
Zean pergi ke rumah sakit untuk melanjutkan terapinya, ia seakan yakin dengan kondisinya saat ini.
"Perkembangan mu cukup cepat dan ini akan menjadi keuntungan terbaik buat mu. Kamu sudah bisa melepas ini dan berjalan seperti biasa." ucap Dokter.
"Terima kasih dok, saya sangat senang dengan bantuan anda saya bisa pulih lagi" ucap Zean senang.
"Ya sama-sama. Saya akan meresepkan beberapa suplemen kamu bisa tebus di apotik." ucap dokter memberikan kertas resep.
"Baiklah, terima kasih." ucap Zean sambil menjabat tangan sang dokter.
Setelah mendapat persetujuan Dokter Zean melepas tongkatnya dan berjalan seperti biasa walau masih sedikit kaku. Tapi ia tetap berusaha dan membiasakan diri.
Aku baru bangun dari tidur ku, dan bersiap-siap akan pergi ke toko buku. Karena sudah memasuki musim libur natal, kantor meliburkan para pekerjanya.
"Ahh aku harus cepat agar cuaca tidak terlalu dingin nantinya." gumam ku.
Aku pergi mandi dan bersiap-siap akan keluar. Saat mau berangkat dan mencari taksi, aku melihat mobil Arnold keluar dari basment apartemen.
"Kemana dia pergi buru-buru begitu?" gumam ku.
Tapi aku tidak terlalu memperdulikannya, karena setiap orang memiliki masalah pribadinya masing-masing.
________________
Sudah dua hari Andre menemani wanita yang di tolongnya itu di rumah sakit. Karena melihat wanita itu sudah sedikit membaik, Andre memohon diri untuk pulang sebentar. Setelah mendapatkan izin, ia mengambil baju hangatnya dan pergi dari rumah sakit.
"Aku harus membicarakan masalah Tiara ke Zean, aku harus mengatakan kalau saat ini Tiara dekat dengan laki-laki lain." ucap Andre
Ia pun memutar balik mobilnya dan menuju apartemen Zean, setelah tiba di sana ia bergegas naik untuk menemui Zean. Ia mencoba mengetuk pintu rumah Zean namun tidak ada jawaban. Di cobanya berkali-kali namun tetap sama, tak ada sautan dari dalam rumah menandakan ada seseorang di dalam sana. Saat ia berinisiatif untuk pulang, ia melihat Zean yang sudah bisa berjalan di hadapannya.
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Zean sedikit tak suka.
__ADS_1
"Ada hal yang harus aku bahas bersama mu, ini tentang Tiara." ucap Andre.
Zean mendekat dan membuka pintu apartemennya, ia pun mempersilahkan Andre masuk dan membuatkan minuman hangat untuknya.
"Katakan, apa yang membuat mu sampai jauh-jauh ke Paris." ucap Zean sambil memberikan secangkir teh hangat.
"Apa kau sudah tau kalau Tiara saat ini ada di Paris?" tanya Andre.
Zean terkejut mendengar ucapan Andre, ia sama sekali tak tau kalau Tiara ada di Paris saat ini.
"Kapan dia ke sini? Dan mengapa kau memberi tahu ku?" tanya Zean.
"Sudah hampir tiga bulan, awalnya aku sama sekali tidak mau memberi tahu keberadaan Tiara kepada mu. Tapi setelah aku tau kalau Tiara saat ini dekat dengan laki-laki lain sepertinya aku harus memberitahu mu tentang hal itu." ucap Andre.
"Apa...? Bukannya aku sudah melepasnya dan menyuruhmu untuk mengejarnya? Kenapa bisa ada laki-laki lain yang mendekatinya?" tanya Zean.
"Aku sudah berusaha, tapi selalu di tolak olehnya." ucap Andre melemah.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menarik Tiara lagi ke sisi ku. Dan aku harap kau tidak pernah ikut campur lagi dalam hal rumah tangga kami." ucap Zean.
