
Andre membolak-balikan ponselnya, seakan-akan menunggu seseorang yang sangat penting menghubunginya. Namun sepertinya karena perbedaan waktu membuatnya putus asa dan akan melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba ponselnya berdering, dengan cepat ia mengangkat ponselnya yang tadi tergeletak di atas meja kerjanya.
"Hy Ndre.... Kamu pasti sibuk ya?" tanya Tiara.
"Kamu kok telpon jam segini sih? Kenapa gak tidur?" tanya Andre sok kalem.
"Aku baru pulang belanja sama sepupu ku Ian, tadi dia nemanin aku setelah dia pulang kerja. Lagian tadi aku udah sempat tidur kok, dan di pesawat pun aku tidur terus." oceh ku.
"Baguslah kalau begitu, sekarang kamu istirahat. Jangan kebiasaan begadang Raa, ingat kesehatan mu. Siapa yang bakalan jagain kamu di sana kalau kamu kenapa-kenapa." nasehat Andre
"Iya iya pak bos, udah jauh-jauh ke sini pun aku masih aja kena omel dari kamu ya. Ya udah kamu semangat ya kerjanya, jangan lupa makan yang sehat juga." ucap ku.
"Iya cereweett...." ucap Andre sambil mematikan ponsel.
Lama Andre memandangi ponselnya yang sudah mati tersebut, ada rasa bahagia tersendiri mendengar ocehan dari Tiara yang semakin membuatnya rindu ingin bertemu. Namun ia tak ingin memaksakan keadaan, ia takut jika terlalu memaksa Tiara untuk menyukainya yang ada nantinya Tiara akan berpaling dan pergi dari sisinya.
Zean membuka leptopnya, karena kondisinya sekarang ia hanya mencari kerja yang bisa di kerjakan dari rumah. Dan untungnya karena koneksinya selama bekerja di Indonesia banyak jadi memudahkan dia untuk mendapatan pekerjaan di sini sekarang.
"Aku pulang dulu ya, sudah larut ternyata." ucap Arnold.
"Kamu gak nginap di sini? Tumben kamu pulang udah jam segini." tanya Zean.
"Besok aku ada meeting penting dan juga ada anak baru mau join." ucap Arnold bersemangat
"Dasar... kalau udah urusan cewek aja kamu cepat banget." ucap Zean.
"Kamu besok gak ke kantor? Kalau mau ke sana biar aku jemput." tawar Arnold.
"Enggak, besok gak ada yang harus aku urus di kantor." ucap Zean sambil menggeleng.
__ADS_1
"Ok.... aku pulang dulu, ada apa-apa kamu langsung telpon aku ya." ucap Arnold sambil berlalu.
Zean membawa leptopnya menuju tempat tidur, awalnya dia ke susahan untuk berpindah dari kursi roda ke atas tempat tidur. Tapi setelah banyak belajar dengan Dokter yang merawatnya di Paris, ia sedikit demi sedikit menjadi terbiasa dengan keadaan sekarang. Zean menutup file kerjanya dan membuka foto-foto dan vidio saat masih bersama dengan Tiara.
"Hy Bii, apa kabar kamu hari ini. Aku dengar dari Adi kalau kamu sudah tidak di indo lagi dan melanjutkan hidup dengan baik. Kamu sudah bisa menerima akan kehilangan ku ya sayang, terima kasih karena kamu sudah berbesar hati untuk merelakan semua ini dan mencoba melanjutkan hidup. Maaf Bii, aku sama sekali tidak bisa memaafkan diri sendiri akan kesalahan ku. Terlalu tak adil buat mu mendapatkan suami seperti ku Bii, kamu benar-benar harus bisa melanjutkan hidup dan bertemu dengan orang yang layak dan bahkan akan membuat mu bahagia selamanya" batin Zean
Tanpa terasa air mata Zean mengalir karena mengingat Tiara dan juga merindukannya. Entah benar atau salah perbuatannya saat ini, tapi bagi Zean ini yang terbaik bagi Tiara saat ini.
___________
"Kriiiiiiinnnggggg......."
