Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 142


__ADS_3

Zean sudah pulang dari rumah Tiara, dan kini hanya tinggal Arnold di sana. Sudah hampir setengah jam Tiara diam seperti memikirkan apa yang barusan terjadi.


"Sampai berapa lama kamu akan diam seperti itu?" tanya Arnold.


"Apa aku melakukan kesalahan untuk menolaknya kembali?" tanya Tiara balik.


"Tanyakan itu pada hati mu, bagaiman hati mu saat ini. Apa masih mau bersamanya atau melepaskannya. Cobalah untuk berdamai dengan situasi ini." ucap Arnold.


Tiara hanya diam memutar-mutar cincin yang melingkar di jari manisnya itu, ia masih bingung dengan keadaan saat ini.


"Ayo keluar, siapa tau setelah ini kau menemukan jawaban dari lubuk hati mu itu." ucap Arnold.


Mereka pun pergi dan menghabiskan waktu bersama, berharap Tiara dapat memulihkan hatinya dan berfikir jernih untuk semua masalah yang saat ini menyerangnya.


___________________


Andre mengurus beberapa administrasi rumah sakit, sedangkan Lucy membereskan barang-barangnya dan memasukan ke dalam tas untuk di bawa pulang. Setelah selesai Andre mendatangi Lucy yang juga sudah bersiap-siap untuk pulang. Setelah semua urusan selesai, Andre dan Lucy pun meninggalkan rumah sakit.


"Tuan, bisakah anda menurunkan ku di terminal kereta api?" tanya Lucy.


"Untuk apa ke sana? Apa kau berniat akan pulang ke rumah ayah mu lagi?" tanya Arnold.


"Aku berencana akan pergi ke pinggir kota dan melanjutkan hidup ku. Di sana akan lebih aman di bandingkan saat di kota ini." ucap Lucy.


"Kau akan pergi? Setelah itu bagaimana dengan aku?" tanya Andre tiba-tiba.


Wajah Lucy memerah seketika, ia tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Andre. Apa mungkin Andre jatuh hati kepadanya sehingga tak ingin berpisah? Lucy mencoba mengatur detak jantungnya yang sedikit bergemuruh dengan ucapan Andre barusan.


"Kau harus bekerja di perusahaan ku, dan yang pastinya gaji mu sangat kecil. Mengingat semua uang yang aku gunakan untuk menebusmu kemarin bukanlah cuma-cuma." ucap Andre


"Jadi aku harus bekerja di perusahaan tuan untuk melunasi hutang-hutang ku itu?" tanya Lucy terkejut.


"Ya, bukan hanya itu. Kau juga berhutang biaya rumah sakit terhadap ku, dan kau tau kalau rumah sakit yang aku tunjuk bukanlah rumah sakit biasa." jelas Arnold lagi.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan membayar semuanya." ucap Lucy kecewa.


Ya, Lucy memang kecewa mendengar kenyataan itu. Ia mengira kalau Andre menahannya karena menyukainya tapi ternyata hal itu sama sekali bukan. Andre hanya tidak ingin rugi karena Lucy sudah banyak menghabiskan uangnya dan menyusahkannya. Andre berhenti di sebuah bangunan yang cukup mewah, ia pun mematikan mesin mobil dan turun.


"Apa kau mau mati beku di sini?" tanya Andre.


"Kenapa kita ke sini? Kalau tuan ada urusan, saya bisa menunggu di sini." ucap Lucy polos.


"Turun dan temani aku." perintah Andre.


Mereka pun memasuki bangunan itu yang ternyata adalah sebuah apartemen. Andre menyelesaikan urusannya sedangkan Lucy menunggu di lobby. Tak lama Andre kembali dengan beberapa benda di tangannya.


"Ini kunci kamar mu dan beberapa surat-surat ini kau simpan." ucap Andre menyerahkannya.


"Aku bisa tinggal di kontrakan biasa-biasa saja tuan, bangunan ini terlalu mewah." ucap Lucy yang takut kalau gajinya di potong lagi akan hal ini.


"Ini adalah tunjangan karyawan, kau bisa memilikinya. Tapi jika kau keluar dari perusahaan ku kau harus mengembalikan semuanya ke perusahaan." ucap Andre.


"Beristirahatlah, besok aku akan menjemputmu dan membawa mu ke kantor. Kau akan mulai dengan status magang." ucap Andre meninggalkan Lucy.


