Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 91


__ADS_3

Adi pergi menghampiri dokter yang menangani Zean dan Tiara. Ia mencari info yang lebih akurat untuk pendonoran hati dan mata yang di butuhkan Tiara.


"dokter, apa semua organ di dalam tubuh manusia ini bisa cocok ke tubuh mbak Tiara?" tanya Adi penasaran


"tidak semuanya pak, ada sebagian yang cocok dan ada juga tidak sama sekali" jelas dokter tersebut


"apa selain keluarga, kecil kemungkinan untuk cocok?" tanya Adi lagi


"tidak juga pak, bahkan ada juga yang saudara kandung malah tak bisa sama sekali menjadi pendonor" ucap dokter


"saya juga ingin mencoba untuk mendonorkan hati dan mata saya dok" ucap Adi tiba-tiba

__ADS_1


"pak Adi yakin dengan yang bapak ucapkan? Soal donor mendonorkan ini bukanlah perkara main-main. Ada salah satu nyawa yang di pertaruhkan di dalamnya, salah sedikit mengambil keputusan kita akan menyesal seumur hidup" jelas dokter


"aku tau dok, tapi aku juga tidak semudah itu untuk menyerah akan kesembuhan mbak Tiara. Biarlah kesalahan mas Zean aku yang menanggung, karena aku yakin mas Zean benar-benar jera akan perbuatannya dan layak hidup bahagia"


"sepertinya Tiara adalah sosok orang yang sangat baik, sampai-sampai banyak orang yang ingin menyumbangkan organnya kepada Tiara. Saya sangat takjub melihat pengorbanan orang-orang di sekelilingnya"


"mbak Tiara layak menerima ini semua dok" ucap Adi mengakhiri pertemuannya dengan dokter tersebut.


Adi pun pergi menuju tempat pengecekan kondisi pendonor, ia mengisi beberapa lembar kertas formulir dan pernyataan untuk melakukan serangkaian tes.


"yah, ini Dita bawain makan. Ayah makan dulu ya, udah berapa hari ini ayah makan nggak makan. Nanti kondisi ayah memburuk" ucap Dita

__ADS_1


"aku belum bisa makan nduk, rasanya di kerongkongan ku ini tertancap duri tajam. Jangankan untuk makan, untuk bernafas saja sangat saki" ucap ayah dengan tatapan lelahnya


"ayah harus kuat agar Tiara juga kuat menghadapi ini semua. Kalau ayah sampai sakit, Dita yakin Tiara akan marah besar ke Dita nanti" bujuk Dita


Ayah yang mendengar ucapan Dita sedikit tersenyum, anak gadis yang ada di depannya saat ini sedang membujuk seorang tua bangka yang sangat membangkang. Dan ia pun terngiang apa yang akan dilakukan Tiara jika ia sangat ngeyel.


"ya wes, aku cuci tangan dan muka dulu. Kamu makan saja duluan, biar kita semua nggak kena semprot sama Tiara nantinya" ucap ayah berlalu sambil tersenyum


Dita pun tersenyum melihat dan mendengar tingkah laku ayah, ia pun menolehkan muka ke arah Tiara terbaring


"hey kau lihat itu? semua orang sangat rindu akan omelan mu, segeralah bangun dan bergabung bersama kami" batin Dita yang menatap Tiara

__ADS_1


Mereka pun makan bersama di ruangan tersebut, pak Sugeng pun ikut makan bersama-sama mereka. Sedangkan Richard dan Naya berpamitan untuk pulang kemarin, karena pekerjaan yang juga tak mungkin untuk ditinggalkan. Namun sesekali Richard menelepon keadaan Tiara melalui Dita, ia pun berpesan agar Dita bisa menjaga kesehatannya.


Begitu pula dengan Andre, setelah melakukan serangkaian Tes ia pun berpamitan untuk pulang. Ayah pun mengizinkan karena kondisi Andre yang sibuk juga harus di perhitungkan.


__ADS_2