
Dua tahun kemudian Devan dan Bintang sepakat untuk menikah. Dan Hari ini rencananya akan ada Acara Lamaran. Orang tua Dafa sudah datang yaitu papa Gilang dan mama Desi. Sayang kedua kakak Dafa dan sepupunya tak bisa hadir.
Begitu pula Devin saudara kembarnya juga tak bisa hadir karena Devin sudah tiga bulan di tugaskan ke Kalimantan.
" Bang sudah siap." tanya Ara sambil mengelus punggung sang putra sulung.
" Insyaallah siap mah." ucapnya yakin.
" Ya udah kita turun yuk bang sudah di tunggu di bawah." ucap Ara.
Ara dan Devan pun turun ke lantai bawah sudah pada kumpul semua. Devan melihat sudah ada ayahnya, Oma, opa, kakek, nenek, kedua adiknya Fasya dan Caca, keluarga uncle Faris dan keluarga uncle farrel.
" Ayo kita berangkat." ucap papi Anthony.
" Ini nih definisi pacar lima langkah." ledek bang Farrel sambil merangkul sang keponakan.
" Tenang aja bang, calon mertua kamu nggak makan orang." timpal bang Faris.
" Iya, tenang aja bro nggak bakal di tolak. kalau di tolak bisa di pecat jadi adik sama ayah kamu." bang Faris dan bang Farrel tertawa.
Devan sedikit terhibur oleh kedua uncle nya itu, jujur dirinya sangat gugup. Padahal dia tahu om langit atau papanya bintang nggak mungkin juga menolak lamarannya.
" Tahu Abang tegang amat, tenang kalau om langit nolak Abang Caca bakalan marah sama om langit." kelakar Caca.
" Sudah-sudah ayo jalan." ucap papi merelai mereka
Mereka pun berjalan menuju rumah Bintang yang hanya beda berapa rumah.
" Assalamualaikum."
" Walaikum salam, eh tamu dekat sudah datang." ucap papa lukman.
" Iya nih sakit deketnya nggak perlu pakai pengawalan." timpal papa Gilang
" Gue mau pakai pengawalan tapi kasihan baru nyalain motor udah harus berhenti."ucap papi Anthony
Mereka bertiga pun tertawa.
" Kebiasaan kalau udah ketemu pasti, bukan di suruh masuk tamunya." omel mama Widya.
__ADS_1
" Ayo mari silahkan masuk."
Mereka pun menuju halaman belakang tempat acara berlangsung walaupun hanya keluarga saja yang hadir. Mereka pun duduk di bangku masing-masing keluarga bintang berada di hadapan keluarga Devan.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam, selamat datang keluarga besar dari ananda Devandra angkasa prawira. sebelumnya mohon maaf tanpa mengurangi rasa hormat bagaimana kita mulai acaranya." ucap pembawa acara.
' Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, perkenalkan nama saya Gilang prawira, saya adalah kakek dari ananda Devandra angkasa prawira. Kedatangan kami kesini mempunyai maksud dan tujuan yang baik. semoga bapak dan ibu dapat menerima kami. Untuk lebih lanjutnya silahkan Tama selaku ayah dari Devan." ucap papa Gilang.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sebelumnya terimakasih kami telah di sambut baik oleh keluarga bapak langit. Perkenalkan nama saya Wiratama Adiyaksa Wijaya saya adalah ayah sambung dari Devan, ayah kandung Devan sudah meninggal sejak Devan kecil. jadi kedatangan kami ke sini untuk melamar adinda Bintang Prameswari Wijaya untuk anak saya Devandra angkasa prawira. Apakah bapak langit mau menerima lamaran kami." ucap mas Tama.
" Terimakasih bapak Tama dan keluarga. saya selaku papa dari bintang bingung mau jawab apa? mau nolak takut di pecat jadi adik, mau menerima takut anaknya nggak mau. nanti di kira jaman Siti Nurbaya kali." ucap langit meledek sang abang yang terlalu serius.
" Simalakama yang ngit." timpal bang Farrel.
