
Seperti janjinya Fasya benar-benar membantu di cafe, jam makan siang seperti biasa cafe selalu penuh dengan karyawan kantor mau pun para mahasiswa. Fasya yang melihat cafe rame meminta izin ke manajer cafe untuk membantu
" om Haikal, Fasya bantu ya sepertinya para pegawai cafe kewalahan." izin Fasya.
pegawai cafe cukup kewalahan karena memang ada beberapa pegawai yang izin hari ini. bahkan sang manajer pun ikut turun tangan.
" santai aja om, Fasya udah bilang ke mama mau bantu-bantu di cafe." ucap Fasya yang melihat sang manajer tampak kebingungan.
beberapa saat kemudian manajer pun mengizinkan.
" selamat siang, silahkan ini buku menunya." ucap fasya ramah sambil memberikan buku menunya
" terimakasih." jawab mereka.
Fasya setia menunggu untuk mencacat pesanan pengunjung cafe. banyak pasang mata yang memandang ke Fasya, Fasya yang mempunyai wajah tampan, kulit putih, badan tinggi dan tegap sudah pasti banyak pasang mata yang memandang kagum ke Fasya.
Setelah mencatat pesanan pengunjung cafe Fasya langsung memberikannya kebagian dapur untuk langsung di buatkan. Fasya cukup menikmati kegiatannya, Caca yang melihat sang Abang asik dia pun mengikuti sang abang. Caca melihat ada satu meja pengunjung cafe yang sepertinya belum di layani Caca pun langsung menghampiri meja tersebut dan mencacat pesanannya.
sama seperti Fasya yang menjadi pusat perhatian, Caca pun seperti ini. walaupun dia baru naik kelas dua SMP tapi karena Caca mempunyai badan yang tinggi maka tak ada yang menyangka kalau dia masih SMP mereka mengira Caca itu sudah SMA. di tambah wajah Caca yang cantik, kulit putih, rambut panjang bergelombang, dan bentuk badan yang ideal untuk para wanita. banyak para mata laki-laki yang diam-diam mencuri pandang ke Caca, Caca bukannya tidak tahu tapi dia pura-pura tidak tahu.
" mbak cewek yang itu siapa? karyawan baru ya kok baru lihat." ucap salah satu pengunjung yang biasa makan siang di cafe tersebut karena memang letaknya di depan kantor mereka.
" yang mana mas Dion." ucap pegawai cafe yang memang sudah akrab dengan mereka.
" iya mbak siapa?." tanya temannya yang lain.
" oh itu non Caca anaknya Bu Ara." jelas pegawai cafe.
"oh anaknya Bu Ara, cantiknya?."
" emang buah jatuh gak jauh dari pohonnya."
" betul sama cantik."
" ehmm... jadi pesan gak nih." ucap pegawai cafe yang melihat mereka terus memandangi Caca.
" jadi dong mbak, biasa ya."
" oke di tunggu ya."
Caca melihat mbak Mila salah satu pegawai cafe yang tampak kesulitan untuk membawa pesanan.
" mbak Mila sini Caca bantu." ucap Caca sambil mengambil nampan berisikan makanan.
" nggak apa-apa mbak Caca "
" nggak apa-apa, sudah ayo." ajak Caca.
Caca pun mengikuti langkah mbak Mila ternyata yang mereka bawa adalah pesanan meja Dion dan kawan-kawan. Dion dan kawan-kawan yang melihat Caca menghampiri meja mereka membawa pesanan mereka hanya bisa terpaku memandangi Caca saja.
Caca yang akan kembali menaruh nampan yang tadi di pakai buat membawa makanan melihat ke datangan sang ayah bersama uncle dan dua teman kerja ayahnya.
" ayah." panggil Caca
__ADS_1
mas Tama yang di panggil sang putri pun langsung menghampirinya. dan Caca langsung memeluk sang ayah.
