Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 158


__ADS_3

Kami sudah sampai di rumah, Zean membantu ku untuk berjalan dan sangat hati-hati untuk membawa ku menaiki tangga menuju kamar.


"Aku hanya hamil, bukan sakit keras Zean." ucap ku sedikit kesal melihat tingkah Zean.


"Aku hanya ingin kamu baik-baik saja Bii, karena saat ini kamu sedang membawa bayi kita." ucap Zean memelas.


"Baiklah, tapi aku akan lebih hati-hati ok. Jadi kamu harus mengurus keberangkatan kita besok sendirian atau aku temani?" tanya ku mengalihkan pembicaraan.


"Aku... Bii, bagaiman kalau aku aja sendiri yang berangkat ke Paris. Kamu bisa tinggal di sini dengan ayah dan Dita. Aku khawatir kalau kamu ikut ke sana nanti kamu akan bosan dan sendirian di rumah." ucap Zean sambil memegang kedua tangan ku.


"Aku sama sekali tidak keberatan jika harus tinggal di rumah dan menunggu mu pulang kerja, aku akan baik-baik saja." ucap ku meyakinkan Zean.


"Apa kamu masih tidak mempercayai ku Bii?" tanya Zean cemas.


"Bukan, aku hanya tidak ingin berpisah dengan mu lagi. Dan juga dia cuma butuh kamu, bukan orang lain." ucap ku sambil mengusap perut ku.


Zean menghela nafasnya dan mengelus kepala ku dengan lembut.


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengurus semuanya hari ini. Dan juga akan menyuruh Dita dan ayah untuk datang menemani mu sekarang ok." ucap Zean tersenyum.


Aku mengangguk menyetujui ucapan Zean, dan Zean pun bergegas menelepon ayah dan Dita untuk datang ke rumah kami. Setelah menelepon ayah dan Dita, Zean bersiap-siap untuk pergi mengurus berkas-berkas yang harus kami bawa besok. Tak lama kemudian Dita datang dengan wajah cerianya.


"Tumben minta di temani, kamu sakit?" tanya Dita.


"Taa aku mau urus ini semua, titip Tiara sebentar ok." ucap Zean.


"Pergi-pergi kaki juga butuh me time, pulang jangan lupa bawa makanan." ucap Dita mengusir Zean.


Aku hanya tersenyum melihat tingkah laku suami dan sahabat ku itu. Aku membuatkan Dita secangkir lemon tea kesukaannya.


"Kenapa kamu gak ikut Zean untuk mengurus semua itu?" tanya Dita.


"Aku menunggu kedatangan ayah, besok aku harus berangkat. Jadi aku juga mau berpamitan dengan ayah." ucap ku.


"Owh, apa tidak terlalu cepat bagi kalian kembali ke sana? Aku lebih suka kalian mencari pekerjaan di sini." ucap Dita sedih.


"Aku dan Zean ingin kehidupan kami menjadi normal dan memulai semuanya di tempat yang baru Taa, di sini terlalu mencekam dan Zean selalu di hantui dengan kecelakaan yang menimpa kami beberapa tahun yang lalu. Kami masih butuh waktu untuk pulih." ucap ku menjelaskan.


"Ya aku mengerti, kejadian itu benar-benar membuat ku kehilangan selera makan. Mengingatnya saja membuat ku mau gila." kata Dita takut.

__ADS_1


Aku tersenyum melihat Dita, tak di sangka ia akan selalu menemani ku bahkan merelakan pernikahan mereka hanya demi merawat ku. Saat kami berbincang-bincang terdengar suara mobil dari luar dan ternyata ayah sudah sampai di rumah ku, aku membukakan pintu dan menyalami tangan beliau.


"Maaf ya yah, nyuruh ayah datang ke sini tiba-tiba." ucap ku sambil membawa ayah masuk.


"Aku kira kalian ada masalah apa, ternyata hanya karena mau berangkat besok." ucap ayah menggelengkan kepalanya.


Aku membawa ayah masuk dan duduk di sofa ruang keluarga, Dita yang melihat kedatangan ayah pun langsung mendekat dan bersalaman dengan ayah.


"Raa buatin ayah sama pak Sugeng kopi dulu ya. Ayah di temani Dita bentar." ucap ku meninggalkan mereka.


Aku bergegas ke dapur dan membuatkan dua cangkir kopi untuk ayah dan pak Sugeng yang sudah mengantar ayah ke rumah ku. Setelah selesai aku pun membawa kopi itu kepada mereka yang duduk santai di ruang keluarga.