" Kalau kata warkop DKI maju kena mundur kena." balas langit.
Semua tertawa hanya mas Tama saja yang tidak. Mukanya kesal sama sang adik yang masih aja becanda.
" Sorry bang, biar nggak tegang." ucap langit yang melihat sang Abang menatapnya dengan tatapan membunuh.
" Sudah-sudah lebih baik biar bintang saja yang jawab. Bella bawa kakakmu kesini." ucap dara.
Bellatrix pun pergi ke kamar sang kakak.
" Aduh dek kakak gugup banget." ucap bintang.
" Udah tenang aja tarik nafas buang perlahan."
Bintang pun menarik nafas dan membuangnya perlahan mengikuti saran sang adik
" Sudah ayo kak." ajak sang adik
Bintang pun di gandeng oleh Bellatrix menuju taman belakang tempat acara berlangsung. Bintang pun duduk di apit kedua orangtuanya dan berhadapan dengan Devan
" Silahkan ananda Devan untuk mengutarakan maksud kedatangannya ke sini."
" Bismillahirrahmanirrahim, bintang Prameswari Wijaya mau kah engkau menikah denganku, menjadi istriku dan menjadi ibu dari anak-anakku dan menua bersamaku. bintang Prameswari Wijaya will you marry me." ucap Devan sambil berlutut di hadapan bintang sambil membuka kotak brudu berwarna merah yang berisikan cincin bermata berlian.
" Sebelumnya terima kasih untuk keluarga Devan yang sudah datang.Dan juga terima kasih buat Devan yang selalu setia dan selalu mencintai bintang." Bintang pun berhenti sejenak melihat semua anggota keluarganya yang tegang menunggu jawabnya.
__ADS_1
" Yes, I do." jawab bintang bahagia.
Devan pun memasangkan cincin di jari bintang dan memeluk bintang. selanjutnya Ara memasangkan kalung dan gelang ke bintang.
" Terima kasih ya, bintang sudah mau menerima Devan jadi suami kamu." ucap Ara memeluk keponakannya yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.
" Sama-sama aunty."
" Kok manggil aunty sih, mulai sekarang kamu manggil mama ya."
" Iya mah."
" Oh iya kapan kamu mau ngajuin nikah kantor." tanya langit.
" Besok om."
" Kenapa manggil om, mulai sekarang panggil kami papa dan papa seperti bintang memanggil kami. Bagus lebih cepat lebih baik."
" Iya om...eh papa " ucap Devan sambil garuk-garuk kepala.
Mereka pun melanjutkan dengan acara makan malam.semua keluarga berbahagia akhirnya Devan dan bintang akan menikah.
Mereka sudah kembali ke rumah masing-masing, mama dan papa mas Dafa menginap di rumah Ara. Karena mereka besok sudah akan kembali lagi ke Bandung.
Ara menunggu mas Tama yang sedang bersih-bersih di kamar mandi.Tak lama mas Tama pun selesai dan naik ketempat tidur. Ara langsung masuk kedalam pelukan mas Tama.
" Rasanya baru kemarin aku mengendong Devan, sekarang dia sudah mau menikah waktu tak terasa ya mas." ucap Ara.
" Iya sayang. tak terasa ternyata kita sudah tua." ucap mas Tama.
" Mas aja yang tua, aku sih nggak." ucap Ara tertawa.
"Nggak apa-apa tua yang penting kamu cinta mati sama mas."
" Kepedean, udah ah ayo kita tidur.' ajak Ara.
" Nggak mau olah raga dulu."
" nggak mau aku capek." ucap Ara langsung memejamkan mata.
__ADS_1
" nolak suami dosa loh " ucap mas Tama.
Akhirnya Ara pun pasrah, mas Tama yang melihat Ara pasrah hatinya bersorak gembira. mas Tama langsung melancarkan aksinya. bagi mas Tama Ara adalah candunya. walaupun mereka sudah menikah delapan belas tahun tapi untuk urusan ranjang mereka bisa diadu dengan yang masih muda.