
Aku pergi ke kediaman mertua ku, niat ku untuk ziarah ke makan Zean sekalian berpamitan ke keluarga di sana. Mau bagaimana pun, aku masih menganggap keluarga Zean seperti keluarga ku sendiri. Aku di temani Dita dan Richard ke tempat mertua ku, pas kebetulan jadwal mereka juga lagi kosong. Setiba di sana kaki di sambut dengan hangat oleh keluarga Zean.
"Masuk mbak, kami udah nungguin dari tadi loh" ucap Adi
"Iya Dii, ada siapa aja di rumah Dii?" tanya ku
"Ada bapak, ibu sama mbak Nana. Mereka baru sampai ke sini kemarin" ucap Adi
"Maaf ya Dii, semenjak terakhir kali aku ke sini aku sama sekali enggaknada kabar lagi" ucap ku menyesal
"Aku ngerti kok mbak, gak semudah itu menerima ini semua" ucap Adi sambil tersenyum
Aku pun masuk ke dalam rumah mertua ku, di sambut oleh mbak Nana yang sudah menunggu dari tadi. Mbak Nana spontan memeluk ku dengan kuat, dan aku pun tak dapat menahan air mata ku.
"Yang sabar ya Raa, kamu pasti kuat" ucap mbak Nana
"Kita sama-sama kehilangan mbak, Raa cuma berharap kita semua di beri kesehatan" ucap ku membalas pelukan mbak Nana
Mbak Nana membawa kami masuk, dan menyuguhkan beberapa makanan ringan. Mbak Nana adalah kakak perempuan Zean yang paling besar. Dia sudah berkeluarga dan memiliki seorang putri, tak lama kemudian ada ibu dan bapak yang menemui kami di ruang keluarga.
"Raa, kamu udah lama sampai?" tanya ibu
"Baru saja bu, Raa barusan aja ngobrol sama mbak Nana dan Adi. Ini teman Raa bu Dita dan ini calonnya Richard" ucap ku sambil memperkenalkan mereka
__ADS_1
"Owh iya...iya... Ibu ingat sama Dita, dia sahabat kamu itu kan? Yang bantuin nikahan kalian kemarin" ucap ibu
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan ibu, ku lihat bapak sedikit kurus. Mungkin karena masih kepikiran akan anaknya yang sudah tiada.
"Bapak gimana? Udah mendingan sekarang?" tanya ku
"Yaa bapak mah begini-begini aja Raa, alhamdulilah lebih mendingan" ucap bapak dengan nada sedikit sedih
"Jadi, maksud kedatangan Raa kesini ada sesuatu yang harus Raa sampaikan ke keluarga sini" ucap ku memulai percakapan
"Ada apa Raa...? Kok serius banget?" tanya ibu cemas
"Raa mau berpamitan dengan keluarga disini, Raa berencana akan pindah dari kota" ucap ku serius
Semua orang terdiam mendengar ucapan ku, dan mbak Nana sedikit cemas melihat ku yang akan pindah.
"Bukan gitu mbak, Raa ada tawaran kerja di tempat lain yang harus meninggalakan kota ini. Jadi kemungkinan besar nanti rumah itu bakalan kosong" ucap ku menjelaskan
"Owh, ibu kira kamu enggak betah lagi di sana Raa. Mau bagaimana pun kan itu peninggalan Zean Raa, cuma kamu yang berhak mengurus semuanya" ucap ibu
"Iya bu, Raa ngerti dan sangat berterima kasih karena keluarga di sini sangat mengerti Raa dan menyayangi Raa seperti anak sendiri" ucap ku sedih
"Semenjak Zean memutuskan untuk menikahi mu, ya kami juga sudah sangat mendukung dan menerima mu menjadi bagian dari kami Raa. Tak ada perbedaan sama sekali yang kami buat, bahkan bapak sangat sedih saat kalian akan memutuskan berpisah kemarin. Bapak tau kalau itu salah Zean, dan sangat menyayangkan itu semua terjadi. Bapak minta maaf ya Raa, belum bisa mendidik anak yang baik buat jadi suami mu" ucap bapak sedih
__ADS_1
"Enggak pak, itu salah kami sama-sama. Dan Raa juga minta maaf sama keluarga di sini buat semua perilaku Raa yang mungkin kurang pantas selama ini" ucap ku
Kami pun tersenyum dan menghabiskan waktu beberapa saat untuk berbincang-bincang. Agar tidak terlalu sore, aku pun memutuskan untuk ziarah ke makan Zean, sekalian berpamitan dengan keluarga di sini. Adi menemani kami ke makan Zean.
"Hati-hati ya Raa, jaga kesehatan mu" pesan ibu
Aku hanya tersenyum mendengar pesan ibu dan melambaikan tangan ke arah beliau. Ada rasa sedih meninggalkan mereka, entah kapan aku akan menjumpai mereka lagi. Setiba di makan Zean, aku yang berusaha tegar tetap menangis melihat gundukan tanah yang ada di depan ku saat ini.
"Raa, kamu harus kuat. Udah jangan sedih-sedih lagi ah" ucap Dita menenangkan ku
"Aku masih belum sepenuhnya bangkit Taa, hati ku masih belum bisa menerima" ucap ku
Aku mencoba tetap kuat dan duduk di sebelah makan Zean, ku lihat batu nisan yang bertuliskan namanya. Aku sungguh masih belum percaya kalau Zean meninggalkan ku lebih dulu.
"hy.... maaf aku baru datang ke sini lagi, aku masih belum yakin kalau kamu benar-benar pergi ninggalin aku. Aku masih berharap ada kamu di samping ku saat aku bangun tidur, bahkan masih merasakan kalau kamu ada di sisi ku. Zean, mungkin aku akan lama untuk ke sini lagi. Aku mendapat tawaran pekerjaan di luar negeri, ini salah perusahaan yang aku impikan selama ini. Aku akan selalu mendoakan kamu, walau aku gak bisa kesini. Kamu baik-baik ya, aku sayang kamu Zean. Aku pamit ya, doain aku juga biar bisa terbiasa akan semua ini" ucap ku sambil memegang nisan Zean
Aku melangkah pergi meninggalkan makam Zean, ada rasa enggan ku untuk pergi dari sini. Tapi Dita menuntun ku dan meyakinkan semua akan baik-baik saja. Richard sudah menunggu kami di mobil, aku melarangnya turun karena kami hanya sebentar saja.
"Dii, aku langsung pulang ya" ucap ku pada Adi
"Iya mbak, mbak sehat-sehat ya. Jangan sedih lagi ya mbak" ucap Adi
"Hmm kamu juga ya Dii, aku akan sering-sering hubungin keluarga di sini" ucap ku sambil menepuk bahu Adi
__ADS_1
Kami pun berpisah jalan dengan Adi yang menggunakan sepeda motor. Kami pun menuju jalan pulang, hati ku ada sedikit rasa lega setelah mengucapkan semuanya ke keluarga mertua ku. Hanya ada juga sedikit sedih akan berpisah dengan mereka.
"Paris i'm coming" batin ku