Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 132


__ADS_3

Zean menemui dokter pribadinya di rumah sakit pagi-pagi sekali bersama Paul. Ia berencana akan mengambil terapi sesering mungkin agar ia bisa lebih cepat dapat berjalan lagi. Entah kenapa karena ucapan Arnold kemarin ia merasa tidak bisa untuk melepaskan begitu saja Tiara kepada Arnold. Jadi ia ingin berkonsultasi lebih banyak kepada dokternya itu.


"Kira-kira berapa lama lagi saya bisa berjalan normal dok?" tanya Zean yang masih berdiri di jalan buatan untuk terapi.


"Kalau kamu minta kita bertemu setiap hari dan dilakukan selama 2 jam sehari mungkin dalam 2-3 minggu kamu sudah bisa berjalan lagi, karena saya lihat dari latihan mu hari ini sangat besar kemajuan yang kamu miliki dari latihan yang sebelumnya." jelas dokter.


"Apa tidak bisa lebih cepat dari waktu itu dok?" tanya Zean tak sabaran.


"Mr. Zean, saya mengerti anda saat ini sangat antusias ingin cepat bisa pulih. Namun kita juga harus melakukannya sesuai prosedur, agar tidak merusak ke bagian lainnya. Andai saja waktu anda bertemu saya langsung ada semangat seperti ini, bisa jadi sekarang anda sudah pulih dan tidak perlu di kursi roda lagi." ucap dokter menyayangkan.


"Saat itu saya benar-benar drop dok, dan sekarang kekuatan saya sudah pulih lagi. Dan ada satu hal yang harus cepat saya kerjakan." ucap Zean serius.


"Saya mengerti, jadi untuk hari ini anda tidak usah memakai kursi roda lagi. Anda sudah bisa mencoba untuk menggunakan tongkat, tapi tolong di ingat Mr.Zean anda jangan memaksakan diri untuk terus berjalan." saran Dokter.


Zean pun mengikuti perintah dokter dan di bantu oleh Paul ia mencoba menggunakan tongkat untuk yang pertama kalinya. Memang terasa asing namun ini lebih baik dari pada ia harus duduk di kursi roda sepanjang waktu. Mereka pun pulang setelah urusan selesai.


"Mr. Zean anda mau makan? Ini sudah masuk jam makan siang." tanya Paul.


"Kita mampir ke supermarket dulu Paul, ada beberapa yang mau aku beli." perintah Zean.


"Baiklah, kalau begitu anda silahkan istirahat dan catat apa yang harus saya beli nantinya." ucap Paul.


"Tidak usah, biar saya saja yang berbelanja dan kamu temani saja." ucap Zean.


Paul hanya mengangguk mendengar perintah dri majikannya, ia tak ingin membuat semangat majikannya untuk bisa berjalan lagi padam. Jadi ia akan menuruti kemauan majikannya hari ini.

__ADS_1


Di rumah sakit, dokter mencoba menghubungi Arnold. Karena secara diam-diam dokter itu memang sengaja Arnold sewa untuk menyembuhkan. sahabatnya dan membuatnya pulih lebih cepat.


"Arnold saya barusan kedatangan sahabat mu itu dan dia minta di terapi secara khusus agar dapat segera berjalan." lapor dokter itu.


"Apa dia mengatakan hal lain? Kenapa tiba-tiba ia ingin menjadi cepat pulih?" tanya Arnold.


"Entahlah, saat konsultasi hari ini ia pun mempunyai kemajuan yang sangat pesat di bandingkan kemarin-kemarin. Seolah-olah ada sesuatu yang akan di rebut darinya dan ia harus mengejar ketertinggalan itu." jelas dokter.


"Baguslah, aku sangat membutuhkan bantuan anda dokter. Tolong berikan yang terbaik untuk dia." ucap Arnold sambil mematikan ponsel.


Arnold meletakan ponselnya ke meja, dan memandang Tiara dari mejanya. Tiara yang sangat fokus bekerja tidak mengetahui kalau ia sedang di amati.


