Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 140


__ADS_3

"Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Arnold.


Aku diam dan masih menatap kosong ke arah lampu-lampu rumah yang ada di bawah sana.


"Aku tau ini berat, tapi kamu juga harus berfikir positif. Jangan sampai emosi mu membuat semuanya berantakan bahkan berujung penyesalan." ucap Arnold lagi.


"Aku..... Entahlah, saat ini aku sangat bingung dan kecewa. Bagaimana aku menghadapi mereka itu belum aku fikirkan sampai saat ini." ucap ku lirih.


Aku kembali menatap ke arah lampu-lampu rumah yang bertebaran bagai bintang di bawah sana. Memang betul tempat ini sedikit bisa membuat ku tenang dengan kejadian tadi.


"Kau tau, aku sudah lama mengenali mu." ucap Arnold tiba-tiba.


"Yaa... Yaa, Aku tau itu. Kamu kenal aku itu gak selama mereka kenal aku." ucap ku.


"Bukan, aku mengenali mu jauh lebih dulu dari saat kita ketemu. Awalnya aku sedikit terkejut dengan kedatangan mu ke sini, namun setelah tau aku selalu mendorong mu." ucap Arnold.


"Maksud mu?... Berhentilah bermain omong kosong, suasana hati ku sedang tidak baik sekarang." ucap ku.


"Kau tau Raa, aku adalah sahabat kecil dari suami mu." ucap Arnold mengejutkan ku.


"What....? kamu....?" tanya ku terbata.


"Duduk tenang dan dengarkan aku." perintah Arnold.


Suasana hati ku semakin buruk mendengar pengakuan dari Arnold, ternyata dia juga membohongiku secara tak langsung. Namun aku menuruti Arnold untuk tetap tenang dan mendengarkan ucapannya.


"Awalnya aku mau membantu Zean untuk menyembunyikan identitasnya karena menurutku mungkin itu yang terbaik buat dia tapi saat aku tau kamu ke Paris dan bekerja di perusahaan yang sama dengan ku, setelah mengetahui keadaan mu saat itu aku selalu mengamati mu. Aku selalu melihat mu memasang foto kalian di setiap tempat, dan juga kau masih memasang cincin pernikahan mu walau kau tau dia sudah tiada. Begitu pun dengan Zean yang selalu melakukan hal yang sama seperti mu, menurutku kalau memang kalian masih mencintai mengapa begitu sulit untuk bersatu? Dan aku pun menyadari jika apa yang Zean perbuat itu salah, lalu aku berniat untuk mempertemukan mu dengan Zean waktu kita mengantar file-file ke apartemennya. Sayangnya kamu hanya bertemu dengan Paul, aku mengajak mu masuk ke apartemen ku dan kamu melihat sederet foto masa kecil kami. Aku berharap kamu bisa menyadari kalau anak di sebelah ku itu adalah Zean tapi sayangnya kamu juga tidak menyadarinya. Dan kesabaran ku habis setelah tau kalau Zean menyuruh seorang laki-laki untuk mendekati mu dan membuat kehidupan baru bersamanya, laki-laki itu adalah Andre. Akhirnya aku mengancam Zean untuk merebut mu dari Andre." jelas Arnold panjang lebar.


Aku diam, tak tau apa yang harus aku katakan. Berfikir seolah-olah aku adalah sebuah bola yang bisa di oper kemana saja mereka mau. Ya... sebuah mainan yang pasrah dengan keadaan.

__ADS_1


"Mungkin aku jahat Raa, tapi aku ingin membantu kalian. Dengan begitu Zean bisa sembuh dari lumpuhnya dan kamu bisa bertemu dengannya lagi." ucap Arnold lirih.


"Lumpuh...?" tanya ku heran.


"Yaa, apa kamu tidak tau kalau dia mengalami lumpuh setelah menyelamatkan mu dari kecelakaan itu? Itulah alasannya mengapa ia melarikan diri, Zean menganggap dirinya tak pantas untuk hidup bersama mu dengan kondisinya seperti itu." ucap Arnold.


Tiba-tiba hati ku sakit, tak menyangka kalau banyak hal yang sudah di lewati oleh Zean seorang diri. Sedangkan aku bisa melanjutkan hidup dengan tenang.


"Arnold.... Apa kamu benar-benar mengejar ku?" tanya ku tiba-tiba.


"Ya, tapi aku tidak akan memaksa mu untuk membalasnya." ucap Arnold sambil tersenyum.


