Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 130


__ADS_3

"Arnold apaan sih? Dia itu sahabat kecil aku tau gak sih? Dia baru datang ke sini masa aku tinggalin gitu aja." oceh ku.


"Kamu kan tau aku juga buru-buru Raa, aku harus antar cincin tunangan itu dan bunganya untuk teman ku yang akan melangsungkan pertunangan hari ini." jelas Arnold.


"Ck ck ck.... Baik banget sih sama orang lain? Kenapa kalau sama aku kamu malah menindas dan membully ku habis-habisan?" tanya ku kesal.


"Karena kamu memang cocok untuk di gituin, udah jangan ngambek lagi. Nanti kita makan enak di sana." bujuk Arnold.


"Iya tapi aku kan kasihan sama Andre, dia pasti bingung aku tinggalin gitu aja tadi." ucap ku.


Arnold hanya diam dan memfokuskan diri menyetir, aku membuka ponsel ku dan berencana ingin menghubungi Andre. Tapi tidak ku lakukan saat itu karena aku masih merasa sungkan sudah pergi begitu saja dari hadapannya.


"Kamu itu terlalu polos apa gimana sih Raa? Kamu kira aku gak liat dia sudah beberapa minggu ini mengamati kamu setiap berangkat dan pulang kerja. Aku akan cari tau maksud dari laki-laki itu, sepertinya aku harus menanyakan langsung ke Zean." batin Arnold sambil sesekali melirik Tiara yang sedikit kesal.


Setelah mengantarkan bunga dan cincin ke acara pertunangan temannya Arnold menghampiri Tiara yang masih menikmati beberapa kue.


"Kamu suka makanan itu?" sapa Arnold tiba-tiba.


Aku mengangguk cepat menyetujui omongan Arnold, kenyataan memang kue-kue di sini sangat enak.


"kamu kenapa kesini? Bukannya kamu harus antar cincin dan bunga ke teman mu?" tanya ku sambil meneguk minuman ku.


"Aku hanya mengantarkannya saja, bukannya mau bertunangan. Kalau kamu menyukainya kamu bisa bawa itu semua pulang." ucap Arnold sambil menunjuk kue-kue yang ada di meja.


"Kamu mimpi ya, kalau udah selesai ayo kita pulang." ajak ku yang masih melirik kue-kue itu.


"Kenapa tidak, aku bisa menyuruh pelayan membungkuskan semua ini untuk mu. Lagian kamu memang terlalu kurus dan butuh banyak cemilan seperti ini." ledek Arnold.


Aku hanya diam tidak melawani ledekan Arnold aku yakin dia mempunyai beribu cara untuk membalas jawaban ku. Tak lama kemudian kami berpamitan dengan pemilik acara dan pulang.


"Kamu gak pulang?" tanya ku penasaran.


"Aku mau ketempat kerabat ku sebentar, ada urusan yang harus aku kerjakan. Naiklah dan gak usah keluar, hari ini dingin banget." ucap Arnold.


"Kamu sendiri berkeliaran kemana-mana." ucap ku sambil keluar dari mobilnya.


Arnold ikut turun dan membuat ku aneh, katanya mau pergi tapi kenapa dia ikut turun?. Dia berjalan kebelakang dan membuka bagasi mobil.


"Raa...." Panggilnya, aku pun mendatanginya.


"Apaan sih? Tadi kata mu mau pergi lagi." ucap ku mengomel.


"Bawa ini..." ucapnya memberi ku empat box besar yang berisi kue.


"Kamu benar-benar minta ini waktu di acara tadi?" tanya ku tak percaya.

__ADS_1


"Iya, biar kamu puas." ucapnya.


"Kamu bikin malu aja ya Arnold, aku gak nyangka kamu bakalan ngelakuin ini." ucap ku sambil menepuk jidat ku.


"Sudahlah bawa ini cepat, aku mau pergi lagi." ucap Arnold berlalu.


Setelah mengantar Tiara pulang, Arnold menuju ke apartemen Zean. Ia ingin membahas laki-laki yang sudah mengutit Tiara beberapa minggu terakhir ini. Saat tiba di apartemen Zean ia menemui sahabatnya yang sedang bersantai.


"Tumben kamu tanggal merah ke sini? Emang gak ada yang mengajak mu kencan?" tanya Zean.


"Aku tadi pergi antar bunga dan cincin pesanan orang." ucap Arnold sambil mengambil minuman di kulkas.


"Wahhh sudah ada kepedulian mu terhadap sesama sekarang ya." ucap Zean takjub.


"Bukan begitu, aku hanya menepati janji. Kamu kenapa gak keluar? Libur gini masih betah aja di rumah." ucap Arnold.


