Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 67


__ADS_3

Kami keluar dri ruang sidang, ayah hanya terdiam dari tadi tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun. Aku pun mengajak ayah untuk pulang. Sidang perceraian ku yang ke dua akan di adakan dua minggu lagi, jadi aku pun memilih pulang ke tempat ayah.


"yah, kita pulang ya. Tapi kita makan dulu, ayah lapar kan?" tanya ku


"ya terserah mu lah nduk, aku ikut aja" ucap ayah


Ayah pun kembali diam dan tak bersuara, hening ku rasa di dalam mobil saat ini. Walau pun aku menghidupi musik di mobil,,, terasa sepi di dalam mobil. Tiba-tiba Zean mengirim ku pesan.


"kamu sudah pulang Raa?" tulis Zean


Aku mengabaikan pesan dri Zean, karena ingin memfokuskan untuk menyetir. Sebenarnya aku sangat ingin meneleponnya dan menanyakan Kenapa dia tak hadir di persidangan.


Kami telah sampai di restoran, aku pun memesan makanan dan minuman. Karena ingin menelepon aku pun minta izin ke ayah untuk ke toilet.


"yah Tiara ke toilet sebentar ya, nanti ayah makan duluan aja kalau makanannya udah sampai" ucap ku


"iya, kamu jangan lama-lama. Ayah makan tunggu kamu saja, nggak enak kalau mau makan sendirian" ucap ayah


Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan ayah, dan berlalu ke toilet. Setiba di toilet, aku pun mencoba untuk menghubungi Zean.


"hallo, Kamu dimana?" tanya ku setelah telepon di angkat


"aku di rumah, kamu di mana sekarang?" tanya Zean balik


"hmm, aku lagi ngajak ayah makan"

__ADS_1


"owh, iya makan lah. Ini sudah sangat terlambat untuk makan siang"


"kamu tadi kenapa nggak datang ke persidangan?" tanya ku penasaran


"aku memang sengaja nggak datang, bagai mana sidangnya? lancar kan?"


"iya lancar, mungkin karena kamu nggak datang itu, jadi lebih mudah"


"Raa, apakah kamu sekarang membenci ku?"


"kamu sudah bertanya itu berkali-kali"


"aku hanya memastikan"


"jadi, kenapa kita tak bisa bersama-sama lagi?"


"seperti yang ku katakan, prinsip kita sekarang sudah berbeda. Walau pun kamu sudah meninggalkan wanita itu, kita sama sekali tak sejalan"


"apakah kamu bahagia lepas dari ku?"


"aku sedikit sedih Zean, tapi aku harap ini awal kebahagiaan kita berdua"


"baiklah kalau begitu. Kamu makan di mana aku akan menemui kalian"


"untuk apa?... Aku makan sama ayah"

__ADS_1


"ada hal yang harus aku sampaikan"


"aku di restoran biasa kita makan. Kamu bisa ke sini"


"ok baiklah, aku akan segera ke sana. Bye"


Aku pun menutup telepon, dan memandang diri ku di cermin toilet. Aku sangat tak menyangka kalau pernikahan ku hanya bertahan Enam bulan dan akan segera berakhir.


Aku keluar dari toilet dan melenturkan mimik muka ku. Aku tak ingin terlihat sedih di depan ayah, karena itu akan membuatnya jauh semakin sedih.


"makanannya udah datang semua?" tanya ku sambil tersenyum


"sepertinya sudah, kenapa kamu lama di toilet?"


"iya, Raa kebelet dari di pengadilan tadi. Tapi di sana tadi rasanya kurang nyaman" ucap ku beralasan.


"ya kalau kebelet jangan di tahan-tahan, jadi penyakit. Ayo makan, ini sudah sore" ucap ayah


"iya yah, Raa juga udah laper banget. Tapi syukur ya yah, sidangnya nggak ada masalah"


"ya alhamdulillah nduk"


kami pun makan bersama, melihat ayah makan dengan lahap aku merasa sedikit lega. Karna masalah ini tidak mempengaruhi nafsu makan ayah.


Aku tidak memberi tahu bahwa Zean akan datang ke sini untuk menemui kami, aku takut saat ayah tau dia tak mau menemui Zean. Jadi aku terpaksa menyembunyikan ya.

__ADS_1


__ADS_2