
Berapa bulan berlalu Devan dan bintang memilih tetap tinggal di rumah Ara. Pagi ini seperti biasa Ara selalu menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga. Tapi kali ini Ara di bantu bintang sang menantu.
" Pagi mah.." sapa bintang
" Pagi sayang."
" Mau bikin Sarapan apa mah?."
" Ini mama mau bikin sayur lontong, semalam Fasya request minta di bikinin sayur lontong."
" Oh ada yang bisa bintang bantuin."
" Kamu bisa potong-potong daun bawang."
" bisa mah."
Hampir satu jam Ara, bintang dan bibi berkutat di dapur akhirnya sayur lontong sudah jadi.
" sudah sana sayang bangunin Devan."
" ya udah ya mah, bintang ke atas dulu."
Setelah menata masakan di meja, Ara pun naik ke atas untuk membangunkan Fasya dan juga Caca. Baru Ara masuk ke kamar membangunkan suami tercinta.
__ADS_1
" Mas bangun, tumben kamu tidur lagi biasanya habis subuh lari pagi." ucap Ara.
Mas Tama pun langsung membuka matanya begitu di bangunkan oleh sang istri.
" Nggak tahu, hari ini mas males banget buat lari tadi habis subuh ngantuk banget jadi tidur lagi." ucap mas Tama.
Mas Tama pun langsung turun dari tempat tidur dan langsung mencium bibir Ara sekilas sebelum masuk kamar mandi. Itu kebiasaan mas Tama dari awal menikah setiap bangun tidur mas Tama akan mencium sekilas bibir Ara.
Setelah mas Tama masuk kamar mandi Ara langsung menyiapkan pakaian mas Tama. setelah itu dia kembali turun menunggu mereka di meja makan.
Setelah semua rapi mereka pun turun ke bawah untuk sarapan bersama. Fasya dan Caca pamit terlebih dahulu diantar oleh supir, di susul Devan dan bintang karena Devan harus mengantar Bintang terlebih dahulu. Baru setelah itu sang suami yang berangkat kerja.
" Maaf ya sayang nanti mas nggak bisa antar kamu ke bandara." ucap mas Tama.
" Iya mas, nggak apa-apa. Mas juga jaga kesehatan aku tinggal lima hari."
" Iya kemarin juga sudah bilang."
Siang ini Ara, bersama Riko dan Sheila untuk menghadiri peresmian hotel milik Doni. Mereka akan menginap di hotel milik Doni selama lima hari. Sebenarnya Ara nggak mau ikut tapi mas Tama mengizinkan untuk pergi karena nggak enak dengan Doni yang selalu menyempatkan hadir kalau kita ada acara.
setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir empat jam, dua jam pesawat dan sejam setengah perjalanan dari bandara ke hotel milik Doni. Sampai sana ternyata sudah di sambut oleh Doni.
" Selamat datang." sapa Doni.
__ADS_1
Kami pun langsung saling sapa.
" Ayo kita langsung aja ke villa, atau mau lihat hotel dulu."
" Kita nggak nginap di sini Don." tanya Sheila.
" Nggak di sini tuh ada hotel ada villa jadi kalau yang bawa keluarga besar bisa nginap di villa gitu. Entar malam gue mau ajak barbeque gitu." ujar Doni.
" Boleh deh."
Kami pun menaiki buggy menuju villa yang di maksud oleh Doni. Perjalanannya lumayan jauh kalau berjalan kaki. Kami pun sampai di villa yang sangat besar.
" Ini gede banget Don, pasti mahal ya sewanya." tanya Sheila.
" Ini villa pribadi gue." ucap Doni.
" Hebat sahabat gue yang satu ini sudah jadi pengusaha sukses." ucap Sheila
" Biasa aja gue cuma nerusin usaha bokap doang."
Mereka pun masuk kedalam villa dan Riko membebaskan kita untuk memilih kamar.
" Hendrik sama Alika nanti sore baru sampai kalian santai aja di sini. Gue tinggal dulu ya." ucap Doni.
__ADS_1
" siap Don."
Doni pun pergi meninggalkan kita bertiga di villa yang sangat besar.