Perjuangan Cinta Istri

Perjuangan Cinta Istri
Bag 60


__ADS_3

Aku meletakan tas ku ke sofa, dan duduk di sana. Entah apa yang terjadi dengan sikap Zean hari ini, seolah-olah aku berbuat kesalahan. Ku rebahkan badan ku di sofa, dan ku pejamkan mata ku sebentar. Tiba-tiba Zean turun menuju dapur, dan ia mencari-cari Anggi sambil berteriak.


"Anggi.... Anggi.... kemana sih?" teriak Zean


Aku pun tersentak dan bangun dari sofa,


"kamu cariin Anggi sampe besok pagi juga nggak bakalan ketemu" ucap ku


"emang dia kemana? ini kan bukan waktunya dia pulang" ucap Zean marah


"dia izin pulang cepat tadi, anaknya sakit. Jadi aku kasih izin" ucap ku


"enak banget dia bisa pulang kapan aja dia mau. Aku gaji dia full bukannya setengah" ucap Zean


"iya namanya juga anaknya sakit. Lagian kamu ada perlu apa?" tanya ku


"iya, dia pulang boleh. Tapi selesain dulu lah tugasnya. Aku mau makan" ucap Zean


"ya biasanya kan kamu nggak makan di rumah. Jadi dari pada mubazir, mending nggak usah masak, kalau kamu mau makan baru aku masakin" ucap ku menjelaskan


"mau itu aku makan atau nggak, seharusnya dia masak. Lagian kamu ngapain manjain pembantu kayak gitu"


"udah lah, biar aku masak" ucap ku menghindari pertengkaran

__ADS_1


"sudah lah, aku udah nggak butuh lagi. Memang kalian semua cuma bahagia di atas penderitaan ku"


"maksud mu apa sih? dari tadi aku pulang kamu marah terus"


"sudah lah, nggak perlu aku jelasin pun kamu sudah tau kan. Kamu sekarang senang liat kondisi aku sekarang kan?"


Aku hanya diam mendengar tuduhan Sean kepadaku. Dan meninggalkan nya sendirian di dapur.


"... owh kamu mau pergi? udah berani kamu ya ninggalin aku yang lagi ngomong. Kamu memang istri nggak berguna" teriak Zean


Langkah kaki ku pun terhenti mendengar ucapan Zean kepada ku. Aku sangat tak menyangka kata-kata seperti itu keluar dari mulutnya.


"Zean, kalau kamu ada masalah sama orang lain jangan lampiasin ke orang lain juga" ucap ku


"berhenti lah Zean, aku muak dengan ocehan mu yang nggak masuk akal. Sepertinya kamu harus menenangkan diri sendiri" ucap ku sambil meninggalkan Zean


Aku naik ke kamar ku, meninggalkan Zean sendiri di sana. Jika aku lama-lama di sana, takutnya aku tersulut emosi Zean dan menjadi hal yang lebih parah. Tapi, ternyata Zean menyusul ku.


"kamu ada perlu apa lagi?" tanya ku


"apa yang kamu bahas tadi sama Dita?" tanya Zean


"kami nggak ada bahas apa-apa. Lagian gak penting bahas soal mu" ucap ku

__ADS_1


"bohong.... Dita pasti ngolok-ngolokin aku tadi kan?" tanya Zean


"kamu gila ya Zean? kamu nuduh-nuduh orang tanpa bukti. Stres..." ucap ku


Aku menuju lemari dan mengambil surat dari kantor pengadilan agama. Aku memberikan surat itu ke Zean.


"apa ini...?" tanya Zean


"itu surat dari pengadilan agama" ucap ku


"kamu menggugat cerai aku?" tanya Zean


"iya, karena kamu sama sekali tak menggubris ucapanku selama ini. Lagian aku ingin memperjelas status kita"


"bisa ya kamu ngelakuin ini semua? Jadi kamu benar-benar ingin pisah dari aku?" ucap Zean


"kita ngga bisa sama-sama pagi Zean. Kita udah nggak sejalan" ucap ku


"jadi siapa yang sejalan sama mu? tanpa sepengetahuan aku, kamu udah menggugat aku duluan"


"aku ingin menyelesaikan secepatnya. Jadi berhenti menuduh ku" ucap ku sambil menutup pintu kamar


Zean mengetuk-ngetuk pintu kamar ku, aku hanya diam menahan emosi ku. Aku tak ingin emosi ku malah memperburuk semua yang aku susun.

__ADS_1


__ADS_2