
Aku terdiam melihat apa yang ada di depan ku saat ini, aku menutup mulut ku dengan ke dua tangan. Sangat kuat, seakan-akan menahan jeritan di kerongkongan ku untuk keluar sehingga membuat berkas-berkas yang akan ku antar jadi berserakan. Tanpa ku minta air mata ku menetes deras, perasaan campur aduk ada di dalam benak ku. Antara kecewa dan bahagia, kecewa karena mereka membohongi ku dan bahagia bisa melihat orang ya selama ini kita anggap sudah tiada kini berdiri di depan mata. Kaki dan tangan ku melemah membuat ku terduduk tak berdaya. Zean mendekatiku dan ingin menangkap ku yang terduduk di lantai.
"Berhenti Zean, jangan mendekat." ucap ku dengan tatapan kosong.
Namun Zean tak menghiraukan ucapan ku dan tetap menarik tangan ku untuk berdiri.
"Jangan sentuh aku Zean, menjauh dari ku. Bukannya kamu sudah mati hah? Kalau kamu sudah mati kenapa harus muncul di hadapan ku?" ucap ku marah.
"Raa ini gak seperti yang kamu pikirkan, ayo masuk dan kita akan bahas ini di dalam." ucap Sean lembut.
Aku tersenyum kepada Zean dan Andre, senyuman sinis yang sangat aku kagumi dengan akting mereka.
"Apa kalian belum selesai bermain-main? Aku akan pura-pura tidak tau dan mengikuti permainan kalian. Aku akan selalu jadi orang bodoh yang bisa kalian tipu dan kalian permainkan sesukanya, ayo bersandiwara lah tanpa beban. Kalian..... Kalian kenapa begitu kejam? Apa sangat besar kesalahan ku di masa lalu sampai-sampai kalian mempermainkan aku seperti ini, kalau begitu kenapa tidak kalian bunuh saja aku." ucap ku sambil menangis tersedu-sedu.
Andre dan Zean benar-benar bingung dengan apa yang harus mereka lakukan, karena memang benar apa yang mereka perbuat saat ini sangat menyakiti perasaan Tiara.
"Yah, aku hanya seorang wanita bodoh yang sangat percaya terhadap cinta. Aku sangat mencintai mu Zean, tapi kau membohongi ku. Berkali-kali Zean, apakah aku harus memaafkan mu? Dan kau mendorong DIA.... Dia yang sahabat kecil ku, yang sangat mengerti aku untuk menjadi pengganti mu kan? Baiklah, mari kita mainkan permainan ini. Aku... aku...." ucapan ku terputus menahan sesak di dada saat ini.
Aku sangat tidak menyangka mereka dapat mempermainkan ku secara langsung dan membuat seolah-olah ini semua nyata.
"Raa ayo masuk, biar aku jelasin semua ke kamu. Kamu tidak mengetahui suatu hal yang amat penting, mengapa aku pergi Raa." bujuk Zean.
"Iya Raa, kondisi Zean dulu sangat parah dan harus di bawa ke sini. Kami cuma ingin kamu cepat pulih dan menjalani hidup normal." jelas Andre.
"Hidup normal...? Apa kau tau betapa tersiksanya aku menjalani hidup? Dulu aku berfikir aku bisa hidup karena membunuh orang lain, aku selalu di hantui rasa penyesalan. Kau tau, rasanya aku lebih baik mati dari pada harus hidup di atas orang mati." ucap ku sambil menyeka air mata ku yang sudah membasahi pipi.
Aku bangkit dari duduk ku, menatap kosong ke arah mereka berdua dan berjalan meninggalkan mereka. Zean mengikuti langkah ku yang menjauh.
__ADS_1
"Jangan mengikuti ku Zean, aku tidak mau melihat kalian. Dan aku akan ikuti permaian kalian." ucap ku sambil masuk ke dalam lift dan menutup pintunya.
Zean terdiam dengan ucapan ku dan berdiri kaku di depan lift. Bingung dengan apa yang harus ia lakukan agar Tiara dapat mendengar penjelasannya. Di dalam lift aku menumpahkan semua tangis ku, membiarkan air mata ku keluar sederas mungkin yang membuat dada ku sangat sesak.
"Berkali-kali kamu buat aku menangis Zeanl, berkali-kali." batin ku.
Pintu lift terbuka, tanpa menunggu aku berlari menuju mobil Arnold dan masuk ke dalam. Melihat ku yang menangis Arnold sedikit khawatir namun tidak mempertanyakannya.
"Aku mau kita cepat pulang Arnold, aku mau pulang." ucap ku terbata-bata.
"Baiklah, kamu minum dulu biar tenang." ucap Arnold sambil memberikan sebotol air mineral.
