Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 124


__ADS_3

Aku melangkah dengan cepat masuk ke dalam gedung, cuaca sekarang memang sudah agak dingin dan aku harus membiasakan ini. Setelah berurusan dengan pihak HRD dan menandatangani kontrak, aku di bawa oleh kepala bagian ke meja kerja ku.


"Ini meja kerja anda, jika ada hal yang ingin di tanyakan nanti bisa bertanya langsung ke leader bagian sini. Sepertinya dia sedang keluar, nanti anda bisa bertanya-tanya dengan mereka." jelas kepala bagian.


"Baik pak terima kasih." ucap ku sambil menganggukan kepala.


Aku merapikan meja ku dan meletakan beberapa barang ku di meja itu, termasuk meletakan foto ku dan Zean di sudut meja. Agar saat lelah aku bisa melihat foto itu dan menjadi lebih bersemangat lagi. Saat asik berkemas ada seseorang menyapa ku dari belakang.


"Hy... kamu baru ya?" sapa seorang wanita kepada ku.


"Hy... iya, aku Tiara." ucap ku sambil memperkenalkan diri.


"Owh, aku Carlo. Aku duduk pas di sebelah meja mu. Semoga bisa jadi partner yang baik ya." ucapnya.


Aku menganggukan kepala sambil tersenyum ke arah Carlo kami pun berbincang-bincang dan tak lama dia tiba-tiba terdiam seperti melihat seorang malaikat maut. Aku pun menolehkan muka ku ke arah belakang dan melihat seseorang yang ku kenal mendekat ke arah meja kami.


"Apakah kalian sudah selesai bergosip ria? Aku harap kalian tau batasan kalian di kantor." ucap pria itu yang tak lain adalah Arnold.


Aku hanya diam mendengar ucapannya dan seakan kurang percaya kalau aku akan bertemu dengan nya di kantor ini.


"Dia leader bagian sini, orangnya sangat dingin." bisik Carlo kepada ku.


"Kamu anak baru itu kan? Kamu sudah bisa bekerja hari ini, jadi ambil file yang di sana dan kerjakan itu. Kalau kurang mengerti kamu tanya ke Carlo." perintahnya.


Sesegera mungkin aku mengambil file-file yang masih belum di entry ke sistem, dan di bantu Carlo meletakkan ke atas meja ku.


"Gila ya nih cowok, aku masih baru aja udah segini kerjaannya. Dasar psikopat" upat ku dalam hati.


Arnold pun berlalu dari meja kami dan aku di bantu oleh Carlo menyusun beberapa lembar file yang masih berantakan. Entah mimpi apa aku bisa satu kerjaan dengan Arnold si manusia es ini.


Arnold duduk di mejanya dan membuka komputernya, sesekali ia mengamati Tiara dari kejauhan.


"Memang wanita mengerikan, bisa-bisanya dia yang baru satu hari sampai di sini sudah menginap bersama pacarnya di apartemen. Entah apa yang di fikirkan Zean untuk menikah dengan wanita seperti itu, dengan mudahnya melupakan seseorang dan mengencani pria lain dalam waktu yang singkat juga. Untunglah Zean sudah memilih untuk pergi meninggalkannya" Batin Arnold.


_____________

__ADS_1


Aku melihat jam di komputer ku, sudah mau masuk jam makan siang. Karena masih baru aku mencoba mengajak Carlo untuk makan siang bersama.


"Carlo, makan siang bareng yuk." ajak ku


"Boleh ayo kita keluar sama-sama, nanti aku kenalin sama teman-teman yang lain." ucap Carlo bersemangat.


Benar saja, aku di ajak Carlo bergabung dengan teman-temannya dan mereka menyambut ku dengan hangat. Saat akan berbincang-bincang aku melihat Arnold yang baru saja mengambil makanannya, karena dia sendiri aku berinisiatif untuk mengajaknya bergabung bersama kami.


"Arnold.... Sini makan bareng kami." ajak ku spontan.


Arnold terdiam mendengar ajakan ku, bahkan Carlo dan teman-temannya yang tadinya riuh Mendadak diam seketika. Arnold hanya pergi melewati ku tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya itu. Aku hanya bisa terdiam merasa aneh dengan ajakan ku.


"Berhentilah bersikap baik dengan dia, dia itu orangnya sedingin es tau gak." ucap Carlo.


"Iya-iya, aku pernah dengar gosip kalau dia sengaja merayu wanita namun setelah wanita itu jatuh hati dia malah pergi begitu saja." sambung teman Carlo yang bernama Lhyn.


"Apakah dia seburuk itu? Aku kan hanya menawarkan makan bersama karena dia sudah menolong ku kemarin." ucap ku.


"Kamu sudah bertemu dengannya sebelumnya?" tanya Carlo.


"Ya... Dia tetangga apartemen ku, awalnya aku sama sekali tidak tau kalau dia juga bekerja di sini." jelas ku


"Setuju, aku fikir juga begitu. Sayang kalau kamu malah dapat laki-laki batu begitu." ucap Carlo dan kami pun tertawa mendengar ucapannya.


Di sisi lain Arnold yang sedikit mendengar gunjingan wanita-wanita itu merasa sangat geram. Ia tak menyangka jika sikap cool nya selama ini malah di artikan lain oleh para wanita ini.


