
"maksud kamu apa Dii? aku ini masih istrinya mas mu, aku masih berhak nanyain keadaan dia sekarang!" ucap ku tegas
"pokoknya ini demi kebaikan mbak, mbak udah di kasih hidup kembali seharusnya mbak bersyukur. Mbak bisa melanjutkan hidup dan memulai semua dari awal lagi mbak" ucap Adi tanpa melihat ku
"apa jangan-jangan rumor di rumah sakit itu benar? Zean yang mendonorkan semua ini demi aku bisa hidup?" tanya ku gugub
Adi tak menjawab ucapan ku, aku berharap ada penjelasan dan jawaban dari mulut Adi. Aku berharap jawaban itu sama seperti harapan ku.
"iya, mas Zean udah nggak ada lagi mbak. Dia yang jadi pendonor mbak" ucap Adi lirih
Aku terdiam mendengar ucapan Adi, suara ku tersangkut di kerongkongan dan tak bisa mengeluarkan kata-kata satu pun. Bahkan rasanya ada benda keras yang menghantam kepala ku membuat pandangan ku berkunang-kunang.
"mas Zean hanya menitipkan surat sebelum melakukan Operasi pendonoran untuk mbak Tiara" ucap Adi sambil memberikan sepucuk surat kepada ku
__ADS_1
Aku menerima surat itu dengan tangan yang gemetar hebat, suara ku benar-benar tak bisa keluar. Hanya air mata yang membasahi pipi ku, mewakili kesedihan ku yang teramat dalam.
Dita memeluk ku dan berusaha menenangkan ku, aku mencoba menahan tangis ku namun apa daya. Luapan kerinduan dan harapan kini telah pupus, aku memeluk erat tubuh Dita dan menangis sekuat yang aku mampu.
" ZEAAAANN....." Teriak ku sambil menangis
Dita yang memeluk ku pun ikut menangis mendengar kabar buruk itu, namun ia berusaha untuk menenangkan ku.
"aku nggak percaya Taa, dia ninggalin aku. Kenapa dia selalu ninggalin aku Taa? Aku ada salah apa sama dia? Sampai dia ninggalin aku berkali-kali" tangis ku
"udah Raa, kamu tenang dulu. Kamu harus kuat, Zean ngelakuin ini pasti karena ada alasannya" ucap Dita
"aku nggak perduli alasannya Taa, aku mau dia. Aku mau ZEAN Taa" ucap ku marah
__ADS_1
Aku menangis sejadi-jadinya di rumah mertua ku itu, Adi hanya terduduk lesu melihat ku yang menangis kencang. Ada sedikit penyesalan di hatinya yang telah memberi tau keadaan seperti itu ke Tiara.
"mbak Tiara jangan seperti ini, mas Zean melakukan ini demi keselamatan mbak sendiri. Sekarang mbak harus bisa menjalani hidup dan berbahagia" ucap Adi
"bagaimana aku bisa hidup Dii? aku menjalani hidup di atas kematian suami ku Dii. Ini nggak adil" ucap ku
"mas Zean udah memikirkan ini sebelumnya, tolong lah mbak terima pengorbanan mas Zean yang terakhir kalinya. Mbak jangan seperti ini, demi mas Zean mbak" bujuk Adi
Aku hanya diam mendengar ucapan Adi, hati ku masih terasa sakit. Sakit untuk menerima kenyataan yang ada, bahkan menerima semua yang terjadi.
"kalau begitu, aku mau melihat makamnya Dii. Aku mau melihat dengan mata kepala ku sendiri kalau Zean benar-benar udah meninggal" ucap ku yang masih belum percaya.
Adi mengajak kami ke sebuah TPU dekat rumah mereka, aku pun berjalan mengikuti langkah kaki Adi. Tak lama kami berjalan, Adi berhenti di depan sebuah pusara yang masih di penuhi dengan bunga segar. Dan mata ku pun tertuju ke batu nisan yang tertancap di pusara tersebut.
__ADS_1