Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 112


__ADS_3

Selesai makan kami pun berencana langsung pulang, aku bingung bagaimana cara untuk memulai percakapan dengan Andre. Tak seperti biasanya aku sulit untuk mengungkapakan kecamuk di hati ku ke Andre.


"Kamu kok gelisah banget kayaknya Raa? Lagi ada masalah ya? Kamu bisa cerita ke aku loh" tanya Andre


"Owh, enggak Ndre. Aku cuma sedikit kurang enak badan hari ini, sepertinya mood ku juga kurang baik hari ini" ucap ku beralasan


"Kamu sakit? Perlu aku antar cek ke dokter? Kamu udah minum obat?" tanya Andre menjadi-jadi


"Aku baik-baik aja Ndre, cuma ya kurang mood untuk ngapa-ngapain gitu" jawab ku canggung


"Gimana kalau kita cari tempat untuk nongkrong, jadi kamu bisa cerita semuanya ke aku" tawar Andre


"Owh gak usah Ndre, aku cuma mau cepat pulang aja sih. Lagi gak nyaman di luar untuk saat ini" ucap ku menolak ajakan Andre


Andre hanya mengangguk mendengar ucapan ku, sepanjang jalan kami hanya diam membisu tanpa terucap kata sepatah pun. Setiba di depan rumah ku, aku mencoba memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya ke Andre.


"Eemm makasih ya Ndre udah ajak aku makan dan antar aku pulang juga" ucap ku berbasa-basi


"Udah, santai aja lagi. Tumben banget pake acara bilang terima kasih" ucap Andre meledek ku


Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya, dan tertunduk tidak enak.


"Aku tau Raa, kamu sedikit canggung dengan ku. Dan aku juga tau kalau kamu sekarang mengerti akan perasaan ku terhadap mu" ucap Andre tiba-tiba


Aku yang mendengar ucapan Andre hanya bisa terdiam dan tak berani untuk menatap wajahnya langsung.

__ADS_1


"Aku gak masalah kok Raa, kalau kamu belum bisa membalas perasaan ku. Aku enggak sama sekali maksa kamu buat suka dan membuka pintu hati mu untuk aku" ucap Andre lagi


"Tapi gimana dengan kaku Ndre? Mau sampai kapan kamu akan menutup pintu hati mu untuk orang lain demi aku?" tanya ku tiba-tiba


"Aku masih belum tau Raa, dan juga aku masih belum terbiasa untuk itu" jawab Andre


"Kamu harus mencoba dan terbiasa untuk hal baru Ndre, aku gak mau jadi penghalang kamu" ucap ku


"Aku akan mencoba saat aku benar-benar lelah akan semua ini Raa, jadi tolong biarkan aku mencintai mu. Walau pun tak ada harapan untuk ku" ucap Andre sambil memegang tangan ku


Aku menarik lagi tangan ku dari genggaman Andre, entah kenapa rasanya sedikit berbeda dari genggaman yang selama ini ku kenal.


"Aku harap kita masih bisa seperti biasanya ya Raa, walau pun kamu tau kalau aku ada perasaan sama mu. Aku mau kamu tetap jadi Raa yang aku kenal" ucap Andre


"Mungkin agak sedikit sulit bagi ku Ndre untuk biasa saja saat ini, tapi aku sangat berterima kasih karena kamu sudah berusaha memberi tahukan ini semua ke aku" ucap ku sambil membuka pintu mobil


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Andre, ada sedikit rasa canggung dengan keadaan sekarang. Aku berdiri di depan pintu rumah ku dan mencari-cari kunci rumah di dalam tas, tiba-tiba pandangan ku tertuju pada kotak pos yang menempel di dinding rumah. Ada beberapa surat, dan aku pun mengambilnya. Aku membuka pintu dan menuju ke kamar, mengganti pakaian dan mencuci muka. Tak lama ku dengar seseorang masuk ke dalam rumah, aku pun keluar dari kamar dan mencoba mencari tau siapa yang datang.


"Loh, kamu belum tidur Raa?" sapa Dita yang baru pulang


"Kok kamu udah pulang? Tumben banget ush pulang jam segini" ucap ku sambil melihat jam dinding


"Aku sedikit kurang nyaman untuk jalan hari ini Raa, jujur aku masih belum bisa ninggalin kamu sendirian" ucap Dita yang duduk di sofa


"Kamu jangan gitu dong, kasian Richard kalau kamu giniin. Lagian kamu gak usah terlalu gitu banget kali Taa, aku sekarang udah baik-baik aa kok Taa. Lagian aku tadi juga udah cerita semua ke Andre, dan Andre juga enggak maksa aku kok" ucap ku santai

__ADS_1


"Jadi kamu tadi ketemuan sama Andre? Ya walaupun gitu Raa, aku masih kepikiran. Takut kamu depresi terus ngelakuin hal yang aneh-aneh" ucap Dita panik


"Apaan sih....? Alay banget deh" ucap ku sambil meninggalakan Dita di ruang keluarga


Dita memutuskan untuk tinggal bersama ku semenjak kejadian itu, ia merasa aku sedikit depresi dengan kejadian yang aku alami. Dan rumahnya sekarang di urus oleh adik ibu Dita yang dulunya masih ngontrak.


Aku bersiap-siap untuk tidur, namun mata ku pun tertuju pada tumpukan amplop surat yang ku pungut tadi pas masuk ke dalam rumah. Biasanya surat-surat itu hanya berisikan tawaran pinjaman bank atau asuransi, jadi aku tidak terlalu open akan hal tersebut dan mengabaikannya. Tapi aku penasaran pada satu surat dan mencoba membukanya. Saat membuka surat itu mata ku langsung saja terbelalak seakan-akan dapat mengeluarkan bola mata ku.


"TAA.... DITAAAA...." teriak ku sambil bangkit dari kasur


Dita yang mendengar teriakan ku, langsung panik dan menghampiri ku sambil berlari.


Braaakk..... pintu kamar ku terbuka


"Ya ampun tuhaannn.... Apaan si Raa? kamu sampe teriak-teriak begitu, bikin aku jantungan tau enggak?" tanya Dita sedikit marah


"Nih lihat, aku lolos. Aku dapat tawaran kerja, aku senang banget tau gak sih?" ucap ku sambil memeluk Dita


"Apaan sih, sini lihat. Emang kapan kamu melamar pekerjaan? kok aku enggak tau?" tanya Dita penasaran


"Yaa waktu kalian ngira aku depresi, kamu liat ini. Aku dapet kerjaan di VV company, ini perusahaan besar tau enggak" ucap ku bangga


"What....? VV company? Berarti itu di...." Dita berfikir


"PARIISSS....." teriak ku senang

__ADS_1


Aku melompat-lompat kegirangan bagai anak kecil yang mendapatkan boneka besar. Hati ku sangat bahagia dan entah kenapa aku sangat ingin cepat ke sana.


__ADS_2