Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 149


__ADS_3

Malam ini aku dan Zean akan pergi keluar, setelah mendapatkan izin Ari dokter Zean akan mengemudi dan kami akan pergi melihat menara Eiffel malam ini. Tak terasa tahun ini aku akan merayakan pergantian tahun di luar negri dan hanya berdua dengan Zean. Aku sangat mendambakan malam ini beberapa hari terakhir dan sangat bersemangat walau hanya memikirkannya saja.


"Kamu sudah siap Bii?" tanya Zean.


"Kenapa kamu lama sekali sampainya? Jam segini pasti sudah ramai di jalanan dan pasti akan macet di sana." omel ku sambil merapikan syal.


"Maaf Bii, aku ada urusan mendadak tadi. Laporan ku belum sempat terkirim, kalau belum selesai akan membuat ku semakin sulit nantinya." jelas Zean.


"Baiklah kalau begitu kita harus bergegas sebelum malam pergantian tahun baru di mulai. Aku gak mau ketinggalan perayaan malam pergantian tahun baru, ini moment pertama ku Zean." rengek ku.


"Baiklah sayang, kita akan tiba di Eiffel sebelum perayaan di mulai." ucap Zean.


Kami pun berangkat menaiki mobil Zean, dan yang pastinya saat ini tidak ada Paul bersama kali. Paul di izinkan Zean untuk libur beberapa hari jadi Zean yang menyetir mobil sendiri untuk sementara waktu. Jam sudah menunjukan 23.47 dengan gelisah aku melihat Zean yang fokus mengemudi.


"Apa kita akan tiba di sana tepat waktu?" tanya ku ragu.


"Aku akan cari jalan alternatif ya Bii, biar kita cepat sampai di sana." ucap Zean.


"Tapi ini sudah jam 23.47 Zean, mungkin tidak akan sempat lagi." ucap ku pasrah.


"Apa kamu benar-benar ingin melihat perayaan itu? Aku ada suatu tempat yang lebih menarik di bandingkan dengan Eiffel." ucap Zean.


"Kamu kan tu ini kali pertama aku merayakan pergantian tahun di Paris dan aku ingin melihat perayaan itu di Eiffel. Aku sudah searching beberapa hari yang lalu, nampaknya di sana sangat cantik jika perayaan malam tahun baru." ucap ku sambil menghembuskan nafas berat.


"Kalau tidak sempat aku akan membawa mu ke suatu tempat yang lebih indah di bandingkan Eiffel." bujuk Zean.


Dan jelas saja, karena jalanan yang macet dan kondisi jalan yang padat membuat kami benar-benar tidak dapat bergerak. Aku sudah pasrah dengan perayaan tahun baru, aku hanya diam melihat ke luar jendela. Zean masih fokus mengemudi dan melihat-lihat celah untuk bisa keluar dari kerumunan yang padat itu. Tak lama kami keluar terdengar suara petasan yang riuh dari atas yang menandakan kalau perayaan pergantian tahun baru sudah di mulai. Dan aku melewatinya tanpa melihatnya sama sekali hanya nampak cahaya terang dan dentuman keras yang memekakkan telinga. Tiba-tiba air mata ku mengalir seakan-akan mewakili kekesalan ku yang tidak dapat melihat perayaan pergantian tahun baru dan Zean menyadari itu.


"Kamu menangis Bii?" tanya Zean.


Aku yang kesal tidak menanggapi ucapan Zean dan mengusap air mata ku.


"Sorry Bii, aku benar-benar gak tau kalau kamu sangat ingin melihat perayaan itu. Dan aku mengacaukan semuanya." ucap Zean.


"Sudahlah, aku mau pulang." ucap ku dengan suara tertahan.

__ADS_1


"Kamu yakin mau pulang? Aku akan bawa kaku ke tempat lain yang lebih menarik Bii." bujuk Zean.


"Aku mau pulang Zean, lagian aku cuma mau lihat itu aja. Gak mau lihat yang lain." ucap ku ketus.


"Baiklah kalau begitu kita pulang." ucap Zean.


Aku memandang kesal ke arah Zean dan memalingkan kembali ke arah jendela.


"Dasar laki-laki gak peka, masa aku minta pulang dia dengan santainya mengiyakan ucapan ku. Kamu itu udah tau aku kesal dan ngambek gini apa susahnya sih di bujuk. Ngeselin banget sih jadi cowok." batin ku yang semakin kesal.


Zean memutar balik mobilnya dan mengambil arah jalan menuju apartemen ku. Tiba-tiba ia malah berbelok ke lain arah, namun karena kesal aku tidak mempertanyakannya.


"Aku lupa ambil pesanan ku Bii, kita mampir ke tokonya dulu ya." ucap Zean santai.


