
Malam sebelum mami dan papi kembali ke Perancis. mami dan papi mengajak bicara dan saat ini kami sedang berkumpul di ruang keluarga. ada Ara, Dafa, Farrel, Audrey, papa Gilang, mami Desi, kak Kinan dan mas bian. sedangkan anak-anak nya di jaga oleh bi iyem dan juga Kimi.
kami yang ada di sana terlihat binggung mengapa mami dan papi menyuruh mereka kumpul. Setelah beberapa menit hening akhirnya papi pun bicara.
" maaf sebelumnya saya meminta kalian untuk kumpul di sini. terutama keluargamu Gilang mungkin binggung." ucap papi ke papa Gilang.
" ada yang mau saya sampaikan." papi mengambil nafas panjang setelah itu melanjutkan bicara.
" untuk kamu Ara?" Ara yang namanya di panggil langsung memandang sang papi.
" maafin papi nak, belakangan ini papi bersikap arogan terhadap kamu. papi sudah tidak pernah mendengarkan lagi pendapatmu. Papi tahu kamu selalu beralasan les agar bisa pulang malam dan langsung tidur menghindari kami. tapi percayalah nak papi dan mami melakukan itu untuk kebaikan kamu. jadi papi dan mami berharap kamu tidak membenci kami."
" untuk kamu farrel saat ini papi cuma memohon sama kamu untuk bersikap cuek atau lebih baik menghindar dari Faris dan istrinya. papi juga lega setelah menikah kamu memilih untuk tinggal di rumah dinas."
__ADS_1
" Pi, sebenarnya ada apa sih Pi?" potong farrel.
" papi harap kamu tahan emosi ya rel. begini awalnya papi sangat bahagia tahu Faris menikah dengan Nadia anaknya Lukman. tapi dua hari menjelang pernikahan mereka kami cukup kaget dengan sifat asli Nadia.."
POV papi.
siang ini mami dan papi janjian untuk makan siang bersama. papi menjemput mami di butik tapi di tengah jalan yang sepi kami melihat Nadia sedang bicara dengan seseorang. orang itu terlihat seperti seorang preman, kami hanya melihat dari dalam mobil saja.
" mana mi." sambil melihat arah yang di tunjuk istrinya." iya mi itu Nadia, ada apa ya?."
papi pun menepikan mobilnya. tapi tak lama Nadia dan orang itu masuk ke dalam gudang tua yang sudah tidak terpakai.
" Pi, kita ikuti mami takut Nadia kenapa - kenapa? " ucap mami khawatir.
__ADS_1
" iya ayo mi."
mereka pun mengikuti Nadia, tapi tidak langsung masuk hanya mengawasi dari luar. papi dan mami melihat ada seorang pria muda yang sedang di ikat di kursi.
" buka penutup mulutnya." ucap Nadia.
" dasar pembunuh." teriak pria tersebut yang di perkirakan masih berusia 17 tahun.
" diam kamu. kalau kamu nurut dan tidak ikut campur kamu tidak akan mengalami apa yang orang tua kamu alami." ucap Nadia dengan nada tinggi
" kamu nggak tahu terima kasih, orang tua aku sudah merawat kamu dari kecil dengan penuh kasih sayang. tapi kamu tega membunuhnya." teriak pria itu dengan emosi.
" aku pikir dengan ikut bersama Tante Andini dan om Raihan aku akan mendapatkan semuanya tanpa aku harus berbagi. tapi impian aku hilang begitu kamu lahir. ternyata aku hanya di jadikan sebagai anak pancingan. yang membuat aku membunuh mereka Karena mereka tidak adil sama aku. mereka memberimu semua saham perusahaannya. sedangkan aku hanya di berikan rumah saja. saat aku protes mereka bilang karena kamu adalah anak kandungnya jadi berhak mendapatkan itu semua. jadi satu- satunya cara Agar aku mendapatkan semuanya ya dengan membunuh orang tua kamu." ucap Nadia.
__ADS_1