"Haruskah wanita-wanita itu menceritakan keburukan orang di saat mereka bersama-sama. Mereka bahkan sama sekali tidak mengecilkan suara untuk meredam hal tersebut." gumam Arnold kesal.


Sepulang kerja aku sudah di tunggu oleh Ian di depan kantor, dan tiba-tiba Ian mengeluarkan sesuatu dari mobilnya. Itu adalah sebuah syal berwana cream, ia membalutkan syal itu ke leher ku sambil mengomel.


"Sudah ku bilang hari akan memasuki musim dingin, kamu harus berpakaian lebih tebal lagi kalau tidak ingin mati beku." omelnya sambil membenarkan syal ku.


"Terima kasih.... Habis aku masih belum terbiasa dengan suasana di sini." ucap ku.


"Ayo masuk, dengan pakaian seperti itu nanti aku akan di bunuh ketua karena keponakannya mati beku." ucap Ian yang menyebut ayahnya dengan sebutan ketua.

__ADS_1


Aku hanya tertawa dan menurutinya untuk cepat masuk ke dalam mobil. Ian mengajak ku mampir ke toko roti, ia membeli banyak roti dan susu. Mungkin karena akan masuk musim dingin jadi ibunya menyuruh membeli ini semua, tapi ternyata dugaan ku salah. Kami mampir ke sebuah panti asuhan dan Ian mengajak ku untuk masuk ke dalam.


"Kita ngapain ke sini...?" tanya ku penasaran.


"Kita antar makanan ini ke dalam dulu, nanti aku ceritakan ke kamu ok." ucap Ian bersemangat.


Benar saja, makanan yang di beli oleh Ian tadi di sumbangkan untuk ke panti asuhan ini. Aku berkeliling melihat situasi panti, dan meliat-lihat daftar buku pengunjung. Tiba-tiba mata ku tertuju pada satu nama yang sangat familiar bagi ku "Zean Akbar". Aku terdiam melihat nama yang ada di daftar pengunjung itu dan berfikir mungkin itu bukanlah orang yang sama. Tak lama Ian mengagetkan ku dan mengajak ku untuk pulang. Di dalam mobil aku masih kefikiran akan nama yang tertulis di dalam daftar pengunjung tadi.


"Kamu kok tiba-tiba jadi pendiam?" tany Ian.


"Owh, aku baru itu datang ke panti asuhan." jawab ku singkat.


"Ini adalah tradisi dari keluarga mami, sesaat akan masuk musim dingin mami pasti menyuruh ku membelikan makanan untuk di bawa ke panti asuhan itu." ucap Ian.


"Kenapa....?" tanya ku penasaran.


"Karena dari sanalah almarhumah kakak perempuan ku di adopsi." ucap Ian lagi


Aku mengerutkan kening seolah tak mengerti, karena seingat ku anaknya pak le Nandar hanya ada satu laki-laki. Dan aku sama sekali tak mengerti maksud ucapan Ian ini.


"Sebelum aku lahir, mami dan dady itu mengadopsi anak perempuan dari panti asuhan ini. Karena mereka belum di karuniain anak, mereka berencana seperti itu. Ternyata benar saja tak lama kakak ku di adopsi, mami hamil aku dan sangat bahagia akan hal tersebut. Mami menganggap kakak sebagai pembawa keberuntungan di keluarga kami, bahkan kakak membantu mami merawat ku. Tapi takdir berkata lain, kakak ku sakit leukimia dan meninggal di saat seperti ini. Saat akan masuk ke musim dingin, dan mami sangat terpukul akan hel tersebut. Makanya setiap akan masuk musim dingin mami pasti suruh aku buat beli banyak makanan seperti tadi dan memberikannya ke panti asuhan itu." cerita Ian panjang lebar.


"Ok, masuk akal sih. Berarti waktu orang tua kamu ke Indonesia dan kamu enggak pulang itu kakak mu yang urus kamu ya?" tanya ku.


"Bukan begitu, saat itu rencananya kami mau pulang ke sana semua. Tapi kondisi kakak menurun dan harus tinggal di rumah sakit, jadi aku menemaninya di sini." ucap Ian menjelaskan.


Aku mengangguk-angguk mengerti dengan situasi seperti itu, wajar saja Ian sangat perhatian kepada ku. Mungkin aku mengingatkannya dengan kakaknya dulu, tiba-tiba aku teringat sesuatu yang sangat ingin aku tanya ddi tadi.


"Ian, daftar pengunjung tadi kenapa kamu tidak mengisinya?" tanya ku.


"Aku kesana kan bukan untuk mengadopsi anak, lagian mereka juga sudah kenal dengan ku. Buat apa aku isi-isi begituan." jelasnya.


"Apakah yang mengisi itu hanya untuk mengadopsi anak?" tanya ku penasaran.


"Yaa.... Enggak juga sih, tapi hampir rata-rata seperti itu. Kenapa? Kamu mau adopsi anak rupanya?" tanya Ian tiba-tiba.

__ADS_1


"Enggak aku cuma tanya-tanya aja." ucap ku sambil memalingkan muka.


Aku pun berfikir mungkin itu hanya kebetulan dengan nama yang sama namun orang yang berbeda, dan aku harus belajar untuk menerima kepergian Zean.


__ADS_2