
Aku berjalan-jalan menyusuri koridor rumah sakit, menjernihkan fikiran ku yang bosan akan suasana rumah sakit saat ini. Dari arah jendela lantai empat ini aku memandang pasien-pasien lain yang menikmati hangatnya sinar mentari pagi secara langsung. Tiba-tiba mata ku tertuju kepada sepasang lansia yang duduk di bangku taman belakang rumah sakit tersebut. Aku melihat mereka tertawa bersama, dan sang kakek seperti memberi semangat kepada nenek untuk cepat pulih. Sangat kuno memang, namun itu terlihat romantis di pandangan ku.
"Aku berharap kita bisa seperti itu juga Zean, menikmati masa tua bersama dan memberi semangat satu sama lain. Aaarrghh... berapa lama lagi aku di sini, aku sudah sangat bosan dan ingin berjumpa dengan Zean" gumam ku di balik jendela
Aku pun melanjutkan jalan-jalan santai ku dan berencana untuk kembali ke kamar rawat ku. Tak sengaja aku berpapasan dengan perawat yang sedang merapikan dokumen di meja informasi.
"taukah kau dengan rumor yang beredar akhir-akhir ini?" tanya perawat 1
"rumor masalah seorang suami yang rela mati demi menyelamatkan istrinya itu maksud mu?" ucap perawat 2 sambil bertanya balik
"iya iya betul, ahh sayang sekali kan. Bukti perjuangan cinta yang sangat tragis" ucap perawat 1 memelas
__ADS_1
"iya, aku pun menyayangkan pengorbanan suami itu. Takutnya setelah si suami berkorban seperti itu eh si istrinya menikah lagi dan hidup bahagia tanpa memikirkan pengorbanan sang suami"
"begitu lah pengorbanan. Bahkan yang aku dengar juga, si istri tidak mengetahui sama sekali kalau sang suami lah yang mengorbankan dirinya demi istrinya bisa hidup lagi"
"benarkah...? ahh menyedihkan sekali"
Aku langsung terdiam mendengar ucapan kedua perawat itu, batin ku sedikit terkejut mendengar rumor tersebut. Tiba-tiba kaki ku merasa lemah, tak bisa menopang badan ku ini. Aku terduduk di koridor rumah sakit dengan muka pucat dan keringat dingin yang bercucuran. Salah satu perawat itu melihat ku dan dengan cepat menghampiri ku.
"aku baik-baik saja, aku hanya kelelahan suster. Bisakah susuter antarkan saya ke kamar saya yang di C-17?" ucap ku gugup
"baiklah bu, tunggu sebentar ya bu. Saya akan ambilkan kursi roda di sana" ucap perawat tersebut sambil meninggalkan ku
__ADS_1
Tak lama kemudian perawat itu sudah datang membawa kursi roda beserta dengan temannya untuk membantunya mengangkat ku ke kursi roda.
"mari bu saya bantu ibu naik ya" ucap perawat itu
Aku hanya menganggu kan kepala menyetujui ucapannya, badan ku terasa lemas dan fikiran ku sangat kacau balau saat ini. Bagaimana mungkin ada rumor yang beredar persis dengan keadaan ku saat ini. Atau mungkin memang aku yang di ceritakan perawat itu tadi? Fikiran ku melayang menerawang kejadian terburuk yang akan aku hadapi.
Aku sudah di atas kasur ku lagi, melihat kondisi ku yang tiba-tiba melemah Ayah, Dita dan Andre pun secepat mungkin mendatangi ku. Dan dokter pun langsung memeriksa keadaan ku secara mendetail.
"ibu Tiara baik-baik saja, hanya sedikit mengalami syok itu yang membuatnya menjadi lemah. Mungkin karena badan ibu Tiara belum terbiasa dengan organ yang baru, tapi itu adalah hal yang lumrah terjadi. Perbanyak istirahat dan selalu ikuti kata para perawat ya bu Tiara" ucap Dokter
Aku hanya diam mendengar ucapan Dokter tersebut, fikiran ku masih melayang ke Zean saat ini. Aku sangat penasaran keadaan Zean yang sebenarnya, namun aku juga takut mengetahui kenyataan terburuk.
__ADS_1
"Dokter, Zean...? Dia masih hidup kan?" tanya ku tiba-tiba