
Zean pulang dengan membawa beberapa buah-buahan. Aku yang masih duduk di ruang keluarga dan menemani ayah menonton menyambut kepulangan suami ku.
"Kamu sudah pulang?" tanya ku sambil menghampirinya.
"Iya, aku membawakan mu ini. Kamu pasti membutuhkan ini saat kondisi sekarang." ucap Zean memperlihatkan sekeranjang buah.
"Aku akan mencucinya dan memotongnya, kamu temani ayah dulu ok." ucap ku mengambil buah yang di beli oleh Zean.
"Baiklah, berhati-hatilah saat memotong itu." nasehat Zean.
Aku mengangguk dan berjalan meninggalkan Zean dan menuju dapur. Zean mendekati ayah mertuanya dan duduk di sofa yang lain.
"Ayah sudah lama sampai?" tanya Zean.
"Ya, setelah kamu telepon aku langsung berangkat ke sini dengan Sugeng. Ayah kita kalian ada apa-apa, dan ternyata benar." ucap ayah tersenyum.
"Maaf karena sudah membuat ayah khawatir, aku tidak memberi tahu karena Tiara bilang dia yang ingin mengatakannya langsung." ucap Zean.
"Ya, hidup memang di penuhi dengan banyak kejutan. Kamu harus benar-benar bisa menjaganya Zean, kondisi wanita yang lagi hamil muda tidaklah semudah yang kita bayangkan. Terkadang mereka senang, dan tak jarang tiba-tiba mereka kesal bahkan menangis. Kamu harus ingat itu." nasehat ayah.
"Aku akan mendengarnya yah, awalnya aku tidak ingin Tiara ikut ke Paris untuk saat ini. Tapi dia tetap ingin ikut, aku sudah mengunjungi dokter dan berbicara padanya tadi." ucap Zean.
"Ya, dia memang terlahir keras kepala. Aku juga mengkhawatirkannya jika hanya kalian berdua di sana." ucap ayah.
"Aku akan berusaha menjaganya yah." ungkap Zean.
Tak lama Tiara membawa beberapa buah-buahan segar yang sudah di potong. Ia meletakan sepiring buah-buahan itu ke atas meja dan ikut duduk bersama suami dan ayahnya.
"Kamu makan buah begini udah makan nasi kan nduk ?" tanya ayah.
"Raa gak mau makan nasi yah, tadi aja makan nasi goreng buatan Zean hanya sanggup habisin setengah piring." ucap ku.
"Kamu harus bisa jaga diri baik-baik loh nduk, ingat ada bayi mu di sana. Kalau kamu makannya sembarangan apa gak kasian." ucap ayah sambil menunjuk perut ku.
__ADS_1
"Iya, Raa nanti bakalan coba makan sereal atau roti. Kamu gak makan ini?" tanya ku ke Zean.
"Aku akan pergi mandi dulu, kamu makanlah dengan perlahan." ucap Zean sambil mengelus kepala ku.
Aku dan ayah masih duduk di ruangan itu dan menikmati kebersamaan kami. Tak di sangka besok aku harus berpisah lagi dengan orang yang selalu ada untuk ku ini. Jadi sebisa mungkin aku ingin menghabiskan waktu bersama ayah dulu.
___________________
Dita mendatangi rumah Richard, ia benar-benar tidak sabar untuk memberi tahu tentang kehamilan Tiara. Saat akan mengetuk pintu rumah, tiba-tiba pintu terbuka dan ternyata itu adalah Naya.
"Hy Nay, kamu mau kemana?" tanya Dita.
"Kakak tau, aku sangat benci menjadi seorang adik saat ini." ucap Naya kesal.
Dita terdiam mendengar ucapan Naya, ia berfikir mungkin Naya dan Richard bertengkar.
"Kalian baik-baik saja kan Nay? Apa terjadi sesuatu di antara kalian?" tanya Dita serius.
"Aku benci saat dia menyuruh ku ke mini market untuk membeli barang-barang ini." ucap Naya menunjukan secarik kertas berisikan perlengkapan bumbu masakan dan peralatan mandi pria.
