
Setelah ke rumah Carlo dan membantunya menyiapkan pohon natal aku memutuskan untuk pulang. Aku berjalan di pinggiran jalan dan menikmati keramaian kota yang antusias untuk penyambutan natal. Banyak lampu-lampu warna-warni terpasang di sepanjang jalan.
"Arrgh... aku harus menyelesaikan ini juga ke Arnold. Aku harus minta maaf kepadanya atas kejadian kemarin." gumam ku.
Aku mampir ke sebuah Cafe dan memesan beberapa makanan dan coklat hangat. Aku mencoba menghubungi Arnold berniat untuk mentraktirnya.
"Hy... Kamu sibuk? Ada sesuatu terjadi, boleh aku minta tolong?" tanya ku.
"Ada apa? Aku sedang di tempat teman ku." ucap Arnold.
"Arnold, aku tersesat. Saat ini aku di cafe Star dan tak tau kemana arah pulang. Di sini aku tak menemukan taksi satu pun." ucap ku gugup.
Arnold yang mendengar ucapan Tiara langsung bangkit dan meletakan stik gamenya.
"Kamu tunggu di situ jangan kemana-mana. 30menit lagi aku sampai." ucap Arnold panik.
"Baiklah. Aku akan menunggu di sini." ucap ku.
Arnold langsung bangkit dari tempat duduknya dan memakai baju hangatnya. Zean yang melihat Arnold terburu-buru setelah mengangkat telepon merasa aneh akan kelakuannya.
"Ada apa....? Kenapa tiba-tiba kamu bersiap-siap seperti mau pergi?" tanya Zean.
"Ada sesuatu terjadi dan aku harus ke sana secepatnya." ucap Arnold panik.
"Sesuatu? Apakah masalah besar?" tanya Zean lagi.
"Hanya menjemput seseorang yang tersesat. Nanti aku akan kembali dan melanjutkan ini." ucap Arnold sambil berjalan keluar rumah.
Zean hanya tersenyum melihat tingkah Arnold yang belakangan sedikit aneh. Karena tumben sekali dia baik ke seorang wanita yang baru di kenalnya.
"Semoga kamu mendapatkan wanita yang tepat..." gumam Zean.
Arnold melajukan mobilnya menuju tempat yang di sebutkan oleh Tiara. Tak lama baginya untuk mendapatkan tempat itu, setelah tiba ia langsung masuk dan mencari-cari sosok Tiara. Setelah melihatnya, Arnold pun menghampiri Tiara yang masih menikmati kuenya.
"Sepertinya kamu menikmati ketersesatan mu." ucap Arnold sambil duduk di hadapan Tiara.
"Hy... Kamu mau pesan apa? Kue-kue di sini lumayan enak, apa lagi yang ini." tunjuk Tiara.
"Makanlah, setelah itu aku antar kamu pulang." ucap Arnold.
"Kalau kamu tidak mau pesan, biar aku yang pesanin. Kamu duduk dulu dan menikmati ini." ucap ku.
Arnold hanya diam dan aku memanggil pelayan untuk memesan beberapa makanan dan minuman untuk Arnold. Aku tau dia pasti kesal dengan kelakuan ku, tapi aku tidak punya cara lain untuk dapat berbicara kepadanya.
__ADS_1
"Aku.... Minta maaf." ucap ku lirih.
Arnold tetap diam dengan ucapan ku itu, dan aku yakin dia masih kesal dengan kejadian semalam.
"Arnold aku tau aku salah dan kamu sudah banyak bantuin aku, jadi aku benar-benar minta maaf sekarang." ucap ku.
"Sudah berapa lama kamu di luar rumah...?" tanya Arnold tiba-tiba.
Aku bingung dengan pertanyaan Arnold yang sama sekali tidak masuk akal dengan ucapan ku barusan.
"Tadi aku pergi ke tempat Andre, setelah itu aku ke rumah Carlo. Setelah membantunya mempersiapkan natal aku pulang dan berjalan-jalan aku menemukan cafe ini dan mampir." jelas ku.
"Kamu sudah pergi satu harian ini dengan pakaian seperti itu? Sepertinya kamu menginginkan masuk ke rumah sakit." ucap Arnold.
"Pakaian ini cukup hangat kok, lagian aku tidak lama di luar ruangan. Tadi aku ke apartemen Andre untuk membahas masalah semalam, setelah ku pikir-pikir aku harus sedikit menjaga jarak terhadapnya agar dia bisa menemukan kehidupan yang baru." cerita ku.
"Maupun kamu di dalam ruangan kamu harus bisa menjaga kesehatan mu." ucap Andre melunak.
Andre merasa sedikit lega, entah karena ia berbaikan dengan Tiara atau karena Tiara memilih untuk menjauhi Andre. Tapi menurutnya ini lebih bagus dari pada ia menyakiti orang lain yang sudah berkorban untuknya.
"Cepat selesaikan makanan mu, cuaca sudah semakin dingin." ucap Arnold sambil menyeruput minumannya.
