Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 147


__ADS_3

Zean selesai mendatangi rumah sakit untuk check up ulang, selesai pemeriksaan ia pun bergegas masuk ke dalam mobil dan meminta Paul untuk mengantarnya ke rumah Tiara. Tak butuh waktu lama ia sudah sampai di apartemen tempat Tiara tinggal, namun ia mengurungkan niat untuk mengetuk pintu rumah Tiara. Ia beralih ke depan rumah Arnold dan mengetuk pintunya namun tidak ada jawaban dari dalam. Zean mencobanya beberapa kali dan ternyata ia benar-benar tidak sedang di rumah. Zean memutuskan untuk beralih ketempat Tiara, mungkin saja Arnold sedang berada di sana pikirnya.


Tok.... Tok.... Tok....


Pintu pun terbuka, nampak wajah sumringah Tiara menyambut kedatangan Zean.


"Hy... Kamu sudah selesai check up?" tanya Tiara.


"Iya aku langsung kesini setelah selesai check up." ucap Zean.


"Masuklah, aku akan buat makan malam untuk mu. Kamu pasti lapar kan?" tanya ku.


"Ya, ada rencana masak apa hari ini? Bagaimana kalau kita pesan antar aja? Dari pada kamu capek-capek masak. Jadi kita bisa bersantai." ucap Zean memberi saran.


"Hmm baiklah, bagaimana kalau kita memesan pizza?" tanya ku.


"Baiklah, aku akan memesannya. Ada tambahan lain?" tanya Zean.


"Tidak, aku akan buatkan kamu latte." ucap ku meninggalkan Zean.


Aku berjalan ke dapur dan mengambil cangkir dan membuatkan latte untuk Zean, tiba-tiba ada sepasang tangan yang melingkar di pinggang ku dan membuat ku tersentak kaget.


"Zean.... Kamu itu ngagetin aku tau." ucap ku sambil memukulnya manja.


"Aku merindukan mu Bii, aku ingin cepat-cepat dapat izin dari dokter untuk mengemudi agar kita bisa pergi jalan-jalan." ucapnya sambil meletakan kepalanya ke pundak Tiara.


"Aku yakin dokter akan memberikan izin secepatnya dan kita akan pergi ok." bujuk ku.


Aku melepaskan pelukannya dan berbalik menghadap ke arah Zean. Aku mengecup kening dan mengusap lembut kepalanya.


"Aku akan bersabar menunggu kamu benar-benar pulih, jadi jangan memaksakan diri ok." ucap ku menyemangati.


"Baiklah jika kamu sudah berkata demikian aku menjadi sedikit lebih tenang." ucapnya.


Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar, dan seperti yang sudah di perkirakan itu adalah pengantar pizza.

__ADS_1


"Biar aku yang ambil pizza-nya." ucap Zean berjalan untuk membuka pintu.


Tiara meletakan minumannya di meja ruang keluarga dan menghidupkan Tv. Tak lama kemudian Zean datang dengan membawa dua kotak pizza di tangannya.


"Kamu beli pizza sebanyak itu?" tanya Tiara tak percaya.


"Iya, aku fikir mungkin kamu lapar jadi aku beli dua. Dan juga ini aku beli dengan toping yang berbeda." ucap Zean polos.


"Zean, kita hanya berdua. Dan kamu beli dua pizza dengan ukuran large gini, siapa yang bakalan habisin?" tanya ku sedikit kesal.


"Bagaimana kalau kita undang Arnold ke sini dan Paul? Kalau rame kan lebih cepat habisnya." saran Zean.


"Arnold pulang ke rumah keluarganya dan gak bakalan pulang ke sini beberapa hari. Kalau kamu mau undang Paul ya gak masalah." ucap ku sambil membuka pizza.


"Ya sudahlah kita berdua aja yang habisin, kebetulan aku juga belum makan dari siang. Kalau gak habis kan bisa di simpan di kulkas." saran Zean.


Inilah kebiasaan Zean yang tak pernah berubah, selalu membeli makanan yang berlebihan. Akhirnya mereka makan malam dengan pizza sambil menonton Tv berdua. Zean sesekali menatap Tiara yang fokus menonton sambil melahap potongan pizza-nya.


