Perjalanan Cinta Naura

Perjalanan Cinta Naura
61. cukup melihatmu dari jauh


__ADS_3

Ara sudah rapih dan siap berangkat ke cafe dia juga sudah menelpon Sheila kalau dia mau ke cafe.


" Devan....Devin, mama pergi dulu ya. kalian jangan nakal nurut sama kakek dan nenek." pamit Ara ke kedua anaknya.


" ia mama." jawab mereka serempak.


" Devan nanti jangan suka iseng ke adiknya Lo. " ucap Ara putra pertamanya.


" ciap " jawab Devan dengan cadelnya.


Ara pun mencium kedua anaknya.


" ma, pah Ara berangkat ya titip anak - anak ya." pamit Ara sambil mencium tangan kedua mertuanya.


" kamu hati - hati nyetirnya." ucap mama.


" iya ma, assalamualaikum."


" walaikum salam."


Ara pun mengendarai mobilnya membelah kemacetan ibukota. satu jam perjalanan yang Ara tempuh akhirnya Ara pun sampai.setelah memarkirkan mobilnya Ara pun masuk kedalam cafe.

__ADS_1


" selamat pagi Bu, bu kami minta maaf atas peristiwa yang kemarin." ucap satpam yang menjaga cafe.


" gak apa-apa pak, namanya juga musibah tidak pernah tahu. saya masuk dulu ya pak." ucap Ara.


" iya silahkan Bu."


Ara pun mendapat ucapan belasungkawa dari para karyawannya. setelah itu Ara pun masuk ke ruangannya.


" araaaa, gila gue kangen banget.!" teriak Sheila yang langsung berlari memeluk Ara.


" biasa aja kali." ucap Ara.


" gue senang Loe sudah bisa bangkit. gue sedih banget ngeliat Loe kaya kemarin." ucap Sheila.


" oh iya Loe dapat salam dari Riko, dia tadian mau hubungi Loe langsung tapi takut Loe masih sedih jadi dia titip salam aja. Minggu depan katanya dia mau pulang." ucap Sheila.


" nanti gue hubungi Riko, oh iya Dita suka hubungi Lo Sheila." tanya Ara.


" nggak semenjak pulang dari jenguk Lo dulu waktu lahiran Dita jadi susah di hubungi. gue nggak tahu kenapa tuh bocah." ucap Sheila.


Ara memutuskan untuk pulang tidak terlalu sore karena dia janji akan menemani anaknya main. dan kini Ara sedang menemani Devan dan Devin main bola di halaman rumah.

__ADS_1


ternyata ada sepasang mata yang memperhatikan Ara dan kedua anaknya bermain.


" akhirnya aku bisa melihatmu sudah tidak terpuruk lagi. bisa melihat senyum tulus di wajah mi lagi. bisa melihatmu tertawa bahagia. semoga tidak ada lagi kesedihan yang menghampiri kami. sungguh sakit melihat kamu seperti kemarin. rasanya aku seperti di tusuk puluhan pisau belati. kamu tenang saja aku janji akan buat Nadia mendapatkan hukuman yang setimpal." gumam orang itu dia terus memperhatikan Ara dan kedua anaknya.


" andai kamu tahu bahwa cinta ini masih untuk kamu. tak ada yang bisa menggantikan posisi sisi kamu di hati aku. kalau saja kamu tidak di jodohkan oleh orang tuamu mungkin kita pasti akan bahagia.' ucap orang tersebut sambil mengacak-acak rambutnya.


" mama angkep..." teriak Devan saat menendang bola ke arah Ara.


Ara pun menangkap bola yang di tendang Devan.


" Devan tangkap ya." Ucap Ara menendang bola ke arah Devan.


" hey... Evan ICA angkep Ola." ucap Devan sambil loncat loncat.


" mama, Evin uga au angkep Ola." ucap Devin.


" sini Devin siap ya?." Ara pun menendang bola ke arah Devin. Devin pun bisa menangkap bola.


" hey....hey.. Evin ICA." ucap Davin senang.


" sudah... sudah yuk kita masuk kita mandi." ucap Ara mengajak buah hatinya masuk.

__ADS_1


" aku janji akan jaga kamu dan anak-anak kamu. walaupun dari jauh." ucap pria tersebut melihat Ara dan anak-anaknya masuk ke dalam rumah.


__ADS_2