Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 114


__ADS_3

Aku menyusun beberapa barang yang akan ku bawa, di bantu oleh Dita dan Ayah. Ayah datang saat aku mengatakan aku akan berangkat ke Paris, dan beliau sangat senang mendengar ucapan ku. Mungkin baginya agar aku bisa sedikit keluar dari zona nyaman ku saat ini, jadi ia mendukung ku untuk berangkat ke sana.


"Pakaian mu udah semua ini nduk? Apa masih ada yang belum masuk?" tanya ayah


"Udah yah, Raa enggak terlalu banyak bawa baju. Kalau pulang Raa beli di sana aja lagi, Raa cuma bawa yang penting-penting" ucap ku


"Hmm nikmatilah berbelanja di sana, kamu pasti akan pamer sama aku nanti kan?" tanya Dita kesal


"Ha ha ha.... Apaan sih? Nanti kalau ada barang bagus aku beliin buat kamu ya. Tapi ongkos kirim kamu yang tanggung ok" bujuk ku


"Baiklah-baiklah jangan saja kamu lupa akan janji mu itu" ucap Dita meyakinkan kan


Aku mengangguk sambil tersenyum ke arahnya, ada rasa sedih saat akan meninggalakannya sendiri di sini. Secara Dita telah banyak menolong ku selama ini, bahkan selalu ada untuk ku.


"Aku udah telepon teman ku yang di sana, jadi apartemen mu udah tak siapkan ya nduk" ucap ayah memberi tau


"Owh iya ya yah, makasih banyak ya. Raa hampir aja lupa kalau Raa belum sama sekali menyiapkan tempat tinggal di sana. Untung ayah udah siapin" ucap ku lega


"Iya aku tau kamu pasti gak kepikiran sampai situ, sifat cerobah mu itu harus di hilangkan lo nduk. Kerja di negara orang enggak bisa sembarangan, aturan hidup mereka saja udah ketat" omel ayah


Aku hanya tersenyum mendengar omelan ayah, ini bukan kali pertama bagi ayah dan aku berjauhan. Walau pun sekarang ayah lebih sering di rumah, koneksi dan teman-teman ayah ada di mana-mana. Dan bukan maksud hati ku juga gak mau merintis usaha ayah yang sudah maju, aku hanya belum siap untuk itu. Tiba-tiba Andre berdiri di depan kamar ku, kami semua terkejut karena tak menyadari kedatangan Andre.

__ADS_1


"Sorry, aku tadi udah ketok rumah kamu berkali-kali, dan Anggi yang bukain pintu. Terus pas di bilangnya kalian di atas jadi aku susul, aku kira enggak ada bapak. Maaf ya pak" ucap Andre sedikit canggung


"Enggak apa-apa, sini masuk. Kami juga gak tau sampean dateng" ajak ayah


"Kamu kok packing-packing Raa, kamu mau kemana?" tanya Andre heran


"Lah, kamu belum kasih tau Andre nduk? Kamu itu gimana sih?" tanya ayah tiba-tiba


"Iya, maaf ya Ndre aku lupa. Sumpah aku enggak ada maksud buat gak kasih tau kamu, tapi aku benar-benar lupa" ucap ku


"Ya sudah, kalian ngobrol dulu. Aku mau ngopi dulu di luar" ucap ayah sambil meninggalkan kamar


"Aku juga mau ke bawah bentar ya Raa, mau minta Anggi buat cemilan" ucap Dita sambil berlalu


"Kamu.... Sampai segitunya ya Raa kamu mau menghindari aku, aku gak nyangka loh kamu kayak gini sama aku" ucap Andre tiba-tiba


Aku sama sekali gak berani untuk menatap muka Andre, bahkan untuk membantah ucapannya pun aku tak sanggup.


"Aku tau Raa, kamu gak bisa terima perasaan aku. Tapi ya enggak kayak gini juga kan Raa? Apa emang harus kamu pergi tanpa kasih tau aku seperti ini? Aku enggak habis fikir loh Raa sama kamu" ucap Andre dengan nada kesalnya


"Maaf Ndre, aku juga baru dapat kabarnya kemarin pas aku pulang jalan sama kamu. Terus besoknya aku pamitan ke keluarga Zean, dan hari ini sibuk kemas-kemas. Jadi aku benar-benar lupa, sampai-sampai apartemen aja tadi ayah yang urus" ucap ku memelas

__ADS_1


"Kamu bisa berpamitan ke keluarganya Zean? Sedangkan aku yang di depan mata mu ini terabaikan? Kebangetan banget sih Raa?" tanya Andre


"Iya aku reflek aja gitu Ndre, jadi ya gitu..." ucap ku tak tau harus berkata apa-apa


"Ok kalau gitu, semoga kamu sukses ya Raa" ucap Andre sambil meninggalkan ku


Aku sontak mengejar Andre yang meninggalkan ku secara tiba-tiba. Aku gak mau kalau dia masih marab, karena ini bukan Andre yang aku kenal.


"Ndre... Andre... aku minta maaf, aku tau aku salah" ucap ku mengekor di belakang Andre


Andre hanya diam mendengar permohonan maaf ku, ia terus berjalan tanpa melihat ku.


"Ndre kamu enggak biasanya kayak gini tau gak? Kamu kok egois banget sih?" ucap ku kesal


Langkah Andre berhenti dan berbalik ke arah ku, ia melihat ku dengan tatapan penuh amarah.


"Aku...? Egois...? Kamu gak salah bilang aku egois Raa?" tanya Andre balik


"Iya kamu emang egois, aku udah minta maaf tapi kamu malah pergi gitu aja tanpa maafin aku" ucap ku


"Ok kalau kamu mikir kayak gitu, anggaplah kalau apa yang aku lakukan selama ini adalah bentuk ke egoisan ku ke kamu. Dan aku memang yang salah selama ini, aku ngerti sekarang" ucap Andre pergi meninggalkan ku

__ADS_1


Aku terdiam mendengar ucapan Andre, aku semakin terpuruk. Entah kenapa kata-kata itu bisa keluar dei mulut ku, jelas-jelas selama ini aku lah yang egois dan sama sekali tidak memikirkan perasaan Andre. Aku duduk di sofa ruang tamu tempat kami bertengkar tadi, Dita hanya memandang ku dari jauh. Ia masih belum mau untuk menanyakan permasalahan ku saat ini. Dan rasanya aku pun ingin membatalkan keberangkatan ku ke Paris....


__ADS_2