Tanpa basa basi aku meneguk air mineral itu, dan air mata ku semakin keluar. Membanjiri kelopak mata ku yang sedikit sembab, aku membodohi diri sendiri dan memaki mereka di dalam hati. Arnold hanya diam tanpa bertanya sepatah kata pun kepada ku, mungkin dia sedikit ragu untuk menanyakan masalah pribadi orang. Tiba-tiba Arnold memutar jalan ke arah lain, membuat ku bingung karena itu bukan jalan menuju apartemen kami.
"Istirahatlah, aku akan membawa mu ke suatu tempat yang akan menenangkan fikiran mu." ucap Arnold tanpa menunggu ku bertanya.
Aku hanya diam memandang ke luar jendela dengan sesekali menyeka air mata ku. Aku menghembuskan nafas berat ku yang menyesakan dada dan tetap diam. Tak lama kemudian kami sampai di sebuah taman yang sepi, aku sudah meredakan tangis ku di sepanjang perjalanan tadi.
Aku keluar dan menuruti ucapan Arnold. Arnold berjalan di depan ku dan aku mengikutinya, kami berjalan beberapa meter menanjak dari tempat mobil terparkir. Sesaat kemudian kami pun sampai. Aku melihat saat ini kami berdiri di sebuah lapangan kecil dengan pondokan warung di tepinya.
"Kemarilah..." Ajak Arnold yang sudah duduk di sebuah bangku panjang.
Aku mendekatinya dan ternyata saat ini kami berada di dataran tinggi, membuat kami bisa melihat lampu-lampu rumah tiap sudut kota. Bahkan aku dapat melihat menara Eiffel dari sini. Dan jujur ini membuat ku sangat takjub dan meredakan sedikit sedih ku.
"Kau tau, ini adalah tempat tervaforit ku. Aku bisa menumpahkan segala emosi ku di sini. Lihatlah sampai puas dan redakan semua emosi mu di sini juga." ucap Arnold.
Aku duduk di sebelah Arnold dan menikmati pemandangan yang ada di depan mata ku. Dan lagi air mata ku basah membanjiri pipi ku.
__ADS_1
"Terima kasih karena sudah membawa ku ke sini. Aku benar-benar membutuhkan ini sekarang, dan aku tidak tau setelah ini harus berbuat apa." ucap ku lirih.
"Mulailah dari hal yang mudah. Baiklah aku akan mendengarkan mu, kalau kau mau saran aku akan memberikannya juga." ucap Arnold.
"Kau tau Arnold, saat aku mengantar berkas tadi aku bertemu dengan dua orang yang sangat menjijikan menurut ku. Yang satunya adalah sahabat kecil ku dan yang satu lagi adalah suami ku yang aku kira sudah meninggal setengah tahun yang lalu. Dan aku pun bingung untuk memanggilnya apa." ucap ku lirih.
Arnold hanya diam dan berfikir, "bukannya seharusnya cuma ada Zean di sana. Apa yang di maksud oleh Tiara itu adalah Andre? Berarti Tiara melihat Andre dan Zean secara bersamaan saat itu."
"Mereka membohongi ku Arnold, mereka menipu ku mentah-mentah. Tanpa mereka tau kalau itu benar-benar menyakiti ku." ucap Tiara menangis.
"Mungkin mereka ada alasan di balik itu semua Raa, bukankah seharusnya kamu cari tau dulu kenapa mereka melakukan hal seperti itu terhadap mu." ucap Arnold memberi saran.
"Apa yang harus di jelaskan? Mereka jalas-jelas sudah menipu ku." ucap ku kesal.
"Bukannya bagus ya kalau kamu bisa bertemu lagi dengan seseorang yang selama ini sudah kamu kira meninggal?" tanya Arnold.
Tiara mengerenyitkan keningnya seolah tak mengerti akan maksud dari ucapan Arnold barusan.
"Iya karena aku juga ingin melihat seseorang yang sudah tiada di depan ku, menurut ku itu lebih baik dari pada menahan semuanya sendiri. Setidaknya kita masih di berikan kesempatan kedua untuk melihatnya dan menyapanya lagi. Bahkan kesempatan kedua untuk berada di sisinya dan menatap wajahnya." ucap Arnold sedikit sedih.
"Apa kamu pernah kehilangan Arnold?" tanya ku.
"Ya... Aku kehilangan dia di hari pernikahan kami. Dia meninggal kecelakaan menuju gereja, kau tau Raa? Aku menunggunya di sana sampai dua hari, berharap pengantin wanita ku tiba dan kami bisa melanjutkan pernikahan kami." ucap Arnold.
"Sorry Arnold, aku gak bermaksud untuk..."
"I'm fine Raa, terkadang aku pun berfikir bagaimana jadinya jika aku melihatnya sekali lagi. Walaupun tidak bersama ku, setidaknya aku ingin melihatnya sekali lagi. Itu saja sudah cukup." ucap Arnold.
__ADS_1
Aku terdiam mendengar ucapan Arnold,
"Ya seharusnya aku beruntung bisa melihat Zean lagi. Tapi entah mengapa hati ku saat ini sangat menolak untuk menemuinya." batin ku.