
Zean menunggu kepulangan Tiara. Entah kenapa ia sangat ingin cepat-cepat menemuinya. Namun sudah jam 20.00wib Tiara belum juga sampai di rumah. Ia mencoba menghubungi Tiara namun teleponnya tak tersambung. Tak lama kemudian ia mendengar suara pagar di buka, ia yakin itu Tiara yang pulang. Saat akan membukakan pintu Zean melihat Tiara di antar seorang laki-laki, dan itu bukan Andre. Ia sama sekali tak mengenal laki-laki tersebut. Saat Tiara masuk ke rumah, alangkah terk jutnyq Tiara melihat Zean yang berdiri di depan jendela.
"Kamu ngapain di situ? Bikin kaget aku aja" ucap ku
"Itu siapa yang antar kamu pulang barusan? Kenapa nggak pulang sama Dita?" Tanya Zean
"Owh, itu kakaknya Naya. Anak magang di kantor kalian" ucap ku sambil jalan meninggalkan Zean
"Kenapa kamu pulang sama dia?" Tanya Zean sambil mengikuti ku
"Dita tadi buru-buru, mau antar pesanan. Jadi nggak bisa antar aku" jelas ku
"Itu pasti alasan Dita aja kan? Dia mau comblangin kamu ke laki-laki barusan kan?" Tuduh Zean sambil emosi
"Aku nggak nyangka ya Zean, ternyata sifat kamu itu selain emosional kamu juga suka nuduh orang sembarangan ya"
"Iya apa lagi coba? Itu alasan klasik. Kalau memang nggak gitu, kenapa laki-laki itu harus ikut turun nganter sampai ke depan pagar? Harus ya kalian pulang berdua dan dia yang ngantarin. Aku tadi udah bilang kalau pulang kamu bisa telepon aku. Aku bisa jemput kamu" ucap Zean sambil berteriak.
Aku mencoba sebisa mungkin menahan emosi ku, agar situasi saat ini tidak semakin memanas.
__ADS_1
"Aku nggak berdua, di mobil ada Naya adiknya. Dia juga mau sekalian keluar, jadi sekalian juga antar aku" jelas ku pelan
"Kenapa kamu nggak telepon aku? Emang salah ya kalau suami jemput istrinya? Atau kamu emang suka di antar laki-laki itu?"
"Stop Zean, aku muak ya kamu tuduh-tuduh gitu. Harus aku bilang sama kamu kenapa aku nggak telepon kamu buat jemput aku? Aku nggak telepon kamu itu biar aku nggak ganggu kamu sama selingkuhan mu itu. Emang kamu yakin bakalan ninggalin selingkuhan mu itu demi jemput aku hah?" Ucap ku dengan mata melotot.
Zean pun terdiam mendengar ucapan ku. Aku yang berusaha menahan emosi dari tadi, akhirnya tak kuat lagi.
"Kamu tau Zean? Aku sudah meminta mu kembali ke aku kemarin. Tapi kamu tetap memilih wanita itu. Bahakan dengan yakinnya kamu bilang akan menceraikan aku di depan banyak orang. Kamu tau nggak Zean? Sebenarnya dalam agama kita ini sudah resmi bercerai. Aku bertahan di rumah ini menunggu surat cerai dari mu" ucap ku sambil menutup pintu kamar.
Air mata ku mengalir deras, menahan semua sakit hati akan tuduhan Zean terhadap ku. Terlebih saat aku mengatakan bahwa aku menunggu surat perceraian darinya. Sebenarnya dalam hati kecil ku, aku masih ingin memperjuangkan semua yang aku miliki. Namun, melihat sifat Zean yang telah berubah drastis membuat ku mengurungkan niat tersebut. Sudah cukup aku mengalah terhadapnya, dan bisa-bisanya juga ia memperlakukan aku seolah-olah aku yang bersalah. Entah di mana letak kesalahan ku, sehingga rumah tangga ku hancur tak bisa ku pertahankan.
"Kakak berapa lama di sini?" Tanya Naya
"Paling cepat satu Minggu, paling lama ya belum tau. Aku mau urus kerja sama ku dengan Andre dan membahasnya secara detail. Setelah itu, baru aku pergi lagi"
"Kenapa kakak nggak minta untuk di tempatkan di sini aja. Biar papi yang di sana?"
"Aku anak laki-laki Nay, jadi kalau bukan aku apa kamu mau ngelanjutin perusahaan papi?" Tanya Richard balik
__ADS_1
"Nggak sih, tapi kan aku sepi di sini sendirian. Aku sangat nggak mau kembali ke sana kak" ucap Naya dengan muka sedih
"Haruskah aku menyuruh orang untuk menemani mu di rumah itu? Mungkin bodyguard atau pelayan?"
"Kakak.... Aku nggak suka dengan hal semacam itu. Lagian aku bukan anak-anak lagi" Rajuk Naya
"Iya iya, aku mengerti. Nay, aku tau kamu masih belum bisa menerima Tante Mila, namun mau bagai mana pun dia sekarang istri papi. Jadi aku harap kamu bisa membiasakan diri"
"Aku nggak bisa kak. Sama sekali nggak bisa, wanita seperti itu nggak cocok di hormati. Wanita yang sudah merebut papi dari mami, aku membencinya"
"Nay, dia sama sekali tidak merebut papi. Apa kamu tidak melihat, betapa bahagianya papi sekarang. Semenjak mami meninggal, papi selalu sibuk. Dia bahkan tak pernah mau keluar dari ruang kerjanya. Namun sekarang, ia sudah tampak bahagia lagi. Tidakkah kau menyukai itu?"
"Entah lah kak, aku nggak mau bahas masalah ini lagi. Terlebih lagi mengingat namanya" ucap Naya tampak kesal.
Zean pun memanggil pelayan toko, dan meminta semangkuk ice cream lagi.
"Kenapa kakak pesan lagi?" Tanya Naya bingung
"Buat mu, biar hati dan fikiran mu nggak panas. Jadi aku pesan satu mangkuk besar ice lagi"
__ADS_1
Naya pun tertawa mendengar ucapan kakaknya tersebut. Untunglah, ia masih mempunyai kakak laki-laki yang sangat menyayangi dan memanjakannya. Entah apa jadinya jika saat kepergian maminya tak ada Richard, mungkin ia tak akan menjadi seperti sekarang ini. Ia sangat bersyukur dan sangat menyayangi Richard.