"Aku harus tau siapa laki-laki itu terlebih dahulu." ucap Zean
Andre hanya diam mendengar ucapan Zean, ia berfikir memang lebih baik Tiara bisa kembali bersama Zean. Toh Tiara sangat mencintainya, sampai saat ini Tiara tetap memakai cincin pernikahan mereka walaupun ia tau kalau Zean sudah menyakitinya dan meninggalkannya.
Aku duduk di sebuah toko kue dan menikmati beberapa kue yang ku beli sambil membaca beberapa buku yang tadi sudah ku beli. Dan terlebih lagi jika aku menjadi member di toko buku itu aku akan mendapatkan banyak potongan harga. Saat asik membaca tiba-tiba ponsel ku berbunyi, dan ternyata itu dari Carlo.
"Hy.... Bukannya kamu bilang ada kegiatan di gereja hari ini? Ada apa menelepon?" tanya ku.
"Raa maaf aku menelepon mu mau minta tolong sesuatu boleh? Aku mau kamu anterin berkas ke rumah Mr.Zee, berkasnya aku letak di meja kantor. Aku benar-benar lupa kalau itu laporan akhir tahun, kalau terlambat aku bisa kena masalah di kantor. Sedangkan kegiatan gereja ku entah sampai kapan selesainya." ucap Carlo panik.
"Baiklah, kamu lanjutkan saja acaranya. Aku akan mengantar berkas itu untuk mu." ucap ku santai.
__ADS_1
"Terima kasih Raa, maaf sudah merepotkan mu." ucapnya lagi.
Aku mematikan ponsel dan mengemas barang ku, memasukannya ke dalam tas. Setelah itu aku memanggil taksi dan memintanya mengantar ku ke kantor. Setiba di kantor aku mencari-cari berkas yang di katakan oleh Carlo tadi, tiba-tiba aku di kejutkan oleh seseorang dari belakang.
"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Arnold mengejutkan ku.
"Aahhh, kau mengagetkan ku tau. Aku ke sini mau antar berkas ini ke Mr. Zee, Carlo melupakannya dan memintaku untuk mengantarkannya." ucap ku sedikit kesal.
"Owh, ayo aku antar kamu. Sekalian aku mau pergi juga." ucap Arnold.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya ku penasaran.
"Ada pekerjaan yang aku lupa, lagian aku hanya memeriksa kantor sebentar." ucap Arnold.
"Emang kamu siapa? Memeriksa kantor. Karyawan biasa udah pada libur, kecuali scurity." gumam ku.
"Sudahlah ayo berangkat, nanti kamu kelamaan di sini sendirian." ucap Arnold menarik tangan Tiara.
Entah apa di fikiran Arnold yang suka sekali menarik tangan Tiara seenaknya. Tanpa permisi atau pun berbicara, namun karena sudah terbiasa aku sama sekali tidak memperdulikannya. Setelah beberapa saat kami menyusuri jalanan, kami pun tiba di gedung apartemen milik Mr. Zee. Dan seperti biasa, Arnold tak ingin masuk bersama ku dengan berbagai macam alasan. Ku fikir mungkin mereka pernah ada salah paham, jadi Arnold tak ingin melihat Mr. Zee. Setelah tiba di depan kamar Mr. Zee, aku pun mengetuk pintunya.
Tok... Tok... Tok
Pintu pun terbuka, dan alangkah terkejutnya aku setelah melihat siapa yang membukakan pintu untuk ku saat ini. Sosok laki-laki yang sangat aku kenal dari dulu.
"Andre.... Kamu ngapain di sini?" tanya ku kaget.
"Raa... Kamu kok bisa ke sini?" tanya Andre balik.
"Aku mau antar berkas ini, kok kamu di sini?" tanya ku penasaran.
"Siapa....?" tanya seseorang dari dalam rumah.
__ADS_1
Saat aku memiringkan kepala ku untuk melihat ke sumber suara, aku pun lebih terkejut melihat sosok yang berdiri di belakang Andre. Sosok yang selama ini aku rindukan, sosok yang aku fikir sudah pergi untuk selamanya dan tak akan kembali lagi. Berkas-berkas yang ku pegang berhamburan di lantai, rasanya seperti mimpi bahkan pukulan kuat di kepala ku.
"Zean...." ucap ku tak percaya.