Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 58


__ADS_3

Aku meletakan ponsel Zean di atas meja dan meninggalkannya sendirian di kamar. Aku tahu persis apa yang di rasakan oleh Zean saat ini.


Pagi-pagi aku bangun untuk menyiapkan sarapan buat Zean. Karena kejadian semalam, aku merasa sedikit iba melihatnya. Aku pun turun ke bawah dan menyiapkan sarapan. Setelah pukul 7.45 aku belum juga melihat sosok Zean turun dari kamarnya, aku pun mendatangi kamarnya. Setelah ku cari, aku sama sekali tak menemukan sosok Zean di dalam kamar itu.


"Mungkin dia udah pergi dari pagi tadi" pikir ku. Aku pun turun, dan membereskan masakan ku tadi. Aku menyimpannya dan pergi mandi.


Zean mampir ke rumah Melati sebelum berangkat kerja, ia sengaja pergi pagi-pagi agar bisa berbicara berdua dengan Melati. Setibanya di rumahnya, ia melihat Melati yang siap-siap akan berangkat kerja. Ia pun menghampirinya.


"Tumben kamu udah siap pagi-pagi gini, ada apa?" Tanya Zean penasaran


"Kamu ngapain di sini? Lagian aku mau cari taksi buat berangkat kerja" ucap Melati


"Kenapa naik taksi? Kamu nggak berangkat bareng aku lagi?" Tanya Zean lagi


"Nggak, aku bisa berangkat sendiri" ucap Melati ketus


"Kamu kenapa sih? Yang seharusnya marah itu aku, bukan kamu"


"Terserah lah Zean, aku juga udah capek sama kamu" 


"Maksud kamu? Kamu mau ninggalin aku gitu? Kamu nggak lihat semua pengorbanan aku?"


"Pengorbanan apa? Aku ini butuh kepastian Zean, kalau sampai sekarang aja kamu belum ceraiin istri mu aku harus nunggu kamu sampai kapan?"

__ADS_1


"Aku kan udah jelasin berkali-kali sama kamu, kamunya aja yang sengaja ungkit-ungkit masalah ini biar aku terpojok kan?"


"Terserah mu lah Zean. Yang jelas, sekarang aku bosan dan muak sama mu"


Melati pun pergi meninggalkan Zean dan masuk ke dalam taksi. Zean sangat tak percaya melihat tingkah Melati, setelah semua pengorbanannya selama ini sekarang ia di campakkan.


Dita menelepon ku pagi ini, ia ingin mengajak ku untuk bertemu sepulang mereka kerja. Aku pun menyetujui ajakannya, sekalian siang ini aku memang kosong. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah ku. Aku pun berjalan menuju pintu dan membukakannya.


"Selamat pagi mbak, dengan rumah pak Zean ?" Tanya seorang pak pos


"Owh, iya pak. Saya istrinya" ucap ku


Pak pos memberikan sebuah surat kepada ku dan aku pun menerimanya. Tak lama kemudian pak pos meninggalkan rumah dan berlalu.


"Hy pak boss, gimana kabar mu di sana?" Ucap ku


"Aku baru pulang kerja, di sini udah malam banget" ucap Andre lelah


"Ya kamu istirahat gih sana, lagian juga kenapa nelpon kalau tau capek"


"Yaa nggak papa. Kamu lagi ngapain?" 


"Hmm, aku baru dapet surat nih"

__ADS_1


"Surat? Dari siapa?"


"Dari pengadilan agama"


"Owh, Zean jadi menggugat cerai kamu?"


"Bukan Zean, tapi aku yang menggugat cerai dia"


"Kenapa? Kamu udah yakin ingin pisah dari dia?"


"Aku capek kayak gini terus Ndre. Dan juga, aku udah berulang kali minta dia balik. Tapi dia sama sekali nggak mau"


"Jadi hati mu udah mantap dan nggak akan ada penyesalan"


"Ya begitu lah, aku tidak mau sakit untuk berkali-kali"


"Ya sudah lah jika itu keputusan mu. Aku harap kamu yakin dan berbahagia"


"Iya, thanks ya Ndre. Kamu istirahat sana, besok kan mau kerja lagi"


"Ok, kamu hati-hati. Jangan lupa makan dan jaga kesehatan"


"Iya, kamu juga. Bye"

__ADS_1


Aku pun menutup telepon dan meletakkannya di kasur. Aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok, dan harus kuat untuk menghadapi semua ini.


__ADS_2