"Berhentilah tersenyum, itu sangat tidak cocok untuk mu." ucap ku sedikit tertawa melihat tingkahnya.


"Ya aku tau, aku laki-laki yang elegan jadi sangat di sayangkan jika aura ku berantakan dengan senyuman bodoh itu." ucap Arnold lagi.


__________________


Di apartemen Zean terdiam dengan kejadian yang barusan terjadi di depan matanya. Ia sangat tak menyangka jika melihat Tiara lagi, yang sayangnya dalam kondisi yang tidak memungkinkan.


"Apa kau yang merencanakan ini semua?" tanya Zean kesal.


"Jangan bodoh, apa untungnya jika aku yang merencanakan ini semua. Kalau pun aku mau merencanakan ini semua aku tidak akan disini dan tertangkap basah bersama mu juga." oceh Andre.


"Bagaimana dia bisa ke sini? Pasti ada suatu hal yang membuatnya bisa sampai kemari." ucap Zean.


Zean melirik kertas-kertas yang tadi di jatuhkan oleh Tiara di depan apartemennya, ia pun membaca kertas apa itu. Dan ternyata itu adalah berkas-berkas laporan akhir tahun dari perusahaan. Zean menggenggam laporan itu hingga remuk, ia menyangka jika Arnold yang ada di balik ini semua.


"Aku akan pulang, kau istirahatlah dulu. Besok aku akan mencoba berbicara ke Tiara tentang masalah kita ini." ucap Andre berdiri.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku ada hal yang harus di lakukan besok. Dan lagi mulai sekarang urus masalah kita masing-masing." ucap Zean


Andre pergi meninggalkan Zean sendiri di dalam rumahnya. Ia bergegas menuju rumah sakit, karena menurutnya hari sudah sedikit larut. Mungkin wanita itu khawatir kenapa Andre belum kembali juga. Ia mampir ke toko roti dan beberapa makanan untuk di makan di rumah sakit.


"Ahh sudah lewat jam makan malam, dia pasti kelaparan." gumam Andre.


Ia pun melajukan mobilnya dengan kencang agar cepat menuju rumah sakit. Setiba di rumah sakit ia menemuka wanita itu duduk menghadap ke jendela kamar yang tirainya masih terbuka.


"Hei... kenpa masih membiarkan tirainya terbuka, kau akan masuk angin." ucap Andre menutup tirai jendela.


"Aku hanya melihat salju turun sangat cantik dan putih." ucapnya.


"Bukannya kau selau melihat ini setiap tahun, ini bukan salju pertama mu kan? Ayo makan, maaf aku terlambat membawakannya." ucap Andre membuka bingkisan yang ia beli tadi.


"Bisakah kamu memanggil nama ku untuk selanjutnya? Setiap bertemu kamu hanya memanggil ku hei." ucap wanita itu polos.


"Bagaimana aku harus memanggil mu nona? Kau selalu terlibat masalah dan membuat ku lupa untuk menanyakan nama mu." ucap Andre sambil memotong roti.


"Panggil aku Lucy, sekarang kamu sudah tau nama ku kan." ucapnya.


"Baiklah Lucy makan makanan mu dan setelah itu beristirahatlah, aku akan menanyakan dokter tentang kondisi mu saat ini." ucap Andre.


Andre keluar dari kamar pasien dan menuju ke ruang dokter, ia ingin tau kondisi orang yang selalu membuatnya dalam masalah itu. Sedangkan Lucy sedikit senang dengan Andre yang sudah mulai memanggil namanya. Karena ia merasa sangat tidak enak bila di ajak bicara dengan panggilan yang asing baginya.


Dokter dan Andre datang untuk memeriksa keadaan Lucy, dan Lucy menuruti semua apa yang di katakan dan di perintahkan oleh dokter.


"Keadaannya sudah semakin membaik, kemungkinan besok siang sudah bisa keluar dari rumah sakit. Besok aku akan kembali dan memeriksa ulang, setelah itu kau bisa pulang." ucap dokter.


Dokter keluar dari kamar Lucy dan meninggalkan mereka berdua. Andre masih menyantap makanannya, mungkin karena sudah lewat jam makan dan ia kelaparan jadi makan sangat lahap. Lucy sedikit sedih mengetahui akan keluar dari rumah sakit, yang artinya ia akan berpisah dengan Andre.

__ADS_1


__ADS_2