"Memang aku harus kemana dengan kondisi ku seperti ini?" tanya Zean.


"Kamu juga harus pergi ke taman sekali-kali, atau ke perpustakaan." usul Arnold.


"Taman mana yang buka di musim dingin? Aneh." jawab Zean.


Arnold hanya tertawa melihat Zean yang sedikit kesal dengan usulnya. Ia pun kini duduk di sebelah Zean dan melihat-lihat leptop Zean yang tergeletak di atas meja. Saat membukanya, nampak foto Zean dan Tiara menjadi walpaper leptop itu.


"Iya aku ingin dia hidup bahagia bersama orang yang lebih baik." ucap Zean yang masih menonton Tv.


"Tapi sepertinya hati mu berkata lain. Kalau memang ikhlas kenapa kamu masih memasang fotonya di sini?" tanya Arnold lagi.


"Itu hanya sebagai kenang-kenangan, apa salahnya." ucap Zean.


"Apa kamu sudah mempunyai kandidat atau kriteria untuk calonnya itu?"


"Dulu ada cowok juga yang suka dan sangat mengerti Tiara, dia teman kecil Tiara. Dan dia juga mengetahui kalau aku masih ada. Tapi aku membiarkannya untuk mengejar Tiara, karena aku yakin dia yang terbaik untuk Tiara nantinya." jelas Zean.


"Apa kamu yakin laki-laki itu yang terbaik?"


"Aku yakin, dan dia yang paling mengerti Tiara. Makanya aku menyuruhnya untuk maju dan memenangkan hati Tiara."


"Kalau kenyataannya istri mu itu hanya menganggapnya teman dan tak ingin mempunyai hubungan lebih? Apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku selalu menghormati keputusan Tiara, kalau pun dia tidak ingin bersama dengan Andre nantinya dan memiliki pilihan lain aku akan berbesar hati menerimanya. Asalkan itu yang terbaik buat Tiara."


"Kalau begitu, bagai mana kalau itu aku?" tanya Arnold tiba-tiba.


Zean terdiam mendengar pertanyaan dari Arnold, ia tak menyangka jika Arnold akan bertanya demikian kepadanya.

__ADS_1


"Maksud mu...?" tanya Zean balik.


"Iya, maksud ku bagai mana kalau aku juga mengejar Tiara. Apa kamu bisa merelakan dia untuk ku nantinya?" ucap Arnold memperjelas.


"Kamu bercanda ya? Gak lucu tau. Sudah aku mau istirahat sebentar." ucap Zean mengalihkan pembicaraan.


"Aku serius Zean, kalau memang benar kamu sudah merelakan Tiara berarti kamu jugabisa menerima aku untuk mengejarnya." ucap Arnold.


"Terserah mu bro, aku selalu mendukung apa pun yang akan kamu lakukan." ucap Zean yang meninggalkan Arnold.


Arnold hanya diam meliat Zean yang pergi meninggalkannya dengan jawaban yang tidak pasti.


"Sangat jelas Zean, kamu masih belum bisa melepaskan Tiara. Tapi tak apa, aku akan melihat seberapa kuatnya kamu bertahan dalam situasi ini" batin Arnold.


Arnold pun keluar dari apartemen Zean dan memilih untuk pulang. Lagian Zean sepertinya ingin menenangkan hatinya akibat pertanyaan Arnold tadi. Di sisi lain, Zean merasa bimbang akan pertanyaan Arnold barusan. Ia tak menyangka jika sahabatnya ada niat untuk memiliki kekasihnya juga.


"Arrgghhh.... Apa yang aku pikirkan. Bukannya akan bagus jika Tiara bisa bersama Arnold, dia pasti lebih baik dari pada Andre yang temperamental. Tapi kenapa hati ku malah sakit mendengar ucapan Arnold tadi? Apa mungkin benar aku masih belum merelakan Tiara untuk pindah ke lain hati? Ahhh entah lah." gumam Zean dengan hati gundah.


Nb : Assalamualaikum.


Terima kasih buat teman-teman yang setia membaca novel Perjuangan cinta istri,


*بسم الله الرحمن الرحيم*


*السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ*


*Kami sekeluarga manghaturkan :*


*Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H.*


*Taqobbalallahu minna wa minkum .*


*Barakallahu Fiikum.*


*Mohon maaf lahir n bathin.*


*Teriring do’a Semoga Allah menerima amal kita,*


*dan Semoga Allah berkenan mempertemukan kita dengan Bulan-bulan Ramadhan yang akan datang.*


*( Saya& keluarga)*


*آمِيّنْ آمِيّنْ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن*


*وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ*

__ADS_1


__ADS_2