
Setelah selesai membereskan semua, Dita pun berpamitan pulang. Naya dan Richard mengantar mereka ke depan. Sangat menyenangkan bisa makan malam bersama seperti hari ini.
"Kak, gimana menurut Kakak?" Tanya Naya
"Maksudnya...?" Ucap Richard tak mengerti
"Hmm, iya gimana menurut kakak, itu kak Dita?"
"Dia baik, rajin, terus pintar masak. Masakan dia tadi enak banget" puji Richard
"Iyaa, aku tau. Maksud ku, kira-kira kak Dita itu masuk ke tipe kakak nggak?" Jelas Naya
"Mungkin..." Ucap Richard sambil meninggalkan Naya
"Owh iya kak, tau nggak? Ternyata suaminya kak Tiara itu selingkuh loh" ucap Naya serius
"Iya, kemarin kan dia bilang pas kita bakar-bakar itu. Sayang banget kan, punya istri cantik gitu" ucap Richard
"Iya kak, yang lebih parahnya lagi selingkuhannya itu mantan suaminya yang dulu pernah ninggalin suaminya demi karir diri sendiri loh kak. Kok ada ya kan orang jahat gitu?"
"Ya mungkin dia belum bisa lupain wanita itu"
"Iya sih, tapi kan harusnya dia berfikir juga. Bisa jadi wanita itu juga bakalan ninggalin dia lagi kalau dapat orang yang lebih dari suami kak Tiara,ya kan?"
"Mungkin, karena biasanya wanita seperti itu nggak mudah puas dengan apa yang sudah dia miliki"
"Tapi kak Naya beda kan kak? Menurut pribadi kakak, kak Naya itu baik apa buruk?" Tanya Naya serius
"Rahasia..."
Naya pun hanya tersenyum melihat ucapan kakaknya barusan. Mungkin kah Dita telah mengetuk pintu hati Richard yang sudah lama terluka?
Aku menyiapkan makan malam ku, dan mencoba menghubungi Zean yang belum tiba di rumah. Namun, aku mengurungkan niat ku itu.
__ADS_1
"Pasti dia lagi sama wanita itu. Aku nggak usah telepon dia lah" gumam ku
Aku pun duduk di kursi dan mengambil nasi ke piring, tiba-tiba Zean pulang dan menghampiri ku di meja makan.
"Aku kira kamu pulang telat. Jadi aku makan duluan" ucap ku
"Nggak, tadi aku mampir ke toko coklat. Beliin kamu ini" ucap Zean sambil memberikan sekotak coklat kepada ku
"Kamu beli ini kok banyak banget? Makasih ya" ucap ku senang
"Iya, tiba-tiba tadi aku juga pingin makan coklat itu. Jadi aku mampir buat beli"
Zean pun bergabung dengan ku, dan kami pun makan malam bersama. Aku tak menyangka bila Zean masih mau membelikan ku coklat seperti ini.
Setelah makan, aku membersihkan meja makan dan mencuci piring kami. Zean sudah ke atas untuk mengganti pakaiannya. Tiba-tiba ponsel ku berbunyi, ku lihat itu adalah panggilan Ari Dita. Aku pun mengangkatnya
"Hmm, tumben kamu baru telpon aku seharian ini" ucap ku
"Iya, hari ini aku sibuk banget. Raa, kamu tau nggak hari ini aku ketemu siapa?" Ucap Dita
"Iihhh aku seneng banget hari ini tau nggak sih Raa, jantung ku itu rasanya mau meledak. Nih denger nih" ucap Dita sambil meletakan ponselnya ke dadanya
"Kamu ketemu siapa emangnya. Jangan bikin penasaran deh" ucap ku penasaran
"Aku ketemu Richard.... Aaaaa" teriak Dita memekakkan telinga
"Ok ok, kamu ketemu Richard. Terus...?" Ucap ku sambil menjauhkan ponsel dari telinga
"Kami makan malam banteng tau nggak, terus dia bilang aku rajin, aku pinter masak bla bla bla" celoteh Dita
"Ok ok, selamat ya saiiong kamu udah berhasil memenangkan hatinya di tahap pertama" puji ku
"Makasiihhh,,, aku harap dia ngajak aku ngedate malam Minggu nanti"
__ADS_1
"Ha ha ha amin amin semoga ya"
"Ha ha ha iya. Kamu lagi ngapain?" Tanya Dita
"Owh, aku baru selesai cuci piring. Aku sama Zean juga habis makan malam bareng" jelas ku
"Hmm tumben dia makan malam di rumah. Dia nggak pergi sama wanita itu?" Tanya Dita
"Entahlah, sepertinya nggak. Dari kami pergi hari Minggu kemarin, aku belum liat dia telpon wanita itu" ucap ku
"Apa mungkin dia udah nggak jalan lagi Ama selingkuhannya itu, jadi mau balik sama kamu lagi?"
"Hmm, nggak juga sih. Mungkin dia berhubungan di belakang ku. Jadi aku nggak tau menahu tentang itu"
"Owh gitu, terus kalau seandainya dia mau balikan sama kamu gimana? Apa kamu mau terima dia lagi?"
Aku pun terdiam mendengar ucapan Dita, belum sama sekali terfikirkan olehku tentang hal itu. Bagaimana seandainya Zean mengharapkan rumah tangga kami kembali utuh. Apa yang harus aku lakukan?
"Raa... Kamu masih di situ kan?" Tanya Dita tiba-tiba
"Owh iya Taa, sorry-sorry. Aku nggak fokus tadi" ucap ku
"Raa, apa pun keputusan kamu, aku pasti dukung kamu kok Raa. Tapi aku harap kamu bisa berfikir matang-matang akan hubungan kalian. Jangan sampai kamu terluka untuk kesekian kalinya"
"Maksudmu Taa...?"
"Maksud ku, yaa mungkin aja sekarang dia lagi ribut Ama selingkuhannya. Jadi dia bersikap baik sama kamu, dan membuat mu jatuh cinta lagi ke dia. Pas dia udah baikan sama wanita itu, aku takut kamu terluka lagi"
"Owh, aku ngerti. Jujur aku belum mikir sejauh itu sih Taa, tapi thanks ya udah ngasih saran ke aku. Jadi aku bakalan lebih hati-hati lagi"
"Raa, kamu berhak bahagia. Dan juga kamu yang harus memilih untuk saat ini"
"Iya Taa, aku ngerti. Sekali lagi aku makasih banget ya"
__ADS_1
Aku pun matikan telepon. Aku berfikir, apa yang di katakan Dita ada benarnya. Ada rasa takut di hati ku untuk menerima kenyataan apa bila ternyata aku hanya sebagai bahan pelampiasan Zean. Sangat sedih hati ku untuk menerima itu semua. Tapi bagaimana jika Zean benar-benar ingin memperbaiki hubungan kami? Aku sangat bingung memikirkan semua ini.