
"Morning Bii..." sapa Zean di pagi hari saat mata ku baru terbuka setengah.
"Morning, kok kamu udah bangun?" tanya ku yang kembali memejamkan mata karena masih mengantuk.
"Aku sudah buatin sarapan buat kamu, wake up Bii." ucap Zean mengguncang tubuh ku yang masih malas.
"5 menit lagi, aku masih butuh 5 menit untuk memulihkan tenaga ku." ucap ku.
"Kita harus bersiap-siap Bii, besok kita akan berangkat lagi ke Paris." ucap Zean lembut.
"I know honey, tapi aku masih malas untuk bangun." ucap ku yang masih di dalam selimut.
Aku merasa sedikit kurang bersemangat hari ini, setelah pernikahan kami yang seminggu lalu di gelar besok kami sudah harus berangkat ke Paris dan kembali menjalani aktifitas seperti biasanya.
"Bii, kalau kamu gak bangun juga nanti sarapannya dingin. Apa mau aku bawa ke sini?" tanya Zean yang memelukku dari luar selimut.
"Hari ini aku rasanya sangat malas untuk kemana-mana." ucap ku keluar dari selimut dan mencium suami ku.
Aku langsung berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Namun belum sampai ke kamar mandi, mendadak kepala ku pusing seakan-akan aku mau jatuh.
"Kamu gak apa-apa Bii? Mau aku bantu ke kamar mandi?" tanya Zean yang dengan sigap mendekati ku.
"enggak apa-apa, kayaknya karena aku langsung berdiri jadi pusing." ucap ku melanjutkan berjalan ke kamar mandi.
"Baiklah kalau begitu aku akan menunggu mu di bawah ok." ucap Zean.
Aku menganggukkan kepala ku dan menyuruhnya pergi dengan melambaikan tangan ku. Zean keluar dari kamar dan menunggu di meja makan, sedangkan aku mencuci muka sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Setelah aku mencuci muka ku dan menggosok gigi aku pun turun ke bawah dan melihat Zean yang sudah mulai sarapan duluan.
"Kamu kok gak nungguin aku?" tanya ku cemberut.
"Aku keburu laper Bii nungguin kamu. Ayo duduk dan makan, nasi goreng ini sudah mau dingin." ucap Zean menarikan kursi untuk ku.
Aku duduk di sebelah Zean dan dengan terampil ia mengambilkan nasi goreng ke dalam piring ku dan meletakkannya di depan ku.
"Setelah ini kita akan bersiap-siap mengurus keberangkatan untuk besok. Kamu makanlah yang banyak ok." ucap Zean menasehati.
__ADS_1
"Apa kamu sudah memberi tau ayah kalau kita berangkat besok?" tanya ku.
"Sudah, tiga hari yang lalu aku memberi tau ayah kalau kita akan berangkat besok." ucap Zean memastikan.
Aku memasukan nasi goreng ke dalam mulut ku, namun tiba-tiba perut ku merasa mual dan menolak untuk memakan masakan Zean. Aku berlari menuju washtafel dan memuntahkan apa yang ada di dalam mulut ku. Zean yang panik langsung mendatangi ku dan membantu ku.
"Kamu ok Bii? Apa aku masak terlalu pedas? Ada yang salah sama masakannya?" tanya Zean sambil menepuk-nepuk punggung ku.
"Tidak, bukan itu. Entahlah, sepertinya aku masuk angin. Kepala ku pun sedikit pusing." ucap ku lemas.
"Ok kalau begitu ayo minum coklat hangat mu. Mungkin akan melegakan jika sudah meminumnya." ucap Zean menuntun ku duduk.
Zean mengambil coklat hangat dan memberikannya pada ku. Aku meminum sedikit demi sedikit coklat hangat yang ada di dalam mug kesukaan ku.
"Aku akan mengantar mu ke dokter ok. Aku akan mengganti pakaian dan mengambil kunci mobil." ucap Zean.
"Tidak usah ke dokter, aku akan minta Dita untuk datang dan kerokin aku. Sepertinya aku benar-benar masuk angin." ucap ku.
"Aku gak mau Bii, aku takut ada yang salah dengan kondisi mu. Dan juga kita harus kontrol semua kesehatan mu." ucap Zean panik.