Alarm ku berbunyi, dengan berat aku mematikannya dan membuka mata ku. Dan tiba-tiba telepon ku berbunyi, ternyata Ian yang menelepon ku pagi-pagi begini.
"Hy, wake up. Kamu gak kerja hari ini?" tanya Ian yang membuatku langsung bangkit.
"Ya Tuhan, aku lupa kalau hari ini kerja. Makasih ya Ian udah ingatin aku, kamu udah di mana ini? Jadi kan antar aku?" tanya ku sambil berlari mencari handuk.
"OK ini aku mandi... daahh." ucap ku sambil menutup telepon
Apa jadinya jika Ian tidak menelepon dan mengatakan kalau aku akan mulai bekerja hari ini, mungkin karena sudah berapa lama tidak bekerja aku jadi tidak terbiasa untuk bangun terlalu pagi. Tapi mulai hari ini aku harus terbiasa akan rutinitas seperti ini terlebih lagi aku akan berangkat bekerja sendirian. Kalau aku minta Ian untuk mengantar jemput ku terus mungkin sangat membuatnya repot, walau pun dia sudah menawarkannya kemarin.
Aku mengenakan pakaian ku, menyusun semua berkas yang akan aku gunakan untuk bekerja dan membuat coklat panas dan pancake kesukaan ku untuk sarapan hari ini. Tak lama ada yang memencet bel kamar ku dan ternyata itu Ian yang sudah sampai akan mengantar ku kerja.
"Ayo sarapan dulu, aku gak biasa kalau gak sarapan sebelum pergi kerja." ajak ku.
"Kamu ya, kalau gini terus kamu bakal telat. Untung aku cari apartemen yang dekat dengan tempat kerja mu." oceh Ian.
"Yaa habis aku masih belum terbiasa akan hal ini sih, kamu mau apa? kopi...?" tanya ku.
__ADS_1
"Boleh, kamu bawa kopi dari sana?" tanya Ian.
"Iya, ayah yang masukin ke koper ku he he he. Nanti kamu bawa yang itu ya, aku lupa itu titipan ayah buat pak le." ucap ku sambil menunjuk sebuah bingkisan.
"Buat ku mana?" tanya Ian.
"Udah itu sama aja buat kalian sekeluarga." ucap ku sambil memberikan secangkir kopi dan pancake ke Ian.
Kami menikmati sarapan dan setelahnya bersiap-siap akan berangkat. Saat keluar dari kamar aku melihat Arnold yang juga baru keluar dari kamarnya.
"Hy... kamu udah mau berangkat kerja?" sapa ku.
Arnold hanya mengangguk dan berlalu melewati kami.
"Itu orang yang kamu bilang nolongin kamu kemarin?" tanya Ian.
"Iya dia..." ucap ku sambil berjalan mengikuti langkah Ian.
"Kok kayak sombong gitu?" tanya nya lagi.
"Dia emang gak banyak ngomong kok, kemarin aja lebih banyak aku yang ngoceh di bandingkan dia." ucap ku.
"Ya sudah lah... Gak ada yang ketinggalan kan, kamu harus fokus loh. Perusahaan di sini beda dengan di tempat lain." nasehat Ian.
Aku mengangguk mengiyakan ucapan Ian sambil memeriksa semua barang-barang ku, takut-takut kalau ada yang tertinggal nantinya. Kami berangkat menaiki mobil Ian, sepanjang jalan aku menanyakan rute perjalanan dan bus apa saja yang harus aku naiki. Selain bus, aku juga menanyakan rute kereta dan Ian dengan sigap dan jelas memberitahu ku semua ini. Dan tak terasa kami sudah berada di depan kantor.
"Pulang nanti kamu kabarin aja jam berapa keluarnya, nanti aku jemput." ucap Ian.
"OK.... Makasih ya tumpangannya." ucap ku sambil tersenyum.
__ADS_1
Ian pun berlalu menuju tempat kerjanya, dan aku pun melangkah untuk memasuki gedung perusahaan yang ada di depan ku saat ini. Ada rasa gugup luar biasa yang membuncah di dada ku, seakan-akan mengeluarkan jantung ku dari rongga dada.
"You can do it Raa" gumam ku sambil melangkah masuk.