Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 65


__ADS_3

Aku berangkat ke pengadilan agama bersama ayah ku, aku menunggu ayah di dalam mobil. Aku sedikit gugup untuk menghadapi hari ini, hati dan fikiran ku berkecamuk menjadi satu. Tak lama kemudian ayah masuk ke dalam mobil. Ayah mengenakan kemeja dan celana hitam panjangnya. Sangat rapi dan terlihat sayu di bola matanya. Mungkin ia tak menyangka bahwa ia akan datang di persidangan perceraian putri semata wayangnya.


"ayah udah siap? Kita berangkat pagi-pagi banget biar nggak macet" ucap ku


"iya, ayok berangkat" ucap ayah singkat


Di perjalanan ayah tak banyak bicara, nampak sangat dari wajahnya akan kekecewaan. Aku memfokuskan diri ke jalanan, agar aku tak menangis mengingat akan perceraian ku.


"dulu, saat kamu lahir ayah sedikit kurang menyukai mu. Ayah dulu sangat menginginkan anak laki-laki" ucap ayah memulai cerita


"maafkan Raa yang terlahir sebagai perempuan yah" ucap ku sambil tersenyum ke arah ayah


"ha ha ha. . . tapi setelah kamu pulang ke rumah dari rumah sakit, ibuk mu meletakan kamu di kasur. Karena kelelahan ia pun tertidur, aku melihat mu yang terbangun sendirian di sebelah ibuk mu. Tak menangis atau pun merengek, padahal kamu basah karena pipis. Aku pun berfikir, kamu sangat mengerti ibuk mu capek. Jadi tak mau mengganggu tidur ibuk mu itu, aku meraih dan mengganti kain serta popok mu nduk. Setelah selesai kamu tersenyum kepada ku dan tidur, dan saat itu juga aku berfikir lagi bawa kamu sangat mengerti cara berterima kasih. Jadi setelah itu aku nggak mau melepaskan mu walau pun ibuk mu marah, sampai-sampai semua yang kamu bisa itu aku yang mengajari" cerita ayah panjang


"karena itu Raa dekat sekali sama ayah iya kan?" ucap ku

__ADS_1


"iya tentu, aku mengajari mu berjalan, berlari, dan bersepeda. Tangan ini yang menuntun dan menangkap mu bila kamu akan terjatuh, aku tak pernah membiarkan mu terluka sedikit pun"


"makasih ya yah, sudah banyak berkorban untuk Raa selama ini"


"yaahhh kalau bukan orang tua, siapa lagi yang akan bekorban untuk anaknya"


Aku pun terdiam mendengar ucapan ayah, jalanan di pagi hari tidak terlalu ramai. Jadi sedikit membuat kami lebih cepat sampai di kota.


"yah, , , Raa minta maaf ya yah" ucap ku tiba-tiba


"minta maaf karena Raa mengecewakan ayah" ucap ku


"apa mau di kata nduk. Sampean yang milih untuk masa depan mu, aku hanya bisa ngarep kamu sudah memikirkan rencana kedepan yang lebih baik. Kamu sudah tau solusi dari masalah yang akan kamu hadapi" ucap ayah


Aku hanya diam mendengar ucapan ayah ku, mungkin dia memang sedikit kecewa dengan keadaan rumah tangga ku. Namun aku yakin ayah sepenuhnya mendukung semua keputusan ku.

__ADS_1


Kami telah sampai di pengadilan agama, aku menunggu di lobi sekalian menunggu pengacara ku untuk datang. Tak lama menunggu aku melihat sosok pengacara ku, ia pun menyapa ku dan ayah.


"selamat pagi bu Tiara, maaf saya terlambat" ucap pak Abi sambil mengulurkan tangan ke kami


"nggak apa-apa pak saya juga batu datang. Ini ayah saya pak. Yah,,, ini pak Abi pengacara Tiara" ucap ku memperkenalkan mereka


Ayah pun mengangguk melihat aku memperkenalkan pak Abi, dan mempersilahkannya duduk. Tapi tak lama kemudian, seseorang memanggil ku.


"ibu Tiara, sidangnya sudah bisa di mulai. Ibu di persilahkan masuk ke ruang sidang" ucap wanita itu.


Aku sangat gugup, tiba-tiba tangan ayah menggenggam tangan ku yang gemetar. Seolah-olah ayah tau, betapa gugupnya aku. Ia pun menuntun ku untuk melangkah memasuki ruangan sidang.


"aku yang mengantar mu menikah, kini aku juga yang mengantarkan mu berpisah" ucap ayah sambil menghela nafas berat.


Sangat sedih ku dengar kata-kata itu keluar dari mulut ayah, namun aku tau dia lebih sedih di bandingkan aku saat ini.

__ADS_1


__ADS_2