Aku hanya diam tidak menyahuti ucapan Zean. Seperti anak kecil yang merajuk akan kehilangan mainannya aku menekukkan muka ku. Zean yang melihat perlakuan ku tetap cuek dan melanjutkan mengemudinya.


"Owh Tuhaannn, sepertinya Zean benar-benar sudah tidak mencintai ku lagi. Dia bahkan sudah bisa mengacuhkan aku dan tidak membujuk ku seperti dulu." batin ku sambil memejamkan mata.


Mobil berhenti di sebuah bangunan megah yang aku yakin seperti hotel. Aku hanya diam saat Zean turun dari mobil dan tidak menanyakan kemana dia akan pergi. Ternyata Zean membukakan pintu ku dan membukakan seatbelt yang masih melilit tubuh ku.


"Emang paket apaan sih sampe harus tengah malam begini kamu ambil, gak bisa besok apa?" tanya ku yang masih kesal.


"Besok juga tidak bisa karena karyawannya libur semua. Please Bii tolong aku sekali ini aja." bujuk Zean.


Aku pun turun dan mengikuti langkah Zean dari belakang dengan di hiasi wajah yang masih cemberut. Kami menaiki lift menuju lantai 27. Tak lama kemudian pintu lift terbuka namun kondisi ruangan di sana sangat gelap dan membuat ku takut.


"Zean kamu pesan paket apaan sih sampe ngambil ke ruangan gelap begini?" tanya ku sambil membuka tas untuk mencari ponsel.


"Gak usah pakai lampu, di sini memang gelap. Tapi sebentar lagi akan terang." ucap Zean sambil menuntun ku berjalan.


Kami berjalan menuju sebuah kaca yang lebar dan menampakkan seluruh sisi kota akan ketinggian bangunan ini.


"Zean ini sangat cantik, kamu carilah paketnya. Aku akan menunggu di sini." ucap ku takjub melihat pemandangan di depan ku.


"Baiklah kalau begitu, sepertinya kamu menyukai tempat ini." ucap Zean.

__ADS_1


"Yaa, ini sangat mengagumkan." ucap ku.


Aku terpana menatap keluar ruangan, bahkan menara Eiffel pun nampak dari jendela ini dan masih tersisa beberapa petasan menghiasi langit malam. Namun aku tersadar jika suara Zean hilang hari pantauan ku dan membuat ku panik.


"Zean.... Zean kamu masih di sini kan?" tanya ku sambil berbalik.


Namun Zean sama sekali tidak menjawab pertanyaan ku dan membuat ku semakin panik.


"Zean.... Aku gak suka ya kamu becandain begini. Kamu kan tau aku takut gelap, Zean jangan main-main deh." ucap ku berjalan selangkah.


Namun tetap tidak ada jawaban dari Zean.


"Zean aku bakalan marah banget sama kamu sumpah." ucap ku kesal dan takut.


Tiba-tiba lampu ruangan hidup dan menyilaukan mata ku.


"Kejutaaann....." Teriak orang yang berada di dalam ruangan itu.


Aku yang benar-benar terkejut langsung jongkok karena belum menyadari siapa yang memberi ku kejutan. Aku membuka mata ku perlahan dan juga telinga ku yang sempat ku tutupi karena teriakan mereka. Ternyata di depan ku saat ini berdiri Dita, Richard dan Naya. Aku melihat mereka dengan pandangan tak percaya.


"Kalian, kok bisa sampai di sini? Maksudku kapan kalian ke sini? Kok aku gak di kabarin?" tanya ku terbata-bata sambil berdiri.


"Kami ke sini untuk liburan akhir tahun, dan Zean yang ongkosin tiket Klkan lumayan." ucap Dita.


Aku mencari-cari sosok Zean yang ternyata sudah berada di belakang ku. Ia memegang buket bunga mawar dan memberikannya ke pada ku. Aku menerima buket itu dengan wajah bahagia, tiba-tiba Zean menurunkan tubuhnya dan duduk di hadapan ku sambil membuka sebuah kota yang berisi cincin.


"Raa, maukah kamu menikah dengan ku lagi?" tanya Zean.


Aku yang melihat pengakuan Zean tiba-tiba menangis dan menganggukkan kepala secepat mungkin. Zean memasangkan cincin ke jari manis ku dan mencium mesra bibir ku dngan lembut.


"Aku akan berjanji membuat mu bahagia Raa." ucap Zean.


Aku mengangguk mendengar ucapan Zean dan memeluknya. Tiba-tiba aku teringat akan kehadiran sahabat-sahabat ku.


"Aku akan mewawancarai kalian setelah ini." ucap ku sambil memeluk Zean.

__ADS_1


__ADS_2