"Ayah minum dulu, pak ayo di minum kopinya. Udah Raa bikinin." ucap ku.


"Iya mbak, gak perlu repot-repot." ucap pak Sugeng.


Aku tersenyum mendengar ucapan pak Sugeng dan duduk di sebelah ayah. Ayah menyeruput kopi buatan ku dan meletakan kembali cangkirnya ke meja.


"Ayah capek? Besok Raa mau berangkat, ayah gak apa-apa kan?" tanya ku.


"Ya enggak apa-apa toh, kamu berangkat kan sama suami mu. Ayah lebih tenang di banding kamu berangkat sendirian." ucap ayah.


"Jadi kalian pergi sama siapa lagi? Dita ikut?" tanya Ayah.


"Enggaklah, kerjaan Dita di sini gimana kalau ikut ke sana? Iya, emang kalian pergi sama siapa lagi ke sana?" tanya Dita penasaran.


"Sama ini...." ucap ku sambil mengeluarkan foto hasil USG.


Dita dan ayah mendekati foto yang ku letakan di meja, dengan seksama Dita melihat foto yang kini sudah beralih ke tangannya.


"Kamu hamil?" tanya Dita spontan.


Aku tersenyum menganggukkan kepala ku dan menatap kepada ayah.


"Alhamdulillah nduk. Selamat ya." ucap ayah membelai kepala ku.


"Raa, kamu hamil di luar nikah?" tanya Dita lagi.


"Apaan sih? Sekarang kok kamu jadi ****." ucap ku sinis.

__ADS_1


"Iya kan kalian baru aja nikah, kok udah bunting aja." ucap Dita.


"Dita, mereka ini kan belum sempat cerai. Walau pun sudah cerai, jika mereka sudah memutuskan untuk rujuk sebenarnya tidak perlu melakukan pernikahan lagi. Hanya saja kemarin mereka berfikir untuk menepis pikiran-pikiran orang yang yang tidak mengerti. Tidak sebagian orang tau jika rujuk itu bisa di lakukan hanya dengan ucapan. Jadi mereka melakukan pernikahan agar tidak di bilang berzina. Karena mereka sempat berpisah." jelas ayah.


"Ok, jadi Tiara udah buat duluan dong dengan Zean sebelum menikah kemarin?" tanya Dita lagi.


"Di situ tertulis usia kandungan berapa Minggu?" tanya ayah.


Dita mengamati foto udh dan hasil pemeriksaan dokter.


"Satu Minggu." ucap Dita.


"Nah, pernikahan mereka juga satu Minggu. bisa jadi pas mereka berhubungan lagi masa baik. Dan itu USG hanya sebuah prediksi, tidak semua yang tertulis di situ tepat." ucap ayah.


"Iya tapi kan aneh aja, masak baru nikah..." ucap Dita yang masih bingung.


"Ingat, mereka belum bercerai secara hukum. Sepertinya kamu harus banyak-banyak membaca." ucap ayah sambil tertawa.


"Sudahlah, ngapain bahas ini sih? Lagian kami juga bakalan berangkat ke Paris." ucap ku tersenyum.


"Kamu yakin mau ke Paris dengan kondisi mu seperti ini? Mending biarin Zean sendiri dulu deh kesana." ucap Dita.


"Iya nduk, kondisi mu ini masih rentan loh. Nanti ada apa-apa gimana? Tunggu sudah tiga atau empat bulan saja baru menyusul. Atau enggak kamu lahiran di sini saja." ucap Ayah khawatir.


"Zean juga mengatakan seperti itu yah, tapi Raa rasanya tidak mau jauh dari Zean sekarang." ucap ku.


"Jangan bandel deh Raa, kamu itu kalau di bilangin nurut." omel Dita.


"Ya sudah, mungkin anak mu mau dekat dengan bapaknya. Jadi kamu benar-benar harus ekstra hati-hati untuk berangkat besok. Jangan bawa-bawa barang yang berat, dan juga vitamin mu harus rutin di minum." nasehat ayah.


Aku mengangguk mendengar ucapan ayah.


"Sekali lagi, selamat ya nduk. Jaga diri dan anak mu, ingat kamu sebentar lagi bakalan jadi seorang ibu. Dan itu akan jauh lebih sulit di banding hanya sebagai seorang istri." ucap ayah.


"Makasih yah, Raa bakalan selalu ingat nasehat ayah." ucap ku memeluk ayah.


"Aku akan mengabari Richard dan Naya, mereka pasti senang." ucap Dita.


Aku dan ayah tersenyum melihat Dita yang bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2