu."


" bukan gitu."


" kamu kenapa nggak cerita kalau mau pindah ke sini."


" oh soal itu, aku juga baru dikasih tahu papa kalau papa di pindah tugaskan ke sana. ini aku baru aja masuk kamar setelah di beritahu dan sekarang aku mau sedikit-sedikit beresin barang yang akan di bawa pindah."


" oh ya udah kalau gitu, assalamualaikum."


" walaikum salam."


" ihs... nyebelin telpon cuma mau bilang itu aja." oceh bintang.


Pagi hari Devan dan Devin keluar kamar bersamaan, mereka turun kebawah dan langsung menuju meja makan.


" pagi mah," sapa mereka berdua.

__ADS_1


" pagi juga ayo duduk dan langsung sarapan."


" pagi semua, " mas Tama baru datang memakai baju santai tapi rapi sepertinya akan pergi


" ayah mau kemana?." tanya Caca sang putri.


" oh ayah sama mama mau pergi ngurus pindahan anak - anak om langit."


" wah, Aurora juga bakal pindah yah."


" iya,"


" asik Aurora sekolah di tempat Caca aja yah."


" iya Aurora akan sekolah di tempat kamu. sudah ayo cepat makannya terus berangkat ke sekolah. " ucap mas Tama


Langit mempunyai lima orang anak dua laki-laki dan tiga perempuan, yang pertama bernama Bimasakti saat ini sedang mengikuti Akpol, bintang anak keduanya saat ini duduk di kelas tiga atau dua belas SMA, yang ketiga Bellaetrix saat ini duduk di bangku kelas satu SMA atau kelas sepuluh. yang ke empat bernama Orion dia duduk kelas delapan SMP, dan si bungsu Aurora dia seumuran dengan Caca.


Setelah anak-anaknya berangkat ke sekolah, Ara pun langsung bersiap-siap untuk pergi mengurus kepindahan sekolah keponakan mereka.


" Sayang, kita mau kemana dulu. " tanya mas Tama ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


" ke sekolah Caca aja daftar Aurora sekalian juga daftar Orion." jawab Ara.


" untung di sana sekolahnya dari TK sampai SMP jadi kita nggak pusing. lagian langit doyan banget sih buat anak." gerutu mas Tama.


" bukan gitu sayang lagian langit punya anak sampai lima."


" oh kamu nggak ngitung anak kamu ada berapa?. dan mulai saat ini jatah kamu hanya sebulan sekali."


" iya ya anak kita aja udah empat ya." jawab mas Tama sambil garuk-garuk kepala.


" eh... tunggu sayang tadi apa kata kamu jatah aku cuma sebulan sekali, mana bisa gitu yang. sekarang aja kamu cuma kasih aku jatah seminggu tiga kali aja udah bikin pala aku pening apa lagi sebulan sekali." protes mas Tama.


" kan tadi mas Tama yang bilang kalau langit doyan banget bikin anak, berarti mas nggak dong jadi jatah mas cuma sebulan sekali." ucap Ara sambil tersenyum dia yakin suaminya bakal merengek nggak mau jatahnya di kurangi.


" bukan berarti mas nggak doyan yang pokoknya nggak ada ya peraturan kaya gitu. jatah mas tetap awas kamu kamu ngurangin jatah mas. '


Ara tertawa terbahak-bahak karena melihat wajah kesalnya mas tama.


mereka pun sampai di sekolahnya Caca mereka langsung mengurus kepindahan Aurora dan Orion. setelah semua beres mereka lanjut ke sekolah si kembar.


saat akan keluar sekolah Ara dan mas Tama melihat putri bungsunya sedang olahraga bukannya pemanasan yang di contohkan oleh guru olahraganya dia malah joget-joget.


" mas anak kamu tuh, bukannya pemanasan malah joget-joget." tunjuk Ara ke Caca putrinya.


" astaghfirullahaladzim, anak siapa sih itu." ucap mas Tama melihat kelakuan anaknya


" anak mas lah mau anak siapa lagi."

__ADS_1


" kalau kaya gitu kelakuannya fix bukan anak mas tapi anak kamu."


" jadi maksud mas aku centil gitu "


" mas nggak ngomong kan kamu yang ngomong."


" ihs... nyebelin."


Mereka sampai di sekolah si kembar bertepatan dengan jam istirahat sekolah.


" cindi, jelita gue lihat orang tuanya Devan sama Devin mereka lagi mau ke kantor guru atau kepala sekolah gue nggak tahu."


" serius Lo, ayo cin kita temuin camer dulu." ajak jelita.


sedangkan Ara dan mas Tama langsung menuju ruangan kepala sekolah.


" permisi pak."


" iya silahkan masuk, kalau nggak salah orang tua dari Devan dan Devin ya." ucap kepala sekolah sambil menyuruh kami duduk.


" iya betul pak."


" oh iya ada yang bisa kami bantu."


" begini pak kami mau masukin keponakan kami ke sekolah ini mereka pindahan dari Yogya pak."


" kenapa pindah Bu?."


" gini pak mendadak papanya di pindah tugaskan di sini."


" oh profesinya sama kaya ayah si kembar dan Freya ya."


" iya pak tapi bukan di TNI tapi di kepolisian."


" kalau boleh tahu kelas berapa Bu?."


" ada dua pak yang satu kelas dua belas dan satu lagi kelas sepuluh. dan ini berkasnya pak, kalau mau yang aslinya nanti menyusul." jelas Ara.


" oh ya udah saya terima kapan mereka mulai mau bersekolah." tanya kepala sekolah.


" mungkin Senin depan pak."


" baiklah kami tunggu."


" makasih pak, kalau begitu kami pamit dulu."


" oh iya.'


Ara dan mas Tama pun keluar dari ruangan kepala sekolah. terlihat cindi dan jelita sudah siap-siap cari muka di hadapan orang tua Devan dan Devin

__ADS_1


__ADS_2