Setelah berbincang-bincang bersama Arnold di Cafe mereka pun memutuskan untuk pulang, Tiara sangat antusias melihat kelap-kelip lampu di pinggir jalan.
"Yaa... mereka tampak menggemaskan." ucap Tiara.
"Bagaimana kalau malam natal kita ke Eiffel?" tanya Arnold.
"Kamu serius mau ajak aku ke sana?" tanya ku tak percaya.
"Ya, malam perayaan akan ramai bila kita berada di sana. Dan akan lebih menarik lagi bila malam tiba." ucap Arnold.
Tiara mengangguk menyetujui ucapan Arnold dan menikmati lagi pemandangan di sepanjang jalan. Setiba di Apartemen mereka pun berjalan menuju rumah masing-masing.
"Arnold.... Makasih ya." ucap Tiara sambil membuka kunci pintu.
"Istirahatlah, jangan lupa minum obat mu." ucap Arnold.
Mereka pun masuk ke rumah masing-masing dan alangkah terkejutnya Arnold saat melihat seseorang berada di dalam kamarnya. Yang ternyata itu adalah Zean.
"Owh God.... Kenapa kamu gak bersuara sih?" tanya Arnold terkejut.
"Aku sengaja biar bisa mengagetkan mu. Aku mau makan malam di sini, kamu pergi begitu saja tanpa memaksakan ku makan malam tadi." ucap Zean.
__ADS_1
"Ahh.... Baiklah, kamu tunggu di sini." ucap Arnold.
"Sepertinya kencan mu berjalan lancar, belum mau kenalin ke aku?" tanya Zean.
"Kalau kamu mau makan mending duduk di sana dan menonton." ucap Arnold.
Zean hanya tertawa mendengar ucapan Arnold yang tidak ingin di tanyai masalah pribadinya.
"Baiklah mungkin dia masih butuh waktu." gumam Zean
Tiba-tiba ada ketukan dari luar, Arnold berjalan keluar dan membuka pintu. Ternyata Tiara yang berdiri di sebalik pintu dengan senyuman khasnya.
"Hy, aku lupa. Ini aku tadi masak dan kayaknya kebanyakan. bagi sama kamu separo buat makan malam." ucap Tiara memberikan semangkuk sup ayam.
"Ok, terima kasih. Kamu mau masuk dan makan malam bersama?" ajak Arnold.
"Owh tidak, kamu makan sendiri aja. Aku mau mandi dan makan juga." ucap Tiara pergi.
Arnold menutup pintu dan meletakan sup ayam di atas meja makan. Zean yang melihat Arnold membawa sup tiba-tiba mendekat dan melihat ke arah luar.
"Siapa yang kasih? Kok orangnya gak ada?" tanya Zean.
"Tetangga ku, dia kasih itu. Tadi udah aku ajak makan malam bersama, tapi dia menolaknya." ucap Arnold
"Hmm... wanita?" tanya Zean
"Ya, biasanya dia mau ku ajak makan malam bersama. Tapi sepertinya dia kebanyakan makan kue di cafe tadi." gumam Arnold.
"Hah... Jadi kamu ke cafe sama tetangga ku itu? Waahhh aku benar-benar penasaran seperti apa wanita yang ada di sebelah rumah mu ini. Seorang Arnold bisa luluh terhadapnya, pasti dia cantik kan?" tanya Zean penasaran.
"Kenapa gak kamu cari tau sendiri? Kamu bisa mendatanginya di sebelah." ucap Arnold.
Zean hanya diam tak menanggapi sikap dinginnya Arnold. Tapi dia senang karena sahabatnya memiliki orang yang pengertian terhadapnya. Dan sebenarnya ia memang penasaran dengan sosok wanita yang ada di sebelah rumah sahabatnya itu.
"Ayo makan, bukannya kamu lapar?" tanya Arnold sambil meletakan piring dan nasi.
Zean bersemangat untuk memulai makan, ia pun menyanduk nasi dan sup yang di buat oleh tetangga Arnold tadi. Ia penasaran dengan rasanya dan ingin segera mencicipinya. Saat makanan itu masuk ke mulut Zean, ia pun terkejut dengan rasanya. Seolah-olah ia dapat mengenali masakan yang saat ini ia makan, seakan-akan makanan ini sudah terbiasa di mulutnya dan ia sangat merindukannya.
"Aku benar-benar penasaran dengan sosok wanita di sebelah rumah mu ini." ucap Zean.
"Kan aku sudah bilang, kamu bisa datangi dia di rumah itu. Masakannya lumayan enak." ucap Arnold santai.
Mereka melanjutkan makan dengan lahap, termasuk Zean yang entah mengapa rasanya ia tak ingin menyisakan sedikit pun makanan yang ada di atas meja saat ini.
__ADS_1
"Tiba-tiba aku merindukan mu lagi Raa, sup ini sangat mirip dengan masakan yang sering kamu buat untuk ku dulu." batin Zean