
hari telah berganti, bulan telah berlalu, tak terasa sudah setahun Dafa pergi meninggalkan Ara dan kedua putranya. dan kini sudah tidak ada lagi cobaan yang menimpah mereka. Ara dan keluarganya juga bisa bernafas lega. karena Nadia orang telah mengganggu keluarga Ara dan juga orang yang membuat Ara harus kehilangan sang suami dan anak-anak kehilangan sosok ayah pada usia yang masih kecil. Nadia sudah di vonis seumur hidup tapi dua bulan setelah vonis Nadia meninggal gantung diri karena dia depresi karena hukuman seumur hidup.
saat polisi memberi tahukan soal kematian Nadia. bang Faris yang sangat membenci Nadia dia tidak mau mengurus dan juga meminta kami semua jangan ada yang mengurus. ternyata keluarga om Lukman juga tidak mau mengurus, mereka sangat marah dengan Nadia. Nadia yang di adopsi oleh mereka sejak bayi ternyata adalah dalang kematian adik dan adik iparnya om Lukman. mungkin kalau aku jadi mereka pun akan melakukan hal yang sama. akhirnya anak papi yang mengurusnya.
kini kedua buah hatinya Ara masukkan ke playgroup jadi biar mereka bisa bersosialisasi dengan lingkungan dan teman-temannya.
" ayo Devan, Devin pamit dulu sama Oma dan opa." ucap Ara.
" opa, Oma kita sekolah dulu ya." ucap mereka kompak sambil mencium tangan opa sama Omanya.
" baik-baik ya di sekolah nurut sama Bu gurunya dan jangan nakal ya." ucap mami.
" siap Oma." jawab mereka. ya mereka sudah tidak cadel lagi sudah bicara dengan lancar dan jelas.
" mih, pih Ade berangkat dulu ya." Ara pun mencium tangan kedua orang tuanya.
" oh iya nak, nanti anak-anak biar mami sama papi yang jemput sekalian mami sama papi mau jenguk om Lukman di rumahnya." ucap mami.
__ADS_1
" om Lukman sudah sehat, sudah kembali ke sini lagi." ucap Ara.
" sudah nak, sudah sehat, sudah kembali normal lagi." ucap papi.
" ya sudah, salam buat om Lukman." ucap Ara.
" nanti papi sampai kan."
" Ade berangkat ya. assalamualaikum." pamit Ara.
" walaikum salam."
" Oma....opa...." teriak Devan dan Devin begitu melihat Oma dan opa ya walaupun jarak jauh. kedua bocah itu berlari menghampiri Oma dan opanya.
" sayang jangan lari-lari, nanti jatuh." ujar mami saat melihat cucunya berlari ke arahnya.
ke dua bocah yang tahu Omanya khawatir hanya cengengesan sedangkan opa dan kedua pengasuhnya hanya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"he...he...he, maaf Oma. habisnya senang Oma sama opa yang jemput." ucap Devan.
" iya Oma." timpal Devin.
" ya sudah kita masuk mobil. kalian mau kan ikut Oma sama opa ke rumah teman opa." tanya papi.
Devan dan Devin hanya mengangguk dan mereka pun masuk mobil.
" oma boleh gak beli susu strawberry dulu. Devin mau susu." ucap Devin ke Omanya
" iya Devan mau susu coklat."
" oke kita mampir ke minimarket dulu beli jajanan. mang Diman kita mampir dulu ke minimarket." ucap mami.
" siap Bu." ucap mang Diman.
" yeh... kita beli susu." seru mereka senang.
__ADS_1
mereka pun mampir ke minimarket tidak hanya susu tapi mereka juga membeli beberapa jajanan yang mereka suka. barulah mereka melanjutkan perjalanan mereka sepanjang perjalanan ada saja tingkah mereka yang membuat semua yang berada di dalam mobil tertawa.