"Aku sengaja beli pizza ini lebih Bii, aku tau kebiasaan mu yang tengah malam bangun dan kelaparan. Di tambah lagi kamu sedikit kurus di banding dulu saat kita masih di Indonesia." batin Zean sambil menatap Tiara lembut.


_______________


"Owh tuan, ada kepentingan apa tuan kemari?" tanya Lucy terkejut.


"Kenapa kamu selalu menanyakan hal yang sama setiap kali aku kemari? Apa aku tidak boleh mengunjungi mu jika tidak ada kepentingan?" tanya Andre sedikit kesal.


"Bukan.... Bukan begitu tuan, akan sangat merepotkan jika tuan yang mengunjungi ku seperti ini. Jika tuan butuh sesuatu cukup telepon dan aku akan langsung menemui anda." ucap Lucy sambil menundukkan kepala.


"Ayo keluar, temani aku makan malam." perintah Andre.


"Tapi aku akan memasak mie instan, aku sudah merebus air." tolak Lucy.


"Aku tunggu kamu di sini 15menit." ucap Andre tanpa mendengar penolakan dari Lucy.


Lucy bergegas ke kamarnya dan mengambil baju hangat dan syal, tak lupa ia mengambil sarung tangan dan tasnya. Gara-gara di kejar-kejar oleh waktu ia pun terengah-engah saat berdiri di hadapan Andre.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kamu udah siap kita pergi." ucap Andre berjalan tanpa menunggu Lucy.


Lucy yang tertinggal di belakang karena mengunci pintu berlari kecil agar cepat sampai di belakang Andre. Mereka pun pergi ke sebuah restoran, Andre memesan beberapa makanan dan minuman. Tanpa banyak bercerita mereka memakan makanan masing-masing dan menikmatinya.


"Makanlah yang banyak dan mulai malam ini kamu buang semua mie instan yang ada di rumah mu itu." ucap Andre tiba-tiba.


"Tapi aku baru saja membelinya tuan." ucap Lucy.


"Aku akan mengganti uang mu. Belajarlah hidup sehat." ucap Andre.


Lucy hanya diam an melanjutkan makannya, tak lama kemudian mereka pun selesai dan keluar dari restoran. Lucy masih mengikuti Andre dari belakang sambil menatapnya sesekali. Tiba-tiba Lucy menghentikan langkahnya.


"Tuan.... Bisakah tuan jangan terlalu baik kepada saya?" tanya Lucy tiba-tiba.


Andre menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Lucy.


"Kenapa? Apa kamu lebih suka di tindas dari pada di pelakukan dengan baik?" tanya Andre penasaran.


"Bukan begitu tuan, saya takut jika tuan terlalu baik kepada saya dan selalu membelikan ini itu ke saya." ucap Lucy.


"Takut...? Aku tidak akan memotong gaji mu. Aku mengajak mu makan karena memang aku malas untuk makan sendirian." ucap Andre.


"Bukan itu tuan, aku takut jika aku tidak bisa mengendalikan perasaan ku kepada tuan. Mungkin aku terlalu lancang akan perasaan ini, dan tidak bermaksud apa-apa. Tapi akan lebih mudah bagi saya untuk mengubur perasaan ini jika tuan sedikit acuh dan tidak memperdulikan ku." ucap Lucy.


Andre melangkah mendekati Lucy sambil menatapnya. Ia tak menyangka jika wanita ini memiliki perasaan terhadapnya dan bersedia melepas itu semua karena merasa tak layak.


"Kalau begitu kau tidak perlu menguburnya dan aku akan terus datang untuk mu." ucap Andre.


"Maksud tuan...?" tanya Lucy penasaran.


"Aku akan mencoba menerima perasaan mu itu walau saat ini masih belum terbiasa. Tapi jika kita sering bersama mungkin perasaan ku pun akan berubah terhadap mu." ucap Andre membelai kepala Lucy.


"Terima kasih tuan....." ucap Lucy bahagia.


"Apakah seperti ini panggilan sepasang kekasih?" tanya Andre.

__ADS_1


"Aku tidak tau harus memanggil anda dengan sebutan apa." ucap Lucy tersipu malu.


"Terserah mu, apa yang akan kamu ucapkan aku akan menerimanya." ucap Andre menggandeng tangan Lucy dan membawanya melangkah menuju mobil.


__ADS_2