
Aku sudah memantapkan hati ku akan berangkat besok pagi kembali ke kota. Kembali kerumahku yang sempat ku tinggalkan. Aku akan mencoba untuk memperjuangkan semua yang sudah ku bangun susah payah bersama Zean. Yang terpenting adalah aku memperjuangkan cinta ku. Tidak hanya cinta, melainkan rumah tangga ku. Aku mengemasi barang-barang ku di kamar. Kata-kata ayah tadi pun membuatku siap untuk melakukan semua.
“nduk, ngene yo... aku itu nggak pernah melarang kamu menikah sama siapa pun. Yang penting dia seiman sama mu. Kamu yang memilih Zean seabagai suami mu. Dan itu bukan aku yang paksa. Jadi nduk, kalau pasangan mu berbuat salah, ya sampean sebagai istrinya harus mencoba memperbaikinya. Satu sakit, yang satunya mengobati. Satu kurang, yang satunya juga menambahi. Iku nama e rumah tangga nduk”
Ya, aku yang meminta untuk menikah dengan Zean, jadi semua ini aku juga yang harus menyelesaikannya. Ku pejamkan mata ku. Berharap besok semua yang ku jalani akan lebih lancar.
Pagi hari di kota terasa sangat riuh, kemacetan dan asap kendraan adalah sarapan pagi yang selalu menemani para pejalan. Zean berangkat kekantor yang sebelumnya ia mengantar Melati ke kantornya terlebih dahulu. Di lobi ia berpapasan dengan Dita.
“Taa... akku mau bicara sebentar sama kamu” sapa Zean
“mau ngomong apa pagi-pagi gini?” tanya Dita ketus
“eehh di meja kamu aja lah yuk” ajak Zean
__ADS_1
Dita pun melangkah menuju mejanya dan duduk. Sangat terasa canggung bagi Zean dengan keadaan sekarang. Padahal dulu hubungannya dengan Dita sangat akrab.
“Taa... aku mutusin buat pisah dari Tiara” ucap Zean lirih
“apa kamu yakin? Jangan sampai kamu menyesal. Terus kenapa kamu ngomongnya sama aku?”
“iya aku yakin. Karena aku mencintai Melati. Dan kejadian kemarin membuatnya shyok banget” jelas Zean
“ha ha ha... Zean, kamu bilang dia ninggalin kamu? Gak mikir apa? Kamu selingkuhin dia boy. Dan kamu balik sama wanita yang dulu udah ninggalin kamu. Mudah banget ya mulut mu itu bilang kalau Tiara yang ninggalin kamu. Kalau pun dia ninggalin kamu, apa ada kamu usaha untuk cari dia? Tenangin dia? Jelasin semua ke dia? Nggak ada kan? Malah kamu bersyukur Tiara pergi dari rumah mu dan kamu bisa lebih leluasa untuk tinggal serumah sama simpanan mu itu” ucap Dita geram
“ya aku mau gimana lagi Taa. Aku nggak bisa ngelupain Melati”
“gini ya Zean, kamu nggak bisa ngelupain Melati atau kamunya yang nggak mau memperbaiki rumahtangga mu? Seandainya posisi mu di ballik. Kamu di posisi Tiara, apa yang akan kamu perbuat?”
__ADS_1
“dia terlalu egois Taa” elak Zean
“dia egois, tapi kamu tidak pernah mengajari istri mu untuk jadi orang yang bersabar, dia jahat karena kamu nggak ngjarin kebaikan sama dia. Dan dia sibuk karena kamu terlalu cuek dengan aktifitas istri mu. Jadi di sini, sebenarnya siapa yang salah sebenarnya? Melati hanya seorang yang datang di saat yang tepat. Di saat kamu nggak bisa memperbaiki sifat istri mu. Dan kamu lari dari kenyataan itu Zean” jelas Dita
Zean terdiam mendengar semua yang dikatakan Dita. Apa yang di katakan Dita sebenarnya adalah benar. Mungkin iya, Melati hanyalah seorang pelarian baginya. Tapi ia pun tak bisa menolak bahwa saat ini ia mencintai Melati.
“... kamu kamu udah siap pisah dari Tiara, aku bakalan bilang sama dia. Aku Cuma mau kasih kamu peringatan. Penyesalan itu datangnya di akhir”
Aku telah tiba di rumah ku. Rumah yang ku tempati bersama Zean. Rumah yang penuh dengan kenangan kami berdua. Aku memasuki rumah, ternyata pintunya tidak terkunci. “apa ada asisten rumah tangga yang bersih-bersih ya?” pikir ku. Aku masuk, kondisinya tetap sama seperti terakhir kali ku tinggali.” Mungkin Zean tidak pernah ingin merubahnya” batin ku lagi. Benar saja aku mendappati asisten rumah tangga yang baru di belakang rumah.
“owh non Tiara... saya Anggi non” sapa Anggi
Aku hanya tersenyum melihat nya. Seorang wanita yang kira-kira berumur 40 tahunan. Mungkin kareana aku tidak di sini jadi Zean memerlukan asisten rumah tangga. Aku naik ke atas meninggalkan Anggi menuju kamar ku. Aku sangat merindukan kamar ku. Hampi dua miggu aku minggalkan rumah ini. Aku membaringkan badan ku di atas kasur. Mengenang semua yang pernah kami jalani selama ini.
__ADS_1