Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 134


__ADS_3

Tiara mengompres muka Arnold yang terkena pukulan oleh Andre tadi, dengan hati-hati ia melakukannya. Ia tak pernah menyangka jika Andre bisa kelewatan seperti ini, sampai-sampai memukul orang sebelum mengetahui kebenarannya terlebih dahulu. Karena Andre yang Tiara kenal adalah sosok yang tidak mudah terpancing emosinya.


"Kamu.... Pasti ada ngomong sesuatukan ke Andre? Dan itu membuat dia marah." Tanya Tiara.


"Aku hanya mengatakan kalau kau sedang tidur di kasur ku, apa itu salah?" Arnold bertanya balik.


"Iya gak salah sih, tapi kamu gak bilang kan alasannya kenapa aku tidur di kamar mu?" tanya Tiara kesal.


"Kamu kok jadi marah ke aku. Harus ya aku kasih tau detailnya ke dia, lagian dianya aja yang sensitif banget." ucap Arnold mengambil kain kompres yang ada di tangan Tiara.


"Iya kalau kamu bilang aku sakit jadinya gak bakalan kayak begini pasti. Karena aku yakin Andre itu gak bakalan main hantam kalau enggak tersulut duluan. Dia itu sangat menjaga aku Arnold." ucap Tiara marah.


"Dia bukan menjaga mu Tiara, dia terlalu terobsesi untuk menjadikan mu pendampingnya. Sehingga ia mengikuti kemanapun kamu pergi, dan menolong mu seolah-olah dia adalah seorang Hero buat mu." ucap Arnold yang tak kalah kesal.


"Dari dulu dia selalu seperti itu, Andre selalu khawatir dengan ku. Kamu gak bisa menuduhnya sembarangan." ucap Tiara sambil berdiri akan meninggalkan Arnold.


"Aku mengatakan itu bukan sembarangan Tiara, apa yang aku bilang itu adalah faktanya. Seperti barusan, apa kamu pernah memberi tau ke dia kalau apartemen kita bersebelahan? Atau pun, apa kamu sudah pernah kasih alamat apartemen dan nomornya? Kalau belum pernah dari mana dia tau kamu tinggal di sini kalau bukan dia mengikuti mu selama ini?" ucap Arnold sambil menarik tangan Tiara.


"Omong kosong apa lagi yang kamu ucapkan hah?" tanya Tiara kesal.


"Itu buka omong kosong, sebelum dia bertemu dengan mu di waktu kita membeli bunga aku sudah sering melihatnya keluar masuk di apartemen ini. Awalnya aku kira dia baru tinggal di kawasan sini, tapi semakin ku lihat dia selalu seperti sedang mengamati mu. Jujur aku risih akan hal itu, makanya aku membawa mu untuk membeli bunga dan cincin. Dan ternyata benar, dia selalu mengikuti pergerakan mu." ucap Arnold menarik Tiara duduk.


"Aku sama sekali gak percaya Andre kayak gitu, aku yaki itu hanya omong kosong mu saja." ucap Tiara melemah.


"Tak apa kalau kamu berfikir begitu, seharusnya kamu sadar saat dia memberikan oleh-oleh yang semua isinya adalah makanan kesukaan mu. Nampak kalau dia benar-benar mempersiapkan itu semua untuk mu." ucap Arnold pergi ke dapur dan melrtakan mangkuk berisi air dingin.


Tiara hanya terduduk diam mencerna apa yang di katakan Arnold dari tadi. Ia tak ingin semudah itu percaya dengan Arnold tapi di sisi lain ucapan Arnold ada benarnya juga. Arnold datang menghampirinya dan meletakan minum beserta obatnya di atas meja. Setelah itu ia pergi ke kamar meninggalkan Tiara yang masih termenung di ruang keluarga.

__ADS_1


Tiara mengambil obat dan memasukannya ke dalam tasnya, ia berfikir untuk pulang dan menenangkan diri di apartemennya. Tanpa berpamitan ia meninggalkan rumah Arnold dan pulang. Setibanya di rumah, ia membuka tas nya dan meminum obat yang sudah di belikan oleh Arnold tadi. Ia mencoba menghubungi Dita, walau pun ia tau kalau saat ini di Indonesia masih jam 3.00 malam. Beberapa kali Tiara mencoba menelepon tapi tak di angkat, dan ia mencoba sekali lagi.


"Hallo Raa... Kamu tau kan di sini jam berapa? sengaja ya?" tanya Dita yang masih mengantuk.


