
Ara dan mas Tama pun keluar dari ruangan kepala sekolah. terlihat cindi dan jelita sudah siap-siap cari muka di hadapan orang tua Devan dan Devin tapi sebelum mereka melakukannya sudah keduluan oleh Freya dan Irene.
" uncle, aunty." panggil Freya.
" eh Freya , Irene." Ara pun langsung memeluk Freya sang keponakan.
" aunty ke sini mau daftarin kak bintang sama Aurora ya " tanya Freya.
" iya kok kamu tahu."
" iya Abang tadi cerita ke Freya."
" oh iya Irene Apa kabar?." tanya Ara ke Irene kebetulan Ara kenal dengan Irene karena papanya Irene bawahannya mas Tama.
" baik Tante, Tante sendiri."
" Alhamdulillah Tante baik."
" uncle sama aunty habis ini mau kemana?." tanya Freya.
" mau pacaran." jawab mas Tama sambil mengelus rambut Freya.
tak lama datang Devan, Devin, Nandes, sakti dan Jonathan datang menghampiri. mereka pun mencium tangan Ara dan mas Tama.
" mama, ayah ." ucap Devan dan Devin samaan.
" mama sama ayah sudah daftarin bintang sama Bella." tanya Devan.
" sudah ini kami mau pulang tapi adik kamu tuh nemplok kaya cicak." ucap mas Tama
" ihs... uncle masa Freya di bilang kaya cicak."
" lagi kamu Frey orang itu mamanya Abang juga."
" sudah-sudah kalau gitu kami pulang dulu."
" hati-hati mama sama ayah "
" hati-hati uncle sama aunty."
" hati-hati om sama Tante."
Ara dan mas Tama pun pergi meninggalkan sekolah si kembar dan rencananya mereka akan pergi ke mall untuk membeli hadiah untuk si kembar. karena lusa si kembar ulang tahun.
" yang rencananya mau beli apa?." tanya mas Tama ketika mereka sudah berada di mobil.
tak lama ada chat masuk dari group sekolah Caca dan Fasya bahwa hari ini mereka pulang cepat.
__ADS_1
" mas kita jemput Caca sama Fasya mereka pulang cepat karena ada wali murid yang meninggal dunia." ucap Ara memberitahu suaminya.
" wah kita udah kaya setrikaan dong."
" iya ya " mereka berdua tertawa karena tadi mereka dari sana dan kembali ke sana.
" mas tahun depan Abang kembar masuk Akmil pasti di rumah sepi."
" kamu sudah tanya sama Abang kembar yakin mereka mau masuk Akmil."
" sudah, aku sudah tanya sama mereka dan mereka sangat yakin mau jadi abdi negara. aku sudah tanya berkali-kali tapi mereka tetap dengan keputusan mereka."
" ya sudah kalau memang begitu kita tinggal dukung aja."
mobil mereka pun sampai di depan sekolah Caca.
" seperti mereka sudah keluar yang. mas tunggu di luar aja kalau masuk lihat aja antriannya."
" ya udah mas tunggu di depan minimarket aja. aku yang masuk ke dalam."
mas Tama pun memarkirkan mobilnya di depan minimarket. dan Ara pun turun lalu menyebrang jalan masuk ke dalam lingkungan sekolah Caca. sampai dalam ternyata Caca sudah menunggu di sana sendiri tidak sama Fasya.
" mama..." teriak Caca sambil berlari memeluk Ara.
" Abang fasya mana dek?." tanya Ara.
Caca menepuk jidatnya. " aduh Caca lupa tadi Abang bilang kalau udah di jemput suruh panggil Abang lagi main basket. ya udah caca panggil dulu."
" ca bukan panggil Abang kalau udah di jemput."
" Caca lupa bang,"
" sudah-sudah jangan ribut kasihan ayah sudah nunggu kita." ucap Ara.
" mama sama ayah ke sini." tanya Fasya.
" ayahnya mana mah." tanya Caca.
" ayah nunggu di depan minimarket soalnya kalau masuk antrian mobilnya panjang."
