
"Momy... Momy.... Tolong ambilkan sepatu ku." teriak Nadine yang berusaha mengambil sepatunya di atas rak.
Zean mendekati Nadine dan mengangkat tubuh mungilnya, membantu gadis kecil itu untuk meraih sepatu kesukaannya.
"Kamu mendapatkannya sayang?" tanya Zean.
"Ya, aku sudah meraihnya. Turunkan aku." ucap gadis kecil itu.
Zean menuruti ucapan Nadine dan menurunkannya perlahan. Ia melihat Nadine memakai sepatunya dan berusaha mengikat talinya. Melihat kalau ia kesusahan, Zean berjongkok dan membantu Nadine mengikatkan tali sepatu gadis kecil itu.
"Terima kasih Dady. Dady yang terbaik." ucap Nadine tersenyum manis.
"Berikan dadi sebuah hadiah kecil. Kiss me please baby." ucap Zean memohon.
Nadine memberikan sebuah ciuman kecil di pipi ayahnya itu dan berlari meninggalkan Zean yang masih berjongkok. Aku keluar setelah mendengar keriuhan yang terjadi di luar rumah dengan membawa beberapa kotak bekal.
"Aku akan menemui kalian di taman bermain setelah meeting ku selesai." ucap Zean.
__ADS_1
"Tadi aku dengar Nadine memanggil ku, ada apa?" tanya ku tanpa menghiraukan ucapan Zean.
"Dia meminta mu mengambilkan sepatunya. Aku sudah mengambilkannya dan juga memasangnya." ucap Zean.
"Baiklah, kamu harus menghabiskan bekal mu. Dan berhati-hatilah di jalan." ucap ku sambil memberikan kotak bekal kepada Zean.
"Terima kasih Bii, aku akan mengantarnya ke sekolah. Setelah itu berangkat ke kantor." ucap Zean menjelaskan.
"Iya, nanti aku akan menjemputnya dan menunggu mu di taman bermain. Jangan lupa untuk memberikan bekal Nadine." ucap ku.
Zean mengangguk mendengar ucapan ku dan mengecup kening ku. Tidak terasa sudah lima tahun berlalu dan aku sudah melahirkan seorang putri yang cantik. Awalnya ku kira akan sangat sulit bagiku mengutus seorang anak karena aku tidak pernah sekali pun mengurus seseorang. Tapi dengan bantuan Zean aku merasa lebih baik saat ini, karena hampir semua urusan Nadine Zean yang melakukannya untuk ku. Nadine berlari menuju kami yang masih berdiri di depan pintu rumah.
"Baiklah sayang, ayo berpamitan dengan momy mu." ucap Zean.
"Kiss me honey, jangan lupa makan bekal mu dan baik-baik di sekolah ok." ucap ku sambil menggendong Nadine.
"Baik momy, aku akan merindukan momy saat di sekolah nanti." ucapnya lugu.
__ADS_1
"Momy juga akan merindukan mu sayang. Nanti momy akan menjemput mu dan kita akan pergi ke taman bermain hati ini." ucap ku menghiburnya.
"Kami berangkat." ucap Zean meraih Nadine dari gendongan ku dan membawanya menuju mobil.
Zean meletakan Nadine ke dalam mobil dan mereka pun berangkat.
"Bye momy... Bye momy... i Miss you." ucap Nadine sambil melambaikan tangannya.
Aku membalas lambaian tangan Nadine dan tersenyum ke arahnya. Mobil Zean pun berlalu, aku masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Saatnya bagi ku untuk membereskan se isi rumah yang sudah berantakan oleh tingkah lucu Nadine. Aku membereskan semua yang sudah berserakan dan merapikan meja kerja Zean. Setelah melahirkan, aku benar-benar memfokuskan diri untuk mengurus keluarga ku. Bukan karena Zean melarang ku untuk bekerja, namun aku merasa kurang yakin jika Nadine harus di titipkan di tempat penitipan anak. Dan juga ayah sudah berpesan kepada ku untuk menikmati mengurus Nadine karena momen seperti ini tidak akan terulang lagi. Jadi aku memilih berhenti dari dunia kerja dan memfokuskan diri ke keluarga.
Benar-benar tidak mudah untuk menjadi seorang ibu, terkadang aku harus menahan ego ku demi dua orang yang ada bersama ku saat ini. Menahan rasa kesal dan penat demi menemani si kecil bermain. Berusaha dalam kondisi yang baik dan selalu mengerti mereka tanpa harus meminta mereka membalas apa yang sudah kita lakukan. Tapi untunglah Zean membantu ku mengurus Nadine yang terkadang merajuk dan susah untuk di atur karena sedang masa-masa 'nakal-nya'. Dengan cekatan Zean membantu ku mengurus Nadine, dan tak jarang juga ia membantu ke merapikan rumah yang sudah di buat berantakan oleh gadis kecil kami.
Sesekali ayah datang ke sini untuk sekedar berlibur dan bertemu dengan cucunya. Termasuk Dita dan Richard yang sudah melangsungkan pernikahan dan sekarang Dita sedang mengandung anak pertamanya. Ya, semua berjalan dengan baik walau pun tidak semua yang diharapkan terkabul. Setidaknya kami sudah bisa mengatasi beberapa masalah dan siap menghadapi bermacam-macam masalah lainnya.
Yakinlah, setiap hal yang menurut kita buruk belum tentu akan menghasilkan hal yang buruk juga. Kita harus berani mencoba dan mengulanginya, selama kita yakin dan membuang kesalahan pasti akan menghasilkan hal yang jauh lebih baik.
Perjuangkan rumah tangga yang sudah kita bangun, jika menyerah akan satu masalah itu akan membuat mu gagal lagi untuk menghadapi masalah yang sama. Ingatlah, jodoh tidak akan tertukar dan perjuangkan apa yang pantas di perjuangkan.
__ADS_1
End...