
Saat ayah dan Andre melakukan serangkaian proses pengecekan, Dita menemani Tiara di ruangannya. Matanya yang bengkak menatap Tiara yang terbaring lemah dengan selang oksigen yang menempel di hidungnya. Dita pun mendekati Tiara dan menggenggam tangannya.
"Raa, kamu tau kan aku nggak pernah takut akan apapun yang terjadi di dunia ini. Kecuali kehilangan seseorang yang benar-benar aku sayang. Aku mungkin hanya baru kenal dengan mu, tapi waktu-waktu yang kita lewati bersama itu belum cukup bagi ku untuk menghadapi semua ini. Raa, aku tau kamu orang uang kuat. Jangankan masalah seperti ini, ribuan masalah pun kamu pasti bisa menghadapi kan? Aku kan sudah bilang kalau aku akan selalu mendukung keputusan mu, tapi tidak jika kamu menyerah akan ini semua Raa. Aku sama sekali nggak mendukung mu Raa" ucap Dita sambil menangis di samping Tiara
Tapi tetap saja seberapa kuat pun Dita mencoba membangunkan Tiara, tak ada tanda-tanda akan Tiara sadar dari masa kritisnya. Muka Tiara yang pucat pasi seakan-akan menerima keadaannya saat ini.
Richard dan pak Sugeng menunggu Andre dan ayah di kooridor rumah sakit. Mereka merasa was-was akan hasil pengecekan tersebut. Tiba-tiba ada sorang laki-laki menghampiri mereka.
"pak Sugeng..." sapa laki-laki itu
pak Sugeng yang pengelihatannya tak setajam dulu menyipitkan matanya dan mencoba mengingat-ingat wajah yang memanggilanya.
"pak Sugeng, ini saya Adi. Adiknya mas Zean" ucap laki-laki yang bernama Adi tersebut
"oowh mas Adi, iya iya saya baru ingat. Maaf mas, habis saya baru dua kali lihat mas Adi jadi masih linglung" ucap pak Sugeng
__ADS_1
"nggak apa-apa pak. Saya baru datang, kabarnya mas Zean dan mbak Tiara kecelakaan. Jadi saya buru-buru dari kampung ke sini" ucap Adi menjelaskan
"owh iya mas, kok mas datang sendirian?" tanya pak Sugeng sambil melihat-lihat ke belakang Adi
"itulah masalahnya pak, pas dapat kabar itu bapak ngalamin serangan jantung ringan dan langsung di larikan ke rumah sakit desa. Makanya nggak bisa langsung ke sini kemarin pak" ujar Adi
"ya Allah, jadi gimana mas? udah baikan?"
"alhamdulillah pak, hari ini bapak sudah bisa di bawa pulang. Karena itu saya langsung berangkat ke sini"
"alhamdulillah, syukurlah kalau begitu mas. Mau saya antar ke ruangan mas Zean mas?" tanya pak Sugeng
"masih harus menunggu pendonor mas, ini saya nunggu ayah mbak Tiara dan mas Andre yang melakukan pengecekan"
"pengecekan? pengecekan untuk apa?"
__ADS_1
"pengecekan untuk jadi pendonornya mbak Tiara"
Adi pun terdiam mendengar ucapan pak Sugeng, "separah itukah keadaan kakak iparnya saat ini?" pikirnya. Adi pun berpamitan dengan pak Sugeng, ia pun pergi menuju kamar tempat kakak iparnya di rawat. Ia sangat ingin tahu bagai mana keadaan kakak iparnya saat ini.
"assalamualaikum..." ucap Adi masuk ke dalam kamar tempat Tiara di rawat
Adi tak mendengar sautan dari dalam, ia pun masuk dan melihat ternyata Tiara di temani oleh Dita di sampingnya. Adi sangat terkejut melihat keadaan Tiara saat ini, mukanya pucat dengan selang menempel di hidungnya. Adi pun mencoba mendekati Tiara dan melihatnya dengan lebih seksama.
"kamu ngapain ke sini?" tanya Dita tiba-tiba
"aku mau lihat keadaan mbak Tiara. Sudah berapa hari mbak Tiara seperti ini?" tanya Adi balik
"udah dua hari, kamu nggak lihat mas mu? gih sana lihat" usir Dita
"iya, aku akan ke sana. Tolong kabarin aku juga ya keadaan mbak Tiara nantinya" ucap Adi
__ADS_1
"itu bukan urusan mu
Adi pun pergi meninggalkan ruangan itu, ia tau kalau Dita masih terguncang dengan keadaan sekarang. Terlebih lagi dari kabar yang ia dengar, masnya menceraikan Tiara dan memilih wanita lain.