
Andre menyusun semua perlengkapannya untuk berangkat ke Paris, ia sudah tak sabar ingin menjumpai Tiara di sana. Tak lupa ia juga membawa beberapa makanan kesukaan Tiara yang ada di kota ini untuk di bawa ke Paris. Ia yakin kalau Tiara sangat merindukan makanan dari sini.
"Aku akan berusaha untuk mendapatkan mu Raa, aku yakin kamu akan lebih bahagia bila bersama ku nantinya." gumam Andre sambil menyusun barang-barang nya.
________________
Arnold bergegas keluar dari apartemennya menuju basment tempat parkir mobilnya. Ia agak kesiangan untuk berangkat ke kantor, saat keluar dari parkiran ia melihat Tiara yang kebingungan di halte depan apartemen mereka. Ia pun menghampiri Tiara yang masih duduk di halte itu.
"Kamu nunggu sepupu mu ya?" tanya Arnold ke Tiara yang masih duduk di halte dengan mendekap erat kedua tangannya yang merasa dingin.
"Sepupu ku gak bisa jemput aku hari ini, dia lagi antar mami nya ke rumah sakit. Jadi aku di sini nunggu taxi buat ke kantor." jelas Tiara.
"Ayo berangkat bareng aku, kalau mau naik taksi nanti kamu terlambat." ajak Arnold.
"Gak usah, aku juga udah izin sama kepala bagian kok. Kamu duluan aja." ucap Tiara sambil tersenyum.
Arnold keluar dari mobilnya dan menarik tangan Tiara yang dingin. Dia sama sekali tidak memakai sarung tangan dan baju hangat yang tebal, jelas-jelas hari ini sudah memasuki akhir tahun.
"Dasar cewek aneh sudah tau ini musim dingin, pakaiannya malah seperti ini. Gak takut mati beku apa dia?" batin Arnold sambil melihat seluruh tubuh Tiara.
"Ayo masuk kalau kamu gak mau mati beku di sini." ucap Arnold sambil menarik tangan Tiara untuk masuk ke dalam mobil.
Setelah Tiara masuk ke dalam mobil, ia pun duduk di belakang kemudi mobil dan menghidupkan penghangat di mobil. Sesekali ia melihat ke arah Tiara yang masih meng gosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
"Kalau kamu gak pasang ini gimana kita mau berangkat? Kamu bukan anak-anak lagi, kalau naik mobil harus di pasangin seatbelt." oceh Arnold sambil memasangkan seatbelt Tiara.
Sakarang wajah mereka sangat dekat, karena gugup Tiara memalingkan mukanya ke kaca jendela mobil dan Arnold kembali mengemudikan mobilnya. Tiba-tiba jantung Arnold berdegup kencang karena tatpan mata Tiara tadi dan ia mengakui kalau Tiara benar-benar cantik. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di kantor.
"Makasih ya udah kasih aku tumpangan." ucap Tiara.
"Iya, dari pada ada kasus wanita mati beku nantinya mending aku tolongin. Lagian kita searah." ucap Arnold sambil berlalu meninggalkan Tiara.
Tiara mengikuti Arnold berjalan di belakangnya seperti anak itik mengikuti induknya. Tiara melihat postur tubuh Arnold yang lumayan tinggi dan keren, mungkin karena campuran itu jadi membuatnya cakep begitu.
"Cakep sih, tapi mulutnya kok pedes banget sih." gumam Tiara pelan.
__ADS_1
Mereka memulai pekerjaan seperti biasanya, dan Arnold sudah di mejanya sekarang mengamati Tiara dari jauh. Tiba-tiba ada pesan masuk di ponselnya yang ternyata dari Zean.
"Ok aku tau dia milik mu, sebentar saja aku menatapnya kau sudah memperingati ku." gumam Arnold sambil membuka ponselnya.
"file dokumen ku jangan lupa di antarkan, aku ada rencana mau keluar untuk terapi siang ini" tulis Zean
Arnold menepuk jidat nya karena lupa akan hal tersebut, ia pun bergegas mencari dokumen yang harus di kirim ke Zean secepatnya. Tiba-tiba dia ada inisiatif lain untuk pengantran dokumen. Ia berjalan menuju meja Tiara yang fokus dengan pekerjaannya.
"Kerjaan mu masih banyak? Aku butuh bantuan mu saat ini." ucap Arnold serius.
Tiara menghentikan pekerjaannya dan beralih menatap ke arah Arnold.
"Lumayan sih, kamu butuh bantuan apa?" tanya Tiara.