" hallo uncle Caca yang paling tampan." sapa Caca
" hallo juga sayang." jawab Farrel.
" hallo bang Andi sama bang Yanuar, apa kabar?." ucap Caca menyapa kedua ajudan sang ayah.
" kabar kami baik seperti yang Caca lihat." jawab mereka berdua.
" bang kamu ngapain?." tanya mas Tama yang melihat sang putra sedang membawakan pesanan pengunjung cafe.
" ayah, Abang cuma bantu-bantu aja."
" bagus nak. itu baru anak ayah." ucap mas Tama sambil menepuk pundak sang anak.
" kok cuma bang Fasya yang di puji Caca juga dari tadi bantuin."
" oh ya uncle nggak yakin sang princess mau kerja." bukan ayahnya yang jawab tapi uncle Farrel.
sedangkan Caca memanyunkan bibirnya karena sebal dengan uncle nya.
" sudah, kita makan di ruangan Ara aja." ajak mas Tama.
Caca pun ikut dengan sang ayah ke ruangan mamanya.
" menarik." gumam Dion yang dari tadi memperhatikan interaksi Caca dengan ayahnya.
" nggak ada apa-apa."
" seperti aku harus cari informasi tentang Caca." gumam Dion dalam hati.
ceklek..
" assalamualaikum."
" walaikum salam." jawab Ara dan Sheila sambil melihat siapa yang datang.
" mas tumben ke sini." tanya Ara yang langsung bangun dari duduknya dan menghampiri sang suami untuk mencium tangan.
Ara juga mencium tangan yang Abang yang ikut juga bersama sang suami.
" eh ada om Andi sama om Yanuar."
" iya Bu."
" sayang kita mau makan siang tapi di luar ramai banget jadi kita makan di sini aja ya." ucap mas Tama.
" ya udah kamu mau makan apa?."
" aku ayam bakar aja minumnya es jeruk."
" bang farel."
__ADS_1
" SOP iga sama es teh manis."
" om Andi sama om Yanuar."
" kami samain sama kaya komandan aja Bu." ucap Andi.
" iya Bu."
" Sheila mau di sekalian gak."
" boleh gue mau. soto Betawi sama es teh aja.'
" mama sih jahat caca nggak di tanya." protes Caca
" kamu sudah pasti kan selalu Korean chicken with cheese dan strawberry jus bukan begitu ibu Caca."
" wih mama emang the best kirain Caca di suruh puasa."
" udah ah mama mau ke dapur dulu mau bilang ke chef nya."
" mama Caca juga mau toppoki juga."
" sip."
Ara pun ke luar rungan menuju dapur untuk meminta makanan ke ruangannya. saat akan kembali ke ruangannya Ara melihat anak laki-lakinya sedang asik melayani pengunjung cafe.
" maaf Bu, saya sudah larang mas Fasya untuk bantu." ucap Haikal sang manajer yang tidak enak dengan Ara karena anaknya ikut membantu melayani pengunjung.
" nggak apa-apa pak Haikal biar dia belajar." ucap Ara.
' mama." ucap Fasya menghampiri Ara.
" bagus boys, ayo kita makan siang dulu bareng ayah." ajak Ara.
" nanti aja mah masih ramai." ucap Fasya
" udah kamu makan siang dulu, nanti kalau sudah makan siang mau bantu-bantu lagi silahkan. ayah sudah menunggu buat makan bareng." ucap Ara lembut
" ya udah deh."
" kamu mau makan apa?." tanya Ara ke sang putra
" ayam bakar aja ma, sama es teh manis." ucap Fasya.
" pak Haikal bilangin chef tambah ayam bakarnya 1 lagi sama es teh manis."
" baik Bu nanti saya bilang ke chef."
" ya udah kalau gitu saya kembali ke ruangan pak Haikal."
" iya Bu silahkan."
Ara dan Fasya pun pergi menuju ruangan Ara.
__ADS_1