" ya udah ayo mah kita ke ayah, Ade mau minta ayah beliin jajanan di minimarket."
Ara dan anaknya pun berjalan keluar sekolah menuju mobil yang terparkir di depan minimarket. setelah menyebrang jalan Caca langsung saja berlari dan mengetuk kaca bagian pengemudi. mas Tama yang kaca mobilnya di ketuk oleh anaknya segera menurunkan kacanya.
" ada apa princess ayah?."
" ayah Ade minta uang Ade mau jajan ke minimarket."
__ADS_1
" Fasya nih ajak ade kamu jajan di minimarket." ucap mas Tama sambil memberikan uang seratus ribu ke Fasya.
" iya yah, ayah sama mama mau di belikan apa?."
" ayah nitip air putih aja yang dingin."
" sama mama juga."
" ya udah Fasya ke dalam dulu."
Fasya dan Caca pun memberikan tas mereka ke Ara. dan Ara pun langsung masuk ke dalam mobil. Ara dan mas Tama hanya memperhatikan Fasya dan Caca yang sedang berada di dalam minimarket.
" semoga anak-anak kita semuanya akur ya mas, dan juga semoga Devan, Devin dan Fasya selalu menjaga Caca seperti sekarang." ucap Ara.
" sudah pasti sayang mas percaya sampai kapan pun mereka pasti akur dan mereka juga pasti akan menjaga Caca sampai kapan pun. karena kamu mendidik mereka dengan sangat baik." ucap mas Tama sambil menatap Ara.
" mas juga yang mendidik mereka dengan baik apalagi dengan Devan dan Devin aku banyak terima kasih karena mas nggak pernah membedakan Devan, Devin dengan Fasya dan Caca. mas juga selalu membuat Devan dan Devin nggak pernah minder walaupun mas bukan ayah kandungnya, mas juga yang membuat Fasya dan Caca mengerti walaupun mereka beda ayah dengan Devan dan Devin tapi mereka harus tetap hormat dan menyayangi Devan dan Devin."
" sudah ah nanti yang ada kamu malah nangis lagi. " mereka pun tertawa bersama.
Caca dan Fasya pun masuk ke dalam mobil.
" ini mah, yah air putihnya." ucap Fasya yang memberikan dua botol air mineral ke Ara. karena mas Tama langsung melajukan mobil nya.
" makasih sayang." ucap Ara ke putranya.
" ah... akhirnya." ucap Caca yang meminum minumannya yang dia beli.
" kenapa kamu dek ?" tanya Fasya.
" aduh abang Ade tuh haus banget tahu, bayangin tadi tuh Ade olahraga cepek banget mana pemanasan nya lama banget." ucap Caca yang selalu dengan gayanya yang lebay.
" emang kamu ikut pemanasan dek, orang ayah lihat kamu cuma joget-joget doang." timpal mas Tama yang membuat caca kaget karena ayahnya tahu.
" kok ayah tahu?."
" nih yah minum dulu sebelum menanggapi anaknya yang lebay." ucap Ara sambil memberikan sebotol air mineral yang sudah di buka tutupnya oleh Ara.
" ih mama mah orang anaknya cantik gini di bilang lebay."
" emang kamu anak mama, kamu tuh anak ayah anak mama tuh Abang kembar sama Abang Fasya." ledek Ara.
" astaghfirullahaladzim tega sekali anaknya nggak di akui." ucap Caca.
Ara, mas Tama dan Fasya tertawa terbahak-bahak sedangkan Caca dia langsung memanyunkan bibirnya.
" sayang...sayang sini anak mama yang paling cantik tapi lebih cantik mama, sini peluk mama sayang." Ara sedikit memutar tubuhnya menghadap belakang sedangkan Caca dia memajukan tubuhnya agar bisa memeluk sang mama.
__ADS_1
" Caca beneran anak mama kan." tanyanya dengan nada sedih.
" ya iya lah kamu nggak lihat muka kamu tuh cetakan mama banget." timpal mas tama