"Kamu gak jadi pergi beli apa yang aku suruh?" tanya Richard.
"Nanti aku akan belikan, sekarang ada kabar yang lebih baik di bandingkan itu semua." ucap Dita.
"Kabar...? Kabar apaan sih kak?" tanya Naya penasaran.
"Sekarang Tiara dan Zean akan punya baby." ucap Dita berterus terang.
"Hah...? secepat ini?" tanya Naya lagi.
"Iya, tadi Tiara udah pergi ke dokter untuk cek kandungan. Ahh aku gak sabar menantikan kelahiran anaknya." ucap Dita.
"Baguslah kalau begitu, ini awal yang baik untuk rumah tangga mereka." ucap Richard.
__ADS_1
Ya, syukurlah dan semoga saja ini semua akan menjadi awal yang baik bagi Tiara dan Zean yang sudah mengalami banyak hal.
Sehabis makan malam Zean memeriksa beberapa koper yang akan dia bawa besok bersama Tiara ke Paris. Ia benar-benar menyeleksi beberapa pakaian yang tidak harus di bawa agar tidak terlalu membawa banyak koper.
"Kamu masih membereskan ini semua? Sini biar aku bantu." ucap ku sambil duduk di lantai bersama Zean.
"Bii jangan duduk di lantai, nanti kamu masuk angin. Ayo pindah, kamu harus memperhatikan hal-hal kecil ini Bii." ucap Zean.
"Aku hanya ingin membantu, dan juga aku tidak akan melakukan pekerjaan yang berat." ucap ku.
"Duduklah di atas kasur, sebentar lagi aku akan selesai. Tinggal memilih beberapa baju yang tidak harus kita bawa." ucap Zean mengangkat ku.
Aku menuruti ucapan Zean dan duduk di atas kasur sambil mengamatinya yang sibuk dengan tumpukan baju.
"Lihat baby, dia benar-benar memanjakan kita sekarang. Bahkan kita tidak bisa membatunya untuk mengemas sedikit barang pun, apa kamu menyukainya. Terima kasih karena sudah hadir." batin ku sambil mengelus perut ku.
Zean menatap ku yang mengelus-elus perut, dan ia pun mendekati ku setelah menyusun semua koper kami.
"Apa ada yang tidak enak? Kamu makan sedikit sekali tadi. Ada yang ingin kamu makan, aku akan membelikannya." ucap Zean yang ikut mengelus perut ku.
"Tidak, aku hanya merasa sangat bahagia karena dia hadir di tengah-tengah kita." ucap ku sambil tersenyum manis.
"Aku benar-benar mencintai kalian, dan akan berusaha menjaga kalian sebaik mungkin Bii." ucap Zean mengusap pipi ku.
Aku tersenyum mendengar ucapan Zean dan menganggukkan kepala ku. Zean mencium kening ku dan memeluk tubuh ku. Besok perjalanan kami akan di mulai, bukan hanya kami berdua tapi ada sebuah malaikat kecil yang akan mengiringi langkah kami kemana pun kami pergi. Aku benar-benar menantikan kehadirannya yang akan menjadi pelengkap rumah tangga kami.
"Kamu tau Bii, aku benar-benar akan menantikan saat-saat aku harus berebut kasih sayang seperti ini dengan baby kita nanti." ucap Zean.
"Dan aku pasti akan lebih memilih dia." tawa ku.
"Apa kamu akan melupakan ku setelah dia lahir?" tanya Zean cemburu.
"Ya, aku akan lebih menyayangi dan mencintai dia di bandingkan dengan mu." ucap ku.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu sebelum dia lahir aku akan terus berusaha membuat mu tidak dapat melupakan ku." ucap Zean.
Aku tertawa mendengar ucapan Zean, dan Zean pun mendekatkan wajahnya ke arah ku dan menautkan kecupan mesra di bibir ku. Aku membalas ciuman Zean dan merangkulkan tangan ku ke lehernya.