
kini Ara sedang melihat bagaimana seorang Tama yang kaku, dingin dan jarang tersenyum. kini menyuapi Devan sambil bercanda, seakan mereka dekat sangat lama.
setelah menghabiskan makanannya Tama mengantarkan kami pulang.
" mas makasih ya sudah nolongin Devan." ucap Ara kita mobil yang di kendarai Tama berhenti di depan rumah Ara.
" sama-sama Ra, memang kebetulan saja saya pas ada di sana jadi bisa nolongin Devan." ujar Tama.
" ya sudah mas Ara pamit ya, sekali lagi makasih. mas Tama nggak mau mampir dulu." ucap Ara ketika hendak turun.
" gak usah deh Ra, mas langsung pulang aja. salam sama om dan Tante ya."
" iya mas nanti di sampaikan salam nya. assalamualaikum."
" walaikum salam."
Ara pun mengendong Devan masuk ke dalam rumah.
" assalamualaikum."
__ADS_1
" walaikum salam."
" gimana de, Devan nggak apa-apa kan?" tanya mami khawatir ketika Ara ikut duduk di sofa .
" gak apa-apa kok mi, cuma bengkak aja." ujar Ara.
" Devan mana yang sakit nak?" tanya mami
" tangan Devan aja Oma yang sakit." ucap Devan pelan.
" gimana ceritanya bisa ketabrak? kata bi sari yang bawa ke rumah sakit anggota TNI." tanya papi.
" tapi itu bahaya nak, besok-besok jangan di ulangi lagi ya.' ucap papi Anthony lembut.
" iya opa."
" mama." panggil Devin
" Abang nggak apa-apa." tanya Devin ke kembarannya
__ADS_1
" Abang Devin nggak apa-apa, sekarang ikut bi sari sama bi tuti ya. nih buat kamu." Ara memberikan bungkusan plastik.
" wah MC Donald, asik..... ayo Abang kita makan." ajak Devin. mereka pun di bawa oleh bi sari dan bi tuti.
" dek, anggota TNI yang nolongin Devan siapa?" tanya papi. sebenarnya mami dan papinya sudah tahu dari Sheila prihal siapa yang nolongin Devan.
" oh mas Tama pih anaknya om Lukman. kebetulan dia lagi lewat Melihat Devan hampir ketabrak makanya dia bawa ke rumah sakit." ucap Ara.
" oh..., dek papi dan mami mau bicara tapi kalau kamu capek nanti saja bicaranya." ucap mami.
" nggak kok mi, mau bicara apa?"
" dek, kamu nggak mau menikah lagi. Devan dan Devin butuh sosok ayah. papi nggak bermaksud untuk mereka melupakan Dafa nak. tapi kalau ada pria yang bisa menjaga dan menyayangi kamu dan anak-anak kamu. kami sebagai orang tua akan merasa tenang. mertua mu juga bilang begitu sama papi dan mami." ucap papi lembut dia takut anaknya tersinggung.
" pih, mih. Ara tahu anak-anak Ara butuh seorang sosok ayah. Ara juga tidak menutupi kalau Ara sangat sedih saat mereka melihat teman-temannya bermain dengan ayah mereka tapi tidak dengannya. walaupun Devan dan Devin tidak bilang ke Ara secara langsung kalau mereka ingin seperti teman-temannya karena mereka tahu ayahnya sudah tidak ada. tapi Ara bisa melihat mata mereka, kalau Allah SWT memang memberikan jodoh lagi kepada Ara. Ara hanya minta sosok lelaki yang bisa menyayangi anak-anaknya dengan tulus." jelas Ara panjang lebar.
" nak kalau saat ini ada pria Yang bisa menjaga dan menyayangi kamu dan anak-anak kamu. apakah kamu mau menerimanya." ujar papi.
" kalau dia bisa menyayangi anak-anak Ara kenapa tidak pih." ujar Ara.
__ADS_1