Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 103


__ADS_3

Aku membuka mata ku perlahan, melihat langit-langit kamarku yang berwarna cream. Lama aku termenung memandangi langit-langit kamar ku itu, rasanya baru kemarin aku dan Zean mengecat kamar ini. Tapi entah mengapa rasanya banyak yang berubah, padahal tak ada yang ku ubah di setiap sudut ruangan ini. Aku bangkit dari kasurku, berdiri di depan cermin lemari. Ku lihat mata ku secara dekat, kemudian ku pejamkan lagi. Aku mengangkat setengah bajuku ke atas, dan meraba bekas luka operasi yang kemarin ku jalani.


"Kamu terlalu jahat Zean, kamu menyelamatkan ku tapi kamu meninggalkan banyak bekas di tubuh ini. Bagaimana aku bisa melupakan mu dan menjalani hidup? Kamu menyiksaku Zean, sebesar apa kesalahan ku selama ini?" tangis ku pecah


Mendengar jerit tangis ku dari kamar, Dita dan ayah bergegas mendatangi ku. Mereka terkejut melihat ku yang terduduk di lantai.


"Nduk, kamu kenapa toh? Pagi-pagi kok nangis? ono opo ?" tanya ayah ku khawatir


"Raa kamu jangan begini, kamu jangan menyiksa diri seperti ini dong. Kamu itu harus ikhlas Raa, Zean berkorban buat kamu itu udah keputusannya dia" ucap Dita menenangkan


"Bagaimana aku bisa ikhlas Taa? kamu nggak ngerasain apa yang aku rasain kamu nggak pernah ngalamin ini semua Taa. Gimana kamu bisa bilang ikhlasin aja?" ucap ku emosi

__ADS_1


"Aku tau Raa, tapi kamu juga harus menghargai perjuangan Zean. Kamu harus move on dari ini semua Raa, itu yang Zean inginkan" ucap Dita menenangkan ku


Aku pun terdiam mendengar ucapan sahabat ku, mungkin agak keterlaluan ucapan ku tadi kepadanya. Namun itulah Dita, dia sama sekali tidak mudah tersulut emosi untuk menghadapi ku.


"Aku merindukannya Taa, sangat merindukannya" ucap ku lirih


"Aku tau sayang, aku tau itu. Kamu harus kuat Raa, demi Zean yang yah berkorban" ucapnya


"wes kamu mandi dulu nduk. Biar fikiran mu jadi sedikit tenang, biar Dita tungguin kamu mandi di sini. Ayah takut kalau kamu di tinggal sendiri nanti malah aneh-aneh" ucap ayah sambil berjalan keluar


Aku pun menyetujui ucapan Dita dan menuju kamar mandi. Aku menghela nafas panjang-panjang dan membiarkan air dari kran shower membasahi sekujur badan ku.

__ADS_1


Andre mendatangi kantor polisi, karena dengan beberapa koneksinya dengan Richard akhirnya Melati tertangkap. Ia pu sangat ingin menghabisi Melati dengan tangannya sendiri. Tak lama ia sampai, ternyata Richard sudah sampai terlebih dahulu.


"Bagaimana dengan introgasinya?" tanya Andre kepada Rhichard


"Introgasinya berjalan lancar, namun ada sedikit kendala buat kita Ndre" ucap Richard


"Kendala? Kendala akan hal apa?" tanya Andre penasaran


"Ada beberapa kesimpulan menyatakan kalau Melati mengalami gangguan mental, jadi hal tersebut sedang di tangani oleh pihak kesehatan. Jika benar Melati mengalami gangguan mental, kemungkinan kecil bagi kita untuk memenjarakannya Ndre" jelas Richard


"Apa? Aku enggak yakin kalau dia mengalami gangguan jiwa. Dia itu psikopat tau nggak? Dengan mudahnya dia menabrakan mobil ke Tiara dan Zean" ucap Andre kurang terima

__ADS_1


"Aku tau Ndre, dan aku pun berharap dia mendapatkan hukuman yang setimpal untuk perbuatannya" ucap Richard


Andre melihat Melati dengan tatapan bengis, ia sangat tak membayangkan jika benar Melati mengalami gangguan mental dan bebas begitu saja. Secara apa yang telah ia lakukan selama ini sudah merugikan dan menyakitkan banyak orang.


__ADS_2