
Andre mencoba menghibur ku, tak ku sangka aku akan menangis di depan Andre lagi. Setelah sekian lama aku tidak pernah menangis di depannya, terakhir aku menangis saat SMP karena jatuh dari sepeda dan masuk kali. Dan sekarang aku menangis lagi bukan sakit karena terjatuh, melainkan sakit di hati yang tak tau kanpan akan sembuh.
“nangisnya mau sampai kapan? Mata mu udah kayak ikan mas koi” ledek Andre
“kamu ke sini emang mau ngeledek aku kan? Orang sedih kok di ketwain” ucap ku sambil mengusap air mata
“siapa bilang aku ke sini mau ajak kamu keliling kampung, di balai ada pasar malam”
“serius.....? kok nggak bilang dari tadi”
“lha yang nangisnya klamaan siapa? Kok aku yg di salahin ta? Udah ayok ikut nggak”
“iya, tunggu aku siap-siap dulu. Lagian aku mau nutupin mataku yang kayak ikan koi ini” cibir ku ke Andre
__ADS_1
“nggak usah ganti baju, orang sini kan udah pada tau dekilnya kamu dulu”
Aku pergi meninggalkan Andre yang ngomel sendiri. Aku ke kamar, mengambil kacamata bundar dan merapika rambutku.
“yah,,, Tiara ke balai dulu sama Andre ya. Ayah mau titip apa?” tanya ku pada ayah
“iya hati-hati kalian pergi ya. Nggak usah bawa apa-apa nduk. Kamu pulang jangan kemalaman ya nduk” aku pun mengangguk mengiyakan
“pak pamit dulu. Mau bawa main Tiara” pamit Andre
Andre membonceng ku dengan motor nya. Sosok Andre sangat lah sederhana, tapi setiap orang kampung sangat segan dengannya karena kesopanannya dan wataknya yang baik. Suasana pedesaan di malam hari sangat menyenagkan. Udara yang sejuk dan keramahan orang-orangnya membuat kita tak merasa sendiri di sini. Kami sampai dan Andre pun memarkirkan motornya. Balai desa di penuhi dengan segala jenis jualan. Dari jajanan, makanan, baju dan lain sebagainya. Di dalamnya ada juga berbagai macam permainan membuat anak-anak bahkan orang dewasa ingin menaiki semuanya, menyenangkan hal ini bisa terjadi lagi di kehidupan ku.
“kamu belum makan kan Raa?” tanya Andre
__ADS_1
“belum... akhir-akhir ini nafsu makan ku kurang” jawab ku
“ayok sini ku ajak kamu makan” tarik Andre
Kami berjalan menyusuri pasar malam itu. Ntah kemana Andre akan membawa ku. Kami tiba di pedagang bakso kaki lima kami duduk di meja yang sudah di sediakan. Andre memesan bakso dan minuman tanpa dia bertanya kepada ku.
“aku pesanin kamu bakso sama es jeruk dingin. Kalau kamu nggak mau makannya ya udah, ntar aku yang ngabisin” ucapnya
“aku kan belum bilang nggak mau. Lagian aku juga laper” ucap ku cemberut
Andre tertawa melihat ekspresi ku seperti itu. Dan pesanan kami pun datang, semangkok bakso dengan tetelan yang banyak. Membuat air liurku hampir menetes. Sudah berapa lama aku tidak memakan makanan seperti ini di kota.
“udah makanlah.... jangan di pelototin aja. Kalo nggak suka sini” kata Andre sambil menarik mangkok bakso ku
__ADS_1
“eeiii,,, ini punya ku ya. Lagian ini tetelannya banyak banget ya kan, aku bisa habis dua mangkok ini mah“ucap ku sambil mengaduk bakso
Andre hanya tertawa melihatku seperti orang kelaparan. Aku memakan bakso ku, dengan lahap. Lupa akan semua masalah ku, lupa akan sakit hati yang baru saja ku alami. Sangat meneyenagkan bila semua ini ku lalui dengan Zean. Tapi aku pun sedikit melupakannya karena Andre ada di sampingku saat ini. Selesai makan kami berkeliling-keliling pasar malam. Sesekali kami membeli lotre yang di jual orang. Tapi kami Cuma mendapatkan hadiah piring. Aku pun tertawa menghabiskan malam ini dengan keceriaan