"Aku tau Taa, kamu kenapa gak jujur sama aku sih Taa? Aku udah hampir gila di sini tau gak." ucap Tiara lesu.


"Kamu kenapa? Ada masalah? Aku gak jujur apaan si Raa? Kamu buat aku penasaran tau gak?" tanya Dita bertubi-tubi.


"Kamu kenapa gak bilang kalau Andre sengaja ke sini? Kamu sekongkol sama dia ya?" tanya Tiara balik.


"Sorry Raa, itu dia sendiri yang bilang mau susul kamu ke Paris. Dan dia juga minta aku sama Richard buat gak kasih tau ke kamu, katanya mau kasih suprise ke kamu. Lagian di mana letak salahnya si Raa? Dia itu benar-benar tulus cinta sama kamu, apa salahnya kamu coba buka hati buat dia." ucap Dita panjang lebar.


"Tapi kamu kan tau Taa, aku cuma anggap Andre sebagai sahabat dan itu gak bisa lebih. Aku sudah terbiasa dengan hubungan seperti itu dan aku juga sudah bilang ke dia sebelum berangkat dulu." ucap Tiara.


"Apa salahnya sih Raa kamu kasih dia kesempatan sekali, ya siapa tau kamu kan jauh lebih bahagia di bandingkan saat ini. Dan kamu juga harus bisa perlahan-lahan melupakan Zean Raa, dia sudah tenang di sana." bujuk Dita.


"Ok aku akan selalu mendukung keputusan kamu, aku harap kamu selalu sehat di sana ok." ucap Dita mengalah.


"Baiklah, selamat malam." akhir Tiara sambil menutup teleponnya.


Tiara meletakan ponselnya di meja dan memijit-mijit kepala nya yang sedikit pusing. Ternyata apa yang di katakan Arnold tadi benar, Andre memang sengaja ke sini untuk mengejar ku. Bukan hanya itu, dia bahkan sudah merencanakan ini semua. Tiara agak kecewa dengan tingkah laku Andre yang seperti ini.


________________


Andre duduk di sebuah bar dengan muka kusut, ia tak menyangka akan di usir oleh Tiara yang selama ini sangat lembut terhadapnya dan sangat ia kagumi.


"Arrgh, di mana letak kesalahannya ini...?" gumam Andre kesal.

__ADS_1


"Permisi, boleh aku duduk di sini sebentar?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba ada di sebelah Andre dan memeluk lengannya.


"Kamu siapa, pergi sana." ucap Andre sambil melepaskan tangannya.


"Pliiisss tolong aku sekali ini saja, aku numpang sembunyi di bahu kamu. Setelah itu aku bakalan pergi." ucap wanita itu dengan surara bergetar seakan ketakutan.


"Baiklah, kemari." ucap Andre memeluk wanita itu dan menarik wajahnya ke dada Andre.


Ternyata benar ada segerombolan laki-laki yang sedang mencari-cari seseorang, dan mungkin mencari wanita ini. Dengan masih berpelukan Andre membawa wanita itu keluar dari bar dan memasukannya ke dalam mobil. Mereka pun pergi tanpa tujuan pasti.


"Terima kasih Tuan, tolong turunkan saya di depan sana saja." ucap wanita itu.


"Kamu mau kemana? Biar saya antar pulang." ucap Andre.


"Saya tidak mau pulang Tuan, biarkan saya turun di sana saja." ucapnya ketakutan.


Andre melihat kondisi wanita ini, tubuhnya hampir di penuhi oleh lebam yang entah dari mana datangnya. Terlebih lagi pakaiannya yang tipis, tidak mungkin tega Andre meninggalkannya di pinggir jalan sendirian. Andre pun berinisiatif untuk membawanya ke sebuah penginapan.


"Tuan biarkan saya turun di sini." ucap wanita itu.


"Biar aku antar kamu ke penginapan, kondisi seperti ini sangat tidak mungkin kamu keluar dengan pakaian seperti itu." ucap Andre yang masih fokus mengemudi.


"Tuan, saya tidak memiliki uang sepeser pun. biarkan saya turun di sini saja." ucapnya lagi.


"Aku sudah memesannya dan kamu tidak perlu membayarnya." ucap Andre


Wanita itu terdiam dan menuruti ucapan Andre, Ia tak menyangka akan bertemu orang sebaik Andre saat ini. Dan ia merasa sangat beruntung bisa keluar dari penjara yang hampir saja merengut masa depannya.

__ADS_1


__ADS_2