Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 111


__ADS_3

Tak lama kami berbincang, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah ku. Aku dan Dita pun saling berpandangan merasa tidak ada janji dengan siapapun hari ini.


"Selamat siang, aku cari Dita ke rumahnya tapi dia gak ada. Dita di sini gak Raa?" tanya Richard yang berdiri di depan pintu rumah ku


"Owh kamu cari Dita... Tuh dia ada di dalam, masuk yuk" ajak ku


"Gak apa-apa nih...? Kalau enggak aku tunggu di sini aja" uca Richard sungkan


"Udah... Masuk aja, santai aja lah. Kamu kan calon suami sahabat aku, jadi kamu nanti bakalan jadi sahabat aku juga" ucap ku sambil tersenyum


Richard pun masuk setelah persetujuan ku, ia baru pertama kali masuk ke dalam rumah ku ini. Walau pun dia sudah sangat membantu ku selama inj, tapi Richard jarang untuk mau masuk ke dalam rumah ku.


"Siapa sih Raa yang datang? Lama banget di luar" tanya Dita yang masih menatap televisi


"Ya calon mu lah..." ucap ku sambil membalikan kepala Dita


Dita yang melihat Richard berdiri di belakangnya langsung melompat mendekati ku.


"Kamu ngapain ke sini...?" tanya Dita kaget


"Emang aku enggak boleh ke sini ya?" tanya Richard


"Ya boleh sih, tapi kan biasanya bikin janji dulu. Atau gak kamu telepon aku dulu, enggak langsung ke sini aja" ucap Dita


"Iya aku tadi udah ke rumah kamu, tapi kosong. Jadi aku inisiatif buat ke sini sendirian, karena aku yakin kamu pasti di rumah Tiara" ucap Richard


"Udah deh, kok pada debat sih? Ayo duduk, kamu mau minum apa?" tanya ku ke Richard


"Owh gak usah Raa, aku ke sini cuma mau ngajak Dita jalan aja" jawab Richard terus terang


Dita langsung menatap ku, seolah-olah dia tak enak jika meninggalkan ku sendirian. Terlebih lagi ini malam minggu, wajar menurut ku jika mereka akan menghabiskan waktu bersama.

__ADS_1


"Kayaknya aku enggak bisa pergi deh, aku sedikit gak enak badan nih" ucap Dita tiba-tiba


Aku yang tau jika itu hanya akal-akalan Dita saja langsung membantahnya.


"Owh kamu kok tiba-tiba sakit? Mungkin karena belum makan kali ya. Ya udah sana makan bareng Richard, aku mah tadi udah makan" ucap ku bersandiwara


"Apaan sih Raa, tadi aku juga udah makan kok. Aku emang sedikit gak enak badan" elak Dita


Aku mengambil tas Dita dan menariknya untuk berdiri, lalu aku mendorongnya berjalan keluar rumah ku.


"Kalau kamu sakit, sekalian aja cek ke dokter sama Richard. Aku masih trauma sama yang namanya dokter" ucap ku sambil tersenyum


Melihatku yang sedikit mengusirnya pergi, Dita tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan ku. Ia pun menaiki mobil Richard tanpa menoleh ke arah ku lagi, mungkin ia sedikit kesal dengan perlakuan ku.


"Makasih ya Raa, kami pergi sebentar ya. Enggak bakalan lama kok, kamu mau titip apa?" tanya Richard


"Biasa aja iih, aku mah paham dengan situasi kalian. Aku yang malah minta maaf, karena sibuk ngurusin aku Dita jadi sedikit waktunya sama kamu" ucap ku


"Ya udah, kami jalan dulu ya Raa" ucap Richard


"15 menit lagi aku sampai ke rumah mu, kita makan di luar yuk" tulis pesan tersebut yang tak lain pengirimnya adalah Andre


Cukup lama aku memandangi layar ponsel ku, aku berfikir sejenak. Akankah aku terima ajakan dari Andre, atau ku tolak saja. Namun aku pun menuju kamar dan mengganti pakaian ku.


"Aku harus menjelaskan semuanya ke Andre, agar dia tidak terlalu berharap lebih terhadap ku" oceh ku sendiri


Tak lama aku mendengar klakson mobil yang menandakan jika Andre sudah tiba dan menunggu ku di depan. Aku pun segera turun untuk menemuinya.


"Hy Ndre, kamu dari kantor langsung ke sini ya?" tanya ku saat melihat pakaian Andre


"Iya, tadi ada rapat di kantor. Jadi aku pulang agak terlambat dan langsung ke sini" jelasnya

__ADS_1


"Kenapa kamu gak pulang dulu? Kan rumah kamu duluan baru rumah aku" tanya ku


"Iya aku pikir nanti kalau aku pulang dulu, terus mandi dan ganti pakaian bakalan kemalaman. Nanti kamu lapar jadinya, emang aku bau ya?" tanya Andre tiba-tiba


Aku yang mendengar pertanyaan Andre itu pun langsung tertawa terbahak-bahak. Aku gak menyangka jika Andre berfikir seperti itu.


"Apaan sih...? Aku nanya serius kamu malah ketawa" ucap Andre


"Iya bukan gitu sih, habis kamu bisa-bisanya nanya gitu ke aku" ucap ku yang masih menahan tawa


"Aku serius Raa, aku bau ya? Kalau gitu kita mampir ke apartemen ku dulu. Aku mandi terus kita pergi makan" usul Andre


"Udah gak usah, lagian ngapain sekarang baru mau mandi. Kamu enggak bau Ndre, cuma ya aku heran aja. Biasanya kamu kan sosok pembersih banget gitu, tiba-tiba ngomongin diri sendiri bau. Ya lucu dong" ucap ku yang masih menahan tawa


"Ya habis ku kira nanti kemalaman. Jadi aku langsung aja gitu" jawabnya


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Andre, sosoknya yang membuat ku selalu tertawa ini lah yang membuat ku susah untuk menjauhi dia. Tapi untuk perasaan, aku sama sekali tidak memiliki perasaan lebih terhadap Andre.


Tak lama, kami tiba di sebuah cafe yang tidak terlalu ramai namun cukup seru dengan ornamen lampu hias yang berkedip-kedip di dinding cafe nya.


"Kamu mau apa pesan aja" ucap Andre


"Owh aku mau makan mie..." mata ku tertuju ke sebuah mie ramen yang kelihatannya enak, namun Andre dengan cepat menarik menu ku


"Kaku gak boleh makan mie, kalau gitu biar aku yang pesan" ucap Andre mematahkan selera ku


"Kok gitu sih...? Tadi kan kamu bilang pesan aja" rengek ku


"Iya, tapi enggak mie juga kali Raa. Kamu harus mikirin kesehatan mu dong" ucap Andre menasehati


"Iya... tapi aku kan udah lama gak makan mie" ucap ku memelas

__ADS_1


"Udah jangan macam-macam deh, kamu jadi orang nurut dikit kek" omel Andre


Aku hanya diam mendengar omelan Andre, dengan sedikit manyun ku alihkan pandangan ku ke sisi luar cafe. Ada rasa kecewa karena tak jadi menikmati mie ramen yang bayangannya sudah menggantung di tenggorokan ku.


__ADS_2