Perjalanan Cinta Naura

Perjalanan Cinta Naura
157.


__ADS_3

Dalam perjalanan ke rumah sakit Fasya dan Caca tak henti-hentinya menangis. Apalagi Caca dia menangis paling kencang karena rasa bersalahnya. Mamanya nggak akan terluka seandainya tidak menyelamatkan dirinya.


Ambulance pun Sampai di rumah sakit mama pun di bawa ke IGD udah dapat di tangani. Sedangkan Caca dan Fasya serta satu orang wanita bule seumuran mama menunggu di depan ruang IGD.


" Halo kalian Anaknya Naura." tanya wanita bule itu


" Iya kami anaknya, Tante siapa? Tante kenal dengan mama kami " Tanya Fasya balik.


" Kenalkan nama saya Anne saya teman mama kamu saat kuliah dulu."


" Saya Fasya dan ini adik saya Caca."


" Oke, Fasya kamu bisa bawa adik kamu masuk untuk di obati dulu soalnya takut infeksi." ucap Tante Anne.


Fasya baru sadar kalau adiknya juga terluka dia pun segera membawa adiknya masuk ke IGD untuk mengobati lukanya.


Setelah selesai di obati Fasya dan Caca kembali ketempat Tante Anne.


" Tante gimana sudah ada kabar dari dokter." Tanya Fasya.


" Belum dokter masih memeriksa mama kamu."


Tak lama dokter pun keluar dari ruang IGD.


" Keluarga ibu Naura." panggil dokter tersebut.

__ADS_1


" Iya dok kami Keluarganya ibu Naura,"


" Baik, Kondisi ibu Naura kritis terjadi pendarahan hebat di kepalanya akibat benturan dan saat ini kami sudah menghentikan. Dan juga kaki pasien patah dan saat ini kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat. Jadi saya mohon di urus administrasinya. Kalau begitu saya permisi dulu."


" Baik dok, terima kasih."


" Fasya dan Caca kalian tunggu di sini biar Tante yang urus administrasinya.'


Mereka berdua mengangguk.


Tak lama Tante Anne kembali, Dan kini mereka mengikuti brankar Ara untuk di pindahkan di ruang rawat.


Saat akan berjalan menuju ruang rawat ternyata mereka bertemu sang ayah dan kak Devan yang baru dari ruang IGD dan akan kembali ke ruangan sang Oma.


Mas Tama dan Devan kaget saat melihat istri dan mama nya yang berada di atas Brankar yang di dorong oleh para suster.


" Pasien baru saja mengalami kecelakaan." Ucap salah satu suster.


Duuaaar...


Mas Tama dan Devan kaget, Mas Tama yang ingin menyentuh wajah yang istri terhenti setelah teriakan sang anak.


" Jangan sentuh mama aku." Teriak Caca.


" Sayang mama kenapa nak?.' Tanya mas Tama yang menatap sang putri. Mas Tama bisa melihat dari Mata sang putri terlihat penuh kebancian.

__ADS_1


" Sudah puas kan kalian buat mama aku celaka. Sus lanjut aja .' Ucap Caca menyuruh Suster melanjutkan perjalanan menuju ruang rawat.


Mas Tama syok melihat anaknya begitu membencinya. Devan yang melihat kondisi sang ayah yang tidak baik.


" Yah kita ke ruangan Oma dulu ' ajak Devan.


" Ayah mau ke mama kamu.'


" Jangan sekarang yah? Ayah lihat sikap Caca dan Fasya tadi. Sekarang ayah nunggu di ruangan Oma dulu nanti Devan akan ke tempat mama.'


Akhirnya mas Tama pun di pasrah dan menurut sama Devan untuk kembali ke ruangan rawat ibu mertuanya.


Semua kaget melihat mas Tama di tuntun oleh Devan.


" Kenapa ayah kamu Van?." tanya om Faris.


" Ayah tunggu di sini dulu biar Devan yang lihat kondisi mama." Ucap Devan setelah mendudukkan ayahnya.


" Vin jaga ayah dulu " Devan menyuruh adiknya untuk menjaga ayahnya


" Kasih tahu ayah nak kondisi mama kamu."


" Van sebenarnya ada apa? " Kali ini opa yang bertanya


" Semuanya tenang dulu, Mama kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit ini. Fasya dan Caca yang menemani mama saat ini. Fasya dan Caca tak mengizinkan ayah mendekati mama."

__ADS_1


Semuanya syok mendengarnya terutama opa.


Setelah Devan menenangkan semuanya kini Devan bersama uncle Faris pun langsung menuju ruangan mamanya di rawat


__ADS_2