Tiba-tiba Lucy memeluk berdiri dan memeluk Andre dari belakang. Ia melakukan hal itu dengan spontan dan membuat Andre terkejut.


"Terima kasih tuan, karena sudah menolongku. Aku akan bekerja dengan giat." ucap Lucy dengan suara bergetar


"Baiklah, lepaskan pelukan mu. Aku tidak ingin di sangka yang tidak-tidak." ucap Andre memperhatikan setiap sudut ruangan.


"Maaf tuan, aku hanya reflek. Sekali lagi terima kasih banyak." ucap Lucy mengambil barang-barangnya dan pergi meninggalkan Andre yang berdiri di lobby.


Deg.... Jantung Andre berdetak kencang karena hal sepele barusan.


"Berhentilah bermain-main dengan hati, kau baru saja terluka akan hal itu. Lagian apa yang bisa di ambil dari anak berusia 20 tahun, ia masih terlalu muda untuk di ajak masa-masa sulit." batin Andre sambil tersenyum mengejek diri sendiri.


Andre keluar dari apartemen itu dan berjalan pulang ke tempatnya, sedangkan Lucy mencari nomor kamar apartemen yang akan di tempatnya untuk saat ini dan kedepannya. Setelah menemukannya ia masuk dan membereskan barang-barangnya, ia bersyukur kalau akhirnya ia bisa bekerja satu tempat dengan orang yang telah menyelamatkannya.

__ADS_1


"Aku akan berusaha dan akan membalas semua kebaikan tuan. Walaupun tuan tidak akan mencintaiku setidaknya izinkan aku menyukaimu tuan." ucap Lucy sambil melihat foto Andre yang ia ambil melalui ponselnya secara diam-diam.


Lucy melanjutkan menyusun pakaiannya dengan perasaan bahagia dan mengamati seluruh seluk beluk ruangan yang Andre pilih untuk Lucy.


________________


"Tuan apa kau baik-baik saja?" tanya Paul sambil mengemudi


"Aku tidak apa-apa, fokuslah mengemudi." ucap Zean.


"Baiklah bila ada suatu hal yang mengganggu fikiran anda bisa bercerita kepada saya tuan, saya siap mendengarkan." ucap Paul.


"Baiklah Paul, terima kasih telah banyak membantu ku dan menemani ku selama ini." ucap Zean.


Zean sedikit kecewa dan merasa bersalah dengan keadaan sekarang, seandainya ia tak melakukan hal seperti ini dari awal mungkin akan jauh lebih baik sekarang. Namun kini ia hanya bisa berfikir untuk meyakinkan Tiara kembali akan perasaannya. Ia ingin semua menjadi lebih baik dan memulai semua dari awal, tapi ia juga tidak ingin memaksa keputusan Tiara untuk berpisah dengannya dan menganggap ini semua sebagai hukuman.


Di sisi lain Tiara merasa sedikit terhibur dengan adanya Arnold yang mengajaknya berkeliling kota dan membeli beberapa makanan ringan. Mereka pun mengunjungi beberapa situs dan berfoto bersama, Arnold bersyukur keadaan Tiara saat ini lebih stabil di bandingkan dengan beberapa hari terakhir. Ia berharap masalah yang menimpa Tiara cepat selesai dan akan melanjutkan hidup seperti biasanya.


"Ini makanlah, kita sudah banyak bepergian." ucap Arnold memberikan makanan ke Tiara yang duduk di bangku taman.


"Dimana kamu membelinya? Aku memang sedikit lapar, sepertinya aku mau makan-makanan yang berat." ucap Tiara.


"Makanlah ini dulu sembari kita menemukan cafe untuk makan." ucap Arnold.


"Baiklah, terima kasih karena sudah memperbaiki mood ku Arnold. Aku akan mengingat semua ini." ucap Tiara.


"Selesaikanlah masalahmu dan buka hati mu lagi. Itu akan memudahkan mu memilih jalan kehidupan." ucap Arnold sambil meminum minuman kalengnya.


"Mungkin aku memang harus mengakhiri ini semua, aku berfikir sepanjang waktu kalau hanya aku yang selama ini berjuang akan rumah tangga ku ini." ucap Tiara.


"Perjuangan itu tidak perlu kamu hitung, cukup kamu lakukan. Jika kamu lelah, berhentilah dan coba hal baru." saran Arnold.


Tiara diam mendengar ucapan Arnold dan melanjutkan memakan cemilan yang di beli Arnold tadi.

__ADS_1


__ADS_2