"Zean aku benar-benar baik-baik saja." ucap ku yang tetap menolak ajakan Zean.
"Aku akan menanti mu Bii, aku gak bakalan ninggalin kamu nanti diri sana ok. Aku benar-benar khawatir dengan kondisi mu saat ini." ucap Zean membujuk.
"Baiklah, aku butuh mengganti pakaian ku juga." ucap ku.
Tiba-tiba Zean menggendong ku dan membuat ku terkejut. Ia menggendong ku berjalan menuju kamar kami.
"Zean aku masih bisa berjalan." ucap ku.
"Kamu lagi sakit, aku gak bakalan biarin kamu jalan sendiri." ucap Zean.
"Aku bukan anak kecil lagi, turunkan aku cepat." perintah ku.
"Tidak mau, kamu harus menjaga stamina mu. Karena aku tidak mau kamu bertambah parah." ucap Zean menurunkan ku.
__ADS_1
Aku duduk di kasur dan Zean memilihkan pakaian ku. Entah sejak kapan dia menjadi semakin sensitif dan sangat memperhatikan hal-hal kecil yang sudah banyak aku lupakan.
Setelah selesai mengganti pakaian kami berangkat menuju rumah sakit. Zean menemani ku untuk pemerikasaan dan tidak sama sekali meninggalkan ku sendirian di ruang pemeriksaan itu.
"Bagai mana dokter keadaan Tiara?" tanya Zean was-was.
"Kondisi hati dan kornea matanya tidak mengalami gangguan. Cuma kita harus menunggu hasil dari tes urine dulu." ucap dokter
Kami menunggu sebentar dan tampak di wajah Zean ia sangat cemas. Karena ia masih mengingat bagai mana nyawa istrinya itu terancam saat kejadian kecelakaan itu. Tak lama seorang suster membawakan hasil tes dan memberikan ke pada dokter. Dokter membaca hasil tes tersebut dengan mimik muka serius dan membuat Zean semakin tegang.
"Bagaimana dok hasilnya? Apa ada yang salah dengan fungsi hatinya?" tanya Zean.
"Zean tenanglah, kalau ada masalah pasti alat-alat dokter tadi dapat memeriksanya." ucap ku menenangkan.
Zean menganggukkan kepalanya dan menggenggam kedua tangan Tiara dengan erat. Zean termasuk orang yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa cemas, dan itu terlihat jelas dari raut muka nya.
"Istri anda tidak mengalami komplikasi yang serius. Tapi dia sedang mengandung, jadi itu yang membuatnya pusing dan muntah." ucap dokter.
"Baguslah kalau begitu..." ucap Zean.
Namun setelah beberapa detik ia mencerna ucapan dokter ia kembali melihat ke arah dokter tersebut.
"Apa...? Em maksud saya, istri saya hamil dok?" tanya Zean dengan muka berbinar.
"Iya, selamat ya. Kamu akan menjadi seorang ayah." ucap sang dokter.
Zean langsung bersujud syukur dan mencium kening ku. Ia mengelus perut ku dan juga menciuminya. Setelah keluar dari rumah sakit kami pun memilih pulang.
"Alhamdulillah Bii, aku akan jadi seorang ayah." ucap Zean senang.
"Iya, Alhamdulillah ya. Aku akan memberi tau ayah dan yang lainnya jika kita sudah sampai di rumah nanti." ucap ku tak sabar.
"Ya, dan sekarang apa yang kamu mau aku akan belikan Bii. Kamu mau makan sesuatu? Aku akan cari sekarang juga." ucap Zean bersemangat.
"Tidak ada, aku hanya ingin pulang dan makan nasi goreng buatan mu tadi." ucap ku trsenyum.
__ADS_1
"Aku akan membuatkan yang baru untuk mu ok. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian, hanya untuk kalian Bii." ucap Zean sambil mengelus perut ku.
Aku tersenyum melihat Zean dan beralih melihat foto hasil USG pertama kami. Ini benar-benar suatu hadiah yang luar biasa yang di berikan tuhan kepada ku. Dan aku benar-benar tidak sabar untuk memberi tau kepada semua orang akan kehamilan ku itu.