Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 121


__ADS_3

Aku duduk di depan pintu kamar apartemen ku, dan aku rasa mungkin Ian sudah menelepon ku berkali-kali. Sudah lebih setengah jam aku duduk di lantai seperti ini, meratapi kesialan ku yang tidak habis-habisnya. Aku bukannya tidak mau melapor ke resepsionis, tapi aku masih trauma akan kejadian tadi. Aku meletakan kepala ku ke lutut ku dan benar saja kini rasa lelah perjalanan menghampiri tubuh ku, rasanya sedikit mengantuk.


"Sudahlah ku pejamkan saja mata ku di sini sambil menunggu Ian datang. Toh tak akan ada orang yang lewat sepertinya." pikir ku


Ckleeeek....


Seperti ada sebuah pintu yang terbuka, tapi aku sudah tidak memperdulikannya karena mata ku yang sudah sangat mengantuk.


" Hei mau sampai kapan kamu duduk di situ?" tanya seorang laki-laki yang sangat ku kenal suaranya. Ya... ini suara manusia ngeselin tadi.


"... Apa lagi sandiwara mu sekarang? Sepertinya kamu suka menyusahkan orang ya?" tanya nya lagi.


Aku sama sekali tak menggubris ucapannya, tenaga ku terlalu berharga untuk meladeni omongannya yang tidak masuk akal itu.


"Kamu mau nunggu di tempat ku dulu?" tanya nya tiba-tiba.


Aku mengangkat kepala ku dan mengkerutkan dahi ku. Pandangan ku sangat sinis mengarah ke


bola matanya "mau mu itu apaan sih? Dari tadi gangguin orang, sekarang sok baik nawarin tumpangan." pikir ku.

__ADS_1


"Aku ketinggalan card kamar sama Hp di dalam kamar." ucap ku.


".... Jangan bilang kalau kamu juga gak percaya kalau aku pemilik kamar ini." ucap ku lagi.


"Iya sempat sih aku berfikir kayak gitu, tapi kalau aku lihat lagi ya mana ada orang bodoh yang mau nungguin kamar orang sampe ketiduran gini." ucapnya meledek ku.


Dia pun berjalan melewati ku dan aku tetap duduk tanpa menghiraukan kepergiannya.


"Kamu gak mau masuk ke kamar mu? Cepat biar ku bantu urus card mu di bawah." ucapnya sambil berlalu.


Aku yang mendengar ucapannya langsung berlari mendekatinya dan mengikutinya dari belakang.


"Aku hanya risih melihat kucing liar di kooridor kamar, dan terlebih lagi ini sudah mau masuk musim dingin." ucapnya santai


"Ngeselin banget sih..." gumam ku pelan.


"Hmm...?" tanya nya


"Enggak." ucap ku sambil tersenyum di paksakan

__ADS_1


Kami keluar dari lift, dan dia tetap saja berjalan di depan ku. Seperti majikan dan pembantu aku mengikutinya dari belakang, hanya saja karena aku memang membutuhkannya makanya aku bersedia untuk merendah seperti sekarang. Ia membantu ku mengurus prosedur akan card ku yang tertinggal di dalam kamar, tak lama card cadangan ku sudah ada di tangan ku. Akhirnya aku bisa masuk dan istirahat.


"Kamu gak mau masuk dulu?" tanya ku.


"Ngapain...? Lagian kamu berani banget ya, undang orang yang gak di kenal masuk ke dalam kamar." ucapnya.


"Iyaa... Aku mau bikinin kamu kopi, ucapan sebagai rasa terima kasih aku karena kamu udah bantuin tadi. Dan juga, aku Tiara." ucap ku sambil memperkenalkan diri.


"Lain kali aja, aku sibuk sekarang. Aku Arnold." ucapnya sambil menjabat tangan ku


"Owh ok, tapi makasih banyak ya." ucap ku lagi


Arnold hanya mengangguk dan pergi meninggalkan ku yang masih berdiri di depan pintu kamar ku. Setelah melihatnya masuk, aku pun masuk ke dalam kamar dan membaringkan badan ku di kasur.


"Aahhh aku benar-benar butuh istirahat." ucap ku sambil memejamkan mata


Arnold masuk ke dalam kamarnya dan melihat ponselnya, ia mencoba mencari-cari sesuatu melalui ponselnya tersebut. Dan ternyata ia menemukan foto pernikahan Tiara dan Zean di galerinya yang tak lama ini ia simpan.


"Ternyata benar-benar dia, jauh-jauh lari ke paris dan ternyata wanita itu pun datang ke sini juga. Ini akan jadi cerita menarik." gumam Arnold

__ADS_1


__ADS_2