"Bagus Zean, sudah saatnya kau keluar dari persembunyian mu. Kalau tidak, jangan salahkan aku untuk merebut paksa dia dari sisi mu. Karena aku tidak percaya pada laki-laki yang kau tunjuk itu. Cih... persetan dengan cinta pada masa kecil, itu bukan cinta tapi obsesi untuk memiliki." batin Arnold sambil tersenyum sinis.


___________________


"Kamu habis nangis?" tanya Arnold tiba-tiba.


"Bukan, sepertinya aku flu. Habisnya aku masih belum terbiasa cuaca disini." ucap ku sambil mengucek hidung ku.


Tiba-tiba Arnold meletakan tangannya ke dahi ku, dengan muka sedikit cemas ia pun mengendarai mobil dengan cepat dan membuat ku takut.


"Arnold, aku ada buat salah apa hari ini? Kamu kok seperti dendam kesumat sama aku." ucap ku yang takut.


"Bukan begitu, kamu bukan hanya flu biasa. Aku bawa kamu berobat sekarang juga." ucap Arnold sedikit panik.

__ADS_1


"Aku bawa obat dari Indonesia kok, kamu gak usah antar aku ke dokter. Nanti kalau udak minum obat yang biasa aku minum itu pasti bakalan sembuh." ucap ku.


"Jangan **** Raa, obat-obatan seperti itu mana mempanlah. Kamu duduk diam dan kita ke dokter sekarang." ucap Arnold.


"Tapi aku gak suka ke dokter, aku minum obat itu aja terus tidur. Aku butuh tidur lebih lama." ucap ku melemah.


"Udah kami diem jangan ngoceh lagi, kamu tidur aja di mobil nanti kalau sudah sampai aku bangunin." ucap Arnold.


Aku pun menuruti ucapan Arnold dan mencari posisi yang enak untuk tidur di mobil. Sesekali ku pandangi wajah Arnold yang serius membawa mobil. Benar-benar laki-laki impian wanita, tapi aku masih sedikit bingung dengan latar belakangnya yang bisa seenaknya masuk kantor. Tapi saat aku bertanya pada Carlo ia hanya menjawab karena Arnold sudah lama berada di perusahaan itu dan yang paling dekat dengan atasan. Jadi menurut ku itu mungkin suatu nilai plus baginya yang semena-mena.


"Raa... Raa... Ayo bangun, kita turun. Udah sampai nih." ucap Arnold


Karena terlalu lelah dan flu ini membuat Tiara melemah dan tak mendengar panggilan Arnold. Karena tak kunjung bangun Arnold pun menggendong Tiara yang masih tertidur. Ia menggendong badan Tiara sampai ke apartemen milik Arnold dan meletakkan Tiara di tempat tidurnya dengan pelan. Arnold pun mengukur suhu tubuh Tiara yang ternyata sudah demam. Dengan cepat ia menelepon dokter untuk segera memeriksa Tiara.


45 menit kemudian dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Tiara. Dengan sedikit cemas Arnold mengamati gerak-gerik dokter yang memeriksa, kalau-kalau terjadi apa-apa pada Tiara.


"Dia terserang flu dan demam, butuh 3-4 hari istirahat. Buatkan juga dia makanan yang bergizi dan hangat agar ia bisa cepat pulih." ucap sang dokter.


"Baik dok, apa ada maslah lainnya dok? Karena dia pernah mengalami operasi besar. Jadi aku sedikit khawatir." Tanya Arnold


"Tidak ada, saya sudah meresepkan obatnya. Jadi kamu bisa tebus resepnya di apotik." ujarnya.


" Baik-baik terima kasih dok." ucap Arnold sambil mengantar Dokter ke depan pintu.


Arnold kembali ke kamarnya dan melihat ke arah Tiara, baru kali ini ada seorang wanita yang tidur di atas kasur nya. Arnold menarik selimut dan meletakkannya perlahan ke tubuh Tiara.

__ADS_1


"Aku keluar sebentar ya Raa, buat tebus obat mu. Kamu istirahat dulu ok." ucap arnold sambil mengusap kepala Tiara dengan lembut.


__ADS_2