"Bantu aku antar dokumen ini ke apartemen Mr.Zee." ucap Arnold sambil memberikan tumpukan dokumen yang lumayan banyak.
"Aku yang antar...? Sendiri....?" tanya Tiara sedikit ragu.
"Kamu gak mau...?" tanya Arnold.
"Kamu bawa dokumen ini ke parkiran." ucap Arnold beranjak pergi
Tiara hanya diam melihat tumpukan dokumen yang ada di depannya saat ini, ada rasa kesal di hatinya saat ini.
"Kamu harus sabar ya Raa, dia memang pembully karyawan di sini." ucap Carlo yang menyaksikan mereka.
Aku pun turun sambil membawa dokumen yang di suruh oleh Arnold tadi, entah kemana akan ku antar dokumen ini aku pun belum tau. Aku bahkan tidak tau mau kemana mengantarkan dokumen tersebut. Saat tiba di parkiran aku masih kebingungan dengan apa yang di katakan Arnold, aku hanya mematung sambil memeluk dokumen-dokumen yang ada di tangan ku saat ini. Tiba-tiba ada sebuah mobil menghampiri ku dan ternyata itu adalah Arnold.
"Masuk..." perintah Arnold.
Tiara pun menuruti keinginan Arnold dan masuk ke dalam mobil.
"Kamu pakai ini...." ucap Arnold sambil melemparkan bingkisan ke arah Tiara.
"Ini apa...? Kenapa harus pakai ini...?" tanya Tiara saat tau kalau di dalam bingkisan itu adalah baju hangat.
__ADS_1
"Haruskah aku menjelaskan semuanya? Kamu gak tau sekarang suhunya sudah berapa?" tanya Arnold geram.
Aku hanya diam mendengar ucapan Arnold yang dari tadi memarahi ku. Seperti ada dendam pribadi terhadap ku di masa lampau. Melihat ku yang tak bergeming dari kursi ku, Arnold keluar dan menarik ku untuk keluar juga. Ia mengambil dokumen dan meletakannya ke kursi belakang mobil, lalu ia membukakan bingkisan itu dan memakaikan baju hangat ke tubuh Tiara, bukan hanya itu ia pun memakaikan syal ke tiara. Setelah selesai ia mendorong Tiara untuk masuk lagi ke dalam mobil.
"Ayo kita berangkat." ucapnya
"Arnold, nanti aku minta nomor rekening mu ya. Biar uang buat beli ini tadi aku ganti." ucap Tiara.
"Kamu pakai aja, lagian itu barang murah kok. Aku cuma gak mau nanti kamu beku saat antar dokumen dengan ku." ucap Arnold beralasan.
"Hmm... makasih ya, owh ya kenapa dokumen ini kita anatar ke apartemennya langsung? Memangnya Mr.Zee itu gak masuk kerja hari ini?" tanya Tiara penasaran.
"Iya, dia ada keperluan hari ini. Jadi kita harus antar dokumen ini secepatnya ke sana." ucap Arnold beralasan.
Tiara hanya mengangguk mendengar ucapan Arnold. Nampak di wajahnya kalau ia adalah seorang pekerja keras. Tak lama kemudian mereka tiba di apartemen Zean, karena Arnold memakai nama Mr.Zee Tiara tidak terlalu mengetahui kalau itu adalah Zean.
"Ini nomor kamar dan lantainya, aku tunggu kamu di sini." ucap Arnold.
"Kenapa kita gak antar berdua aja ke atas?" tanya Tiara.
"Aku masih banyak urusan yang harus ku kerjakan dari mobil, kamu antar itu dan aku menyelesaikan yang lain di sini." ucap Arnold sambil mengeluarkan leptopnya.
"Owh, baiklah kalau begitu." ucap Tiara sambil beranjak membawa dokumen ke kamar yang di tuju.
Arnold hanya tersenyum melihat ekspresi Tiara yang sedikit kesal karena di suruh pergi sendirian. Jelas saja kalau itu hanya alasan dia agar Tiara mau pergi sendirian ke apartemen Zean.
"Aku akan membantu kalian bersama lagi, dan kalian harus menyelesaikan maslah ini." gumam Arnold sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil.
Tiara membawa dokumen-dokumen itu menuju apartemen yang di sebutkan oleh Arnold. Setelah menemukan nomor kamar, ia pun memencet bel dan menunggu seseorang membuka pintu.
Ckleekk....
seseorang membukakan pintu.
"Hy aku mau antar dokumen-dokumen yang di minta Mr.Zee